Bubur Rasa IELTS

Ku beri tahu satu rahasia. Ini tentang bagaimana cara menikmati salah satu menu Ta Wan, yaitu Bubur Telur Asin & Ayam Phitan di siang bolong.

Pertama, pastikan kamu sedang dalam kondisi betul-betul butuh kehangatan. Kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh sengatan sinar matahari saja. Misal, lagi jomblo, atau flu.

Kedua, jangan makan ketika hati dan pikiran gundah gulana putra petir. Misal, saat menunggu giliran tes Speaking untuk IELTS.

Faktanya, dua hal itu yang aku rasakan kemarin, menyantap menu favorit dalam kondisi yang “enggak banget”. Akhirnya, bubur telur asin ayam phitan itu malah jadi Bubur Ngilu Rasa IELTS, dan inilah yang akan aku ceritakan di posting kali ini.

IELTS at IALF

IELTS, “Makanan” Apa?

Seringkali aku bilang IELTS itu seperti TOEFL, salah satu alat ukur kemampuan berbahasa Inggris. Ada 4 kompetensi yang diujikan, Listening (Mendengar), Reading (Membaca), Writing (Menulis), dan Speaking (berbicara). Dan ada 2 tipe soal, Academic dan General. Academic IELTS untuk keperluan studi, topik soal-soalnya lebih ilmiah. Meski demikian, tidak diperlukan ilmu atau pengetahuan ekstra dalam menjawab soal. Apapun latar belakang pendidikannya, sama saja.

Readingnya kurang lebih seperti ujian membaca pada umumnya, tapi tingkat kesulitannya bagiku lebih menantang. Jarang ada pertanyaan “main idea”, dan jawaban dari pertanyaan tidak di-state atau disebutkan di bacaan. Biasanya pakai sinonim atau teknik lain seperti struktur kalimat yang berbeda. Ada 40 pertanyaan dengan 3-4 bacaan panjang. Untuk waktu 60 menit, ini nggak gampang buatku. Contoh soal reading bisa dicicip di sini.

Listening IELTS ini ngeri-ngeri sedap. Perlu dicatat bahwa soal pilihan ganda dalam IELTS kurang dari 25%. Kebanyakan adalah isian dengan batasan tertentu. Misal, untuk listening ada batas jawaban tidak lebih dari satu kata dan/atau satu angka. Batasan ini tergantung konteks soalnya. Yang bikin ngeri, kalau kita salah spelling satu huruf ย saja, tetap salah. Menantang, kan? Contoh soal Listening ada di sini.

90% orang Indonesia yang saya temui punya masalah di Writing IELTS. Padahal yang namanya Writing ya nulis saja. Saja? Hehe.. Memang sulit, aku mentok di band 5. Writing terbagi jadi 2 part (bagian). Part 1 mendeskripsikan gambar, grafik, denah, atau undangan dalam 150 kata. Part 2 menjelaskan suatu tema, menguraikan pandangan tentang tema tersebut dalam 250 kata. Waktunya? Secara keseluruhan adalah 1 jam. Tuntutannya bukan sekedar menulis panjang, tapi koherensi, pilihan kata, dan tentu saja grammar. Ini nih yang bikin tangan keringetan. Silahkan intip link ini untuk contoh soal.

Yang terakhir adalah Speaking. Kalau Writing IELTS menguji kemampuan berbahasa Inggris formal, Speaking mengajak kita berbahasa Inggris informal. Informal itu ya dengan pitch yang natural, kosa kata pergaulan seperti idiom, phrasal verb, dan sebagainya. Serunya, kita menghadapi manusia yang namanya Examiner pada ujian Speaking. Di bagian pertama, Examiner akan bertanya tentang keseharian kita seperti pekerjaan, film kesukaan, makanan favorit. Bagian kedua, kita diberi suatu topik, mirip Part 2 Writing, kemudian dijelaskan dalam 2 sampai 3 menit. Di bagian ketiga, topik ini dikembangkan menjadi interaksi tanya jawab dengan Examiner native speaker. Dengan tingkat kesulitan ini, kebayang kan rasanya bubur Ta Wan waktu nunggu giliran Speaking Test? O ya, contoh soal, recording, dan sample bisa mengunjungi link ini.

toefl-vs-ieltsBedanya sama TOEFL?

  1. TOEFL itu dari ETS yang notabene berbasis di Amerika, sedangkan IELTS dari Cambridge, Inggris.
  2. Cara mengukur kedua alat ini jauh berbeda. TOEFL lebih pada menjawab pertanyaan yang mirip-mirip Ujian Nasional. Kalau kamu jeli, dan rajin belajar struktur Bahasa Inggris, TOEFL cocok untukmu. Tapi kalau kamu cukup banyak terpapar korespondensi dalam Bahasa Inggris, rasanya IELTS lebih sesuai. Ini atas nama cari nilai baik lho ya.
  3. Ada istilah ITP dalam TOEFL, alias Institutional Test Preparation. TOEFL ITP diselenggarakan institusi-institusi tertentu yang sudah dapat ijin dari ETS. Ada juga TOEFL iBT, Internet Based Test. Kalau IELTS ya cuma satu, tidak ada istilah IELTS ITP, iBT, dan sebagainya.
  4. TOEFL lebih murah daripada IELTS. Harga sekali tes TOEFL ITP di US Education sekitar Rp 300.000, dan TOEFL iBT USD 175. Harga tes IELTS di IALF USD 195, di UTC sedikit lebih murah, GBP 120 atau USD 190.

Kenapa TOEFL lebih terkenal daripada IELTS di Indonesia?

Selain relatif lebih murah, sistem ujian TOEFL ITP tersebar di berbagai lembaga bahasa asing di Indonesia. Bahkan tidak sedikit ujian Bahasa Inggris biasa yang latah jadi TOEFL, padahal bukan. Di kampus, tempat les, semua jualan TOEFL. Selain itu, telinga orang Indonesia lebih familiar dengan American English daripada British atau Australia.

Makan IELTS atau TOEFL?

Makan bubur aja. Halah! Hehe..

Pertama, lihat tujuannya. Kalau kamu cari sertifikat untuk melanjutkan studi di luar negeri, aku merekomendasikan IELTS. Menurut ilmu sok tahuku, komprehensi yang diujikan di IELTS adalah apa yang akan kita hadapi sehari-hari di sana. Menulis, berbicara dengan teman dan presentasi, baca jurnal panjang, menyimak, dan lain-lain. Tapi kalau kamu perlu sertifikat Bahasa Inggris untuk syarat kerja, atau syarat lulus, mending TOEFