Digital Detox: Apa, Gimana, dan Betapa Nggapleki-nya

Digital Detox

Tanggal 3 – 5 April lalu, aku mencoba Digital Detox yang pertama. Selama menghirup udara Surabaya, aku puasa gadget seperti smartphone, tablet, dan laptop. Tiga hari dua malam berdetox, membawa cukup banyak perubahan terhadap perilaku digitalku. Sebelum bercerita tentang pengalaman Digital Detox, perlu untuk tahu asal-usulnya biar nggak salah paham.

Apa sih Digital Detox?

Menurut Kamus Oxford, Digital Detox is a period of time during which a person refrains from using electronic devices such as smartphones or computers, regarded as an opportunity to reduce stress or focus on social interaction in the physical world. Suatu masa dimana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone atau komputer, sebagai salah satu kesempatan mengurangi stres dan fokus pada interaksi sosial di dunia nyata.

Aku nggak tahu pasti, sejak kapan Digital Detox ini jadi tren. Aku sendiri baru mendengar istilah tersebut dari Mbak Nuniek Tirta Ardianto yang waktu itu baru pulang dari Singapura dan melakukan Digital Detox selama ada di sana. Setelah browsing, ternyata hal tersebut bukan hal baru. Bahkan ada suatu agensi yang khusus mengatur liburan Digital Detoxmu.

Kenapa harus Digital Detox?

Buatku, Digital Detox = Reboot. Disconnect to reconnect. Ada banyak alasan kenapa kita perlu melakukan Digital Detox. Frances Booth, wartawati sekaligus penulis buku  ‘The Distraction Trap: How to Focus in a Digital World’ bahkan mampu menjabarkan 30 alasan kenapa ber-Digital Detox di Forbes yang bisa kamu simak di tautan ini.

Aku pribadi mencoba Digital Detox karena sangat sangat butuh ruang untuk berinteraksi secara total dengan teman-teman selama long weekend di Surabaya kemarin. Jadi begini. Aku dan adik pergi ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan sahabatku. Acara tersebut sekaligus ajang kumpul formasi lengkap dengan sahabat lama semasa kuliah. Ini momen yang langka mengingat kami sekarang bekerja di kota yang berbeda-beda. Dan aku nggak mau menggadaikan sedetik pun kebersamaan itu dengan apapun yang muncul di layar smartphone dan tablet.

Mudahkah menjalani Digital Detox?

Sangat tidak mudah! Apalagi bagi Ms Tap Tap sepertiku. Pada percobaan Digital Detox pertama ini, aku cukup tahan dari godaan online. Namun aku tak cukup tegar melawan hasrat foto-foto. Hehehe…

Selama berada di Surabaya, ada 9 momen yang membuat gatel buka perangkat digital:

  1. Belum selesai menerjemahkan kuesioner. Urusan kantor sih, tapi hari Senin harus dikirim ke klien, padahal progresnya belum seberapa. Dengan kata lain, harus disempatkan buka laptop sambung wifi hotel. Umm.. me kerjaNggak ah, bismillah diselesaikan di kereta Jakarta – Gresik. Sak marine. Setelah itu, shut down, laptop masuk brankas kamar hotel. Nisa yang kunci.
  2. Malam pertama di Surabaya, janjian kongkow dengan Aghast. Jam 7.30 di de’Excelso Biliton, katanya. Dekat dari hotelku, G Suites, tapi arahnya ke mana ya? Di perempatan Jalan Jawa harus ke kanan atau ke kiri? Kok nggak ada mas-mas yang bisa ditanya? Google Map, plis!
  3. Akhirnya ketemu juga di de’Excelso. Ternyata ada di Jalan Sulawesi, bukan Biliton. Hmpf. Untung tempatnya lumayan kece. Bikin pengin check-in Path. Ah, lupakan.
  4. Sabtu pagi menyewa mobil Fahmi bersama gengs kesayangan pernikahan Elly di rumahnya di Bangkalan. Jalan yang pernah ku lewati dulu ditutup. Ok, ada Pak Tua yang bisa ditanya. “Ini keri, bla bla bla..” tangan Pak Tua menunjuk ke segala arah, bahkan berputar bersama badannya. Dia sangat ramah. Tapi tidak satupun di antara kami mengerti Bahasa Madura. Yeah, we got lost in translation. Aku tahu Google Translate tidak mampu memecahkan misteri Pak Tua ini. Tapi mungkin teman Facebook-ku bisa. Ah, abaikan.
  5. Elly cantik banget! Seisi grup Whatsapp Statistika 2007 harus lihat. Jepret-jepret, share! Elly's weddingNo, don’t! Abort Mission! 
  6. Dalam perjalanan pulang dari syukuran pernikahan, kami masih sulit percaya Elly yang lugu itu akhirnya menikah. Arsip memori kuliah dengan Elly pun berkelebatan di kepala. Heboh kami mengenang masa indah itu, dengan hashtag: #DanHariIniEllyRabi. Hashtag wacana. Nggak bisa update. Terimalah.
  7. Hari Minggu janjian dengan Septin dan Alin di Marugame Udon jam 11 siang. Jam 11.45, nggak kelihatan batang hidungnya. Minta ditelpon banget. Ah, kalau jodoh juga nggak kemana.
  8. Janjian sama Rulita di GATF sambil gangguin dia kerja. Mungkin karena niatnya ganggu kerja, baunya nggak kecium di Atrium TP3. Whatsapp mana, Whatsapp? Tata, aku, NeserEh, HT ya? Sekarang masih jaman pakai HT ya? Baiklah..
  9. Akhirnya jam 1 siang bisa ketemu Alin versi 1.2 dan Septin. Untung ada Neser yang buka Path dan baca komentar Septin. Kami bertemu di Haagen Dazs, dan sialnya aku dicoba dengan penyajian es krim yang menggoda. Nggapleki! Hampir saja ku upload foodography es krim-es krim itu. But.. let’s just take a selfie!Selfie Alin

So, tertarik coba Digital Detox? Coba saja, yang penting semuanya dipersiapkan dengan sangat matang sebelum detox. Pastikan kerjaan beres, nggak akan diuber-uber klien, lunasi hutang-hutang biar nggak diburu tukang kredit. Digital Detox bukan aksi menghindari tanggungjawab, gais. Satu lagi. Kalau berencana bertemu seseorang, putuskan waktu dan tempat sebelum detox, pastikan tidak ada satu pun diantara kalian yang nggak on-time. See? Detox ini melatih ketepatan waktu juga kan?

Pulang dari Surabaya, aku agak lebih ‘malas’ buka HP. Kereta mendekati Semarang, barulah aku online. Dengan kata lain, sekitar 3 jam perjalanan, tanpa sadar aku sudah nyaman dengan detox. Kalau ini terdengar aneh, berarti kamu wajib banget Digital Detox dan merasakan ke-gaplek-annya.

Selamat mencoba! 🙂

 

Special thanks untuk Nisa yang mendampingi aku selama detox hingga tuntas
Special thanks untuk Nisa yang mendampingi aku selama detox hingga tuntas

Follow blog ini supaya kamu jadi yang paling update dengan pengalaman baru dan seru. Pssssstt..!! Ada giveaway di beberapa postingnya lho..

Iklan

2 pemikiran pada “Digital Detox: Apa, Gimana, dan Betapa Nggapleki-nya

  1. Kl saya sih, digital detoxnya khusus suami kl dia sdah smpe rmh, msk rumah, sgala bntuk email, sms, telp urusan kantor harus diabaikan. Kl dturuti g selse2 itu kerjaan, istrinya dicuekin mulu T_T
    *eh, curcol 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s