Hari Kartini atau Hari Syahrini?

Selamat Hari Kartini!

Apa kabar Nusantara hari ini?

Apakah masih gegap gempita dengan kostum tradisional?

Dengan kebaya dan sanggul?

Serta riasan tebal?

Bahkan untuk anak-anak?

Apa yang sebetulnya kita peringati setiap 21 April?

Hari Kartini? Atau Hari Syahrini?

Kartini vs Syahrini
Kartini vs Syahrini

Teman, tahun ini tentu bukan pertama kali bagiku menikmati riuh perayaan Hari Kartini. Seperti yang sudah-sudah, para perempuan mengenakan pakaian tradisional, terutama kebaya.

Di hari istimewa ini, tak jarang kita lihat arak-arakan pawai menampilkan bocah-bocah lugu dengan riasan tebal. Bahkan cenderung menor. Kulit wajah yang lembut itu ditutup foundation dan bedak orang dewasa. Bibir yang kerap melontarkan celoteh lucu, digores lipstik merah merona. Lagi-lagi lipstik orang dewasa. Yang lebih menyiksa kalau mereka ikut memakai sanggul ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Please google it, itu model sanggul siapa?

Rasa-rasanya Kartini tidak begini. Riasan tebal lebih identik dengan Syahrini, bukan Kartini.

Foto pernikahan RA KartiniSeperti terlihat di foto di samping, Kartini tidak memakai riasan paes dan ronce melati pada seremoni pernikahannya dengan Raden Adipati Djojoadiningrat, Bupati Rembang.

Perempuan yang dipanggil ‘Trinil’ oleh ayahnya ini bahkan hanya memakai kebaya sederhana yang sedikit lebih bagus dari kebayanya sehari-hari. Tidak ada aksesoris berlebihan, hanya kalung dan bunga sederhana di sanggul menandakan ia sudah menikah. Bulu mata ‘badai’? No way!

Untuk ukuran putri bangsawan Bupati Jepara yang menguasai Bahasa Belanda dengan sangat fasihnya, bisa dikatakan Kartini nyaris tidak berhias. Perlu diingat, tahun 1904 belum ada yang namanya make-up minimalis, apalagi nude make-up look.

Jadi, sekali lagi, kita ini merayakan Hari Kartini atau Hari Syahrini?

Fakta kesederhanaan ini aku tahu dari buku Herdiana Hakim berjudul Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta. Buku tersebut berkisah tentang seorang wanita modern bernama Jenny yang tersesat di tahun 1900, tepat di kamar Kartini. Selama empat tahun ia tinggal bersama Kartini, Kardinah, dan Roekmini.

11011702_10205523474179897_7234495852146868466_nDengan riset mendalam, Herdiana melarutkan fakta sejarah Kartini ke dalam novelnya dengan apik. Dengan cara ini, ia sukses membawa pembacanya seolah-olah hidup bersama Kartini.

Bagi orang awam yang sekedar mengenal Kartini dari lukisan wajahnya yang menempel di dinding kelas, banyak fakta mengejutkan aku temukan di sini. Misalnya, Kartini mendapat beasiswa melanjutkan studi di Universitas Leiden dari Pemerintah Belanda sendiri. Ia senang, namun kemudian menolaknya atas saran Jacques Henry Abendanon dan istrinya, Rosita-Abendanon Mandri.

Buku Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta terbitan Gagas Media ini termasuk salah satu buku rekomendasi dari ku bulan ini. Kamu bisa memperolehnya di toko-toko buku terdekat. Kalau mau yang GRATIS dan DITANDATANGANI penulisnya, bantu aku ya?

Caranya:

  1. Biarkan anak-anak tumbuh sesuai usianya, tanpa make-up orang dewasa. Mereka sudah cute tanpa riasan, cantik tanpa ‘maju-mundur’;
  2. Bantu ingatkan orang-orang di sekitar kita untuk tidak merias anak perempuannya, setidaknya hingga mereka beranjak remaja dan dewasa;
  3. Tuangkan pemikiranmu tentang ‘Bagaimana seharusnya anak-anak memperingati Hari Kartini?’. Tulis jawabanmu di kolom komentar di bawah post ini;
  4. Bagi yang mempunyai akun WordPress.com, follow blog ini dengan login ke akunmu terlebih dahulu. Atau..
  5. Bagi yang belum memiliki akun WordPress, klik tombol “Ikuti” di pojok kanan bawah halaman ini, kemudian masukkan alamat email yang paling sering kamu pakai.

Gagasan paling menarik dan visibel akan menerima buku inspiratif ini secara cuma-cuma. Pemenang akan aku hubungi melalui email yang dicantumkan di #2 atau #3. Bagi yang belum beruntung, kamu bisa memperoleh bukunya di toko buku kok. Nah, kalau mau mengenal penulisnya, silahkan singgah di blognya, herdianahakim.com.

Selamat mencoba!


UPDATE

Kontes ini sudah ditutup. Terima kasih partisipasi teman-teman semua.

Selamat buat Neser Ike dan Zuhrufi! Buku Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Semoga suka, dan selamat membaca!

Kota Lama Herdiana

Iklan

5 pemikiran pada “Hari Kartini atau Hari Syahrini?

