Mengantar Noni Klaten, Menjemput Hawa Wageningen (1)

Gandaria City jam 9 pagi, sunyi dengan aspal basah sisa hujan semalam. Sementara itu, di bangku panjang samping pintu silinder berputar duduk seorang cewek dalam balutan celana jins panjang dan kemeja kotak-kotak. Kain paris di kepalanya pun jauh dari mewah.

Semburat gelap di kantong mata tak mampu menyembunyikan perjalanan panjang yang ditempuhnya semalam. Sekitar 24 jam lamanya ia harus menahan semangat melepas rindu pada tanah air. Sudah lebih dari setahun Evi menuntut ilmu di Wageningen University, Belanda. Berkat dukungan dana dari LPDP, lulusan Fakultas Kehutanan UGM ini bisa melenggang ke perguruan tinggi impian tanpa hambatan finansial.

“Hai!” Aku mengejutkannya, “Aaaa!! Kangeeenn!!” Ku peluk dia erat. Sontak Evi berdiri, menyambut peluk kangenku. Tidak banyak yang berubah darinya, masih hangat dan ramah.

“Ya ampun Jeng, aku juga kangen banget. Piye, piye? Kita ke DP naik apa? Aku nggak ngerti jalannya.” Belanja jilbab di Galeri Dian Pelangi adalah agenda pertamanya saat menginjak tanah air. Tentu saja setelah hibernasi memulihkan jet lag. Dan tugasku adalah mengawalnya hingga tiba di galeri dengan selamat, sentosa, dan sejahtera. Hehe..

“Haha.. Naik taksi aja ya. Sebenernya aku yo nggak ngerti. Modal Google Maps nyampe lah. Hahaha…” kataku seraya menunjukkan aplikasi yang dimaksud di iPad.

Di dalam taksi menuju Menteng, kami tak hanya melepas kangen, update kabar satu dan lainnya. Aku sempat memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan ambisius. Sok-sok jadi wartawan gitu deh. Kalau dirangkum dan disaring, berikut adalah petikan tanya-jawabku dengan cewek Klaten ini.

Di depan gedung Forum, ikon Wageningen University
Di depan gedung Forum, ikon Wageningen University

Gimana kuliah? Sejak kapan sih pengen kuliah ke luar negeri?

Keinginan mungkin sudah ada sejak kecil, tapi niat untuk benar-benar malanjutkan studi di luar negeri baru muncul ketika duduk di bangku S1, tahun ketiga tepatnya. Waktu itu ada salah satu dosen muda yang baru menyelesaikan studi S2 di Belanda, dan beliau berbagi pengalaman selama menjalani kuliah di sana. Dari mendengarkan pengalaman beliau itulah muncul minatku untuk meneruskan studi ke jenjang S2 di luar negeri.

Menurutmu, keren nggak sih belajar di luar negeri?

Keren. Bayangkan bila sebelumnya kita kuliah di universitas dengan peringkat 500 besar dunia, dan tiba-tiba mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di kampus 200 besar dunia. Itu saja sudah prestasi yang membanggakan. Dengan belajar di luar negeri, spektrum wawasan kita bertambah luas karena kebijakan ataupun case study yang dipelajari di kelas tidak hanya dari negeri sendiri, tetapi juga dari seluruh dunia. Juga, banyak pengalaman yang didapat karena bertemu dengan orang-orang yang beragam latar belakangnya. Kuliah di luar negeri juga membuat kita jadi lebih mandiri dalam banyak hal.

Dulu dapat informasi dari mana?

Pertama kali dapat info tentang Wageningen University adalah dari rekomendasi dosen. Selanjutnya cari-cari informasi tambahan lain seperti dari brosur dan internet. Untuk beasiswa yang mensponsori saya sekarang, informasinya aku dapat dari internet. Inget nggak waktu aku ditolak beasiswa Erasmus Mundus program Sufonama? Setelah itu aku lanjut daftar ke Wageningen University dan alhamdulillah diterima. Aku dikirimi Letter of Acceptance dari kampus, namun belum punya funding waktu itu. Sejak itu saya rajin-rajin cari informasi di internet dan Alhamdulillah lagi dipertemukan dengan LPDP.

 Wew, cool! Trus apa saja yang dipersiapkan waktu itu untuk memenuhi syarat-syaratnya?

Ada dua checklist yang harus dipenuhi: untuk registrasi ke universitas dan LPDP. Sebenarnya syarat untuk keduanya standar saja: ijazah, transkrip, CV, IELTS report, motivation letter, dan passport. Untuk universitas ada dua dokumen tambahan yaitu abstrak skripsi dan surat keterangan tentang grading system dari universitas asal. Sedangkan untuk LPDP, dokumen-dokumen tambahannya antara lain: dua berkas essay (dengan tema yang sudah ditentukan), surat rekomendasi dari tempat kerja, study plan, dan Surat Pernyataan dengan template yang sudah disediakan oleh LPDP.

Tapi kenapa Belanda, atau, kenapa Wageningen?

Pertanyaan ini pernah ditanyakan ketika aku wawancara beasiswa. Sebenarnya bukan negara yang jadi pertimbangan saya, namun program yang ingin saya ambil. Background saya adalah Kehutanan. Di bidang ini, Wageningen University menempati ranking terbaik kedua di dunia setelah UC Davis (AS) menurut QS World University Rankings. Jadi untuk background aku, Wageningen University adalah kampus yang paling tepat untuk menjalani studi S2. Saya prefer kampus di Eropa dibanding Amerika. Meskipun pada akhirnya aku pilih program Environmental Sciences, Wageningen University tetap jadi pilihan pertama mengingat universitas ini masih menempati peringkat 10 besar terbaik dunia untuk bidang ilmu lingkungan. (bersambung)

Iklan

4 pemikiran pada “Mengantar Noni Klaten, Menjemput Hawa Wageningen (1)

  1. mbak boleh tau nama teman mbak yg sedang kuliah di wageningen? saya sedang membutuhkan informasi tentang tempat tinggal di wageningen karena saya dan teman-teman akan menghadiri konferensi mahasiswa indonesia di wageningen univesity dari PPI Wageningen. terima kasih 😉

  2. Halo salam kenal, nama saya Novita Sari.
    saya lulusan Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin.
    saya berencana melanjutkan S2 di Univ. Wageningen juga.
    kalo berkenan apa saya bisa tahu nama facebook kamu apa ? ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s