  1. Memaknai Kartini?
    Selain emansipasi, sepertinya yg perlu kita ingat dari beliau adalah surat-surat yg pernah dikirimkannya…
    Hal itu menunjukkan keberanian beliau untuk mengemukakan pendapat, meskipun melalui tulisan..
    Kenapa kita tidak merayakan Hari Kartini dg mengajak anak2 menulis surat dan mengirimkannya kepada teman-temannya di daerah lain yg agak terpencil
    Sepertinya menarik, saling memberi kabar dan bercerita..

    *Terinspirasi dari surat yg pernah aku kirimkan ke murid salah satu Pengajar Muda yg ada di Palembang dan kegiatan Kelas Inspirasi Magetan yg mengirimkan surat ke SD di Lebak Banten..

  2. Bagaimana seharusnya anak-anak memaknai hari Kartini,
    Saya rasa bisa dengan mengajarkan permainan kecil yang dulu dimainkan oleh Kartini,
    dari buku yang pernah saya baca, Kartini sewaktu kecil cukup’bandel’ untuk anak perempuan dimasanya,
    Ia sering menghilang dari pengawasan dari pengasuhnya untuk bermain, yaa namanya juga anak kecil, memang seharusnya mereka bermain. Ajak mereka bermain dengan permainan sederhana namun mampu membuat anak tetap berpikir bahkan bekerjasama dengan temannya, mungkin galah hadang, atau congklak pun boleh,
    Bisa juga dengan mengadakan lomba bercerita tentang Kartini, dengan bercerita anak-anak dapat mengetahui tentang Kartini. Menceritakan bagaimana semangatnya Kartini belajar, besar keinginannya untuk bersekolah, dan bagaimana Kartini tetap berusaha menimba ilmu meski hanya dari rumah. Menurut saya ini jauuh lebih baik dari pada lomba mirip “Kartini” anak-anak didandani kemudian diminta berjalan lenggak-lenggok bak model, entah mirip disebelah mananya dengan Kartini, yang selalu berjalan menunduk didepan orang tuanya, yang sederhana dan tidak pernah adu cantik.

  3. Menurut gue Hari Kartini gak ada hubungannya sama Syahrini. Itu cuma efek dari tren kreativitas berlebihan masyarakat digital sekarang aja, e.g. meme-meme yang ada.

    Karnaval anak-anak di Hari Kartini sudah ada dan menjadi kebiasaan jauh sebelum saya lahir ke dunia. Dengan semangat suka cita para orangtua mendandani anak-anak mereka, memakaikan kostum daerah maupun kostum profesi kepada si anak. Bukan hal yang jelek menurut saya. Tanpa event yang fancy, mungkin momen Hari Kartini tidak akan membekas di ingatan kita. Seperti halnya kemarin pagi ketika saya dan teman-teman kantor berangkat kerja melewati barisan pawai anak-anak TK, kami otomatis bernostalgia cerita dulu pada pakai baju apa… kilas balik singkat sejarah RA Kartini…

    Fokus Hari Kartini bukanlah masalah make up anak-anak yang lebay. Ya namanya juga karnaval, setaun sekali gak dosa. Ngapain juga disambung-sambungin sama Syahrini. Kalo Syahrini tidur gak pake cuci muka pun saya gak heran. Lagipula, disamping karnaval ada banyak lomba-lomba yang mendidik. Jadi kegiatannya gak semata-mata pesta kostum aja.

  4. Bagaimana seharusnya anak-anak memaknai hari kartini? Kalau menurutku biarkan apa yang mereka inginkan, berikan kebebasan berekspresi dengan memantau tanpa banyak melarang, dan apabila pilihan mereka kurang tepat untuk usia mereka, diingatkan, kasih contoh yang baik seperti apa, jangan membatasi ide-ide mereka untuk tumbuh menjadi dewasa sebagaimana mestinya 🙂

    @peri_hutan

  5. ‘Bagaimana seharusnya anak-anak memperingati Hari Kartini?’

    Yang ditiru seharusnya adalah semangatnya untuk mencari ilmu. Jadi kalau mau mencari “Kartini cilik masa kini” seharusnya yang dipilih adalah yang paling bagus prestasinya. Bukan paling cantik wajahnya, paling bagus kebayanya, atau paling bagus lenggak-lenggoknya.

    Kalau ingin mengadakan lomba, seharusnya lomba menulis surat, menulis puisi atau berkreasi dengan hal lain yang berhubungan dunia tulis menulis.

    Anak-anak dikenalkan dengan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dengan begitu anak-anak akan lebih semangat untuk belajar membaca dan menulis. Siapa tahu mereka terinspirasi untuk menjadi seorang penulis.

    Atau bisa diisi dengan kegiatan bakti sosial ke sekolah-sekolah luar biasa atau panti asuhan untuk memupuk rasa empati sejak dini. Atau menyumbangkan buku dan ilmu. Anak-anak belajar menjadi guru, membacakan buku cerita atau mengajar berhitung, mengajar alat musik. Mengajar apapun sesuai dengan kemampuan mereka. Dengan begitu semangat Kartini untuk mencerdaskan anak bangsa akan tumbuh juga di hati mereka.

    Semangat Kartini adalah semangat untuk berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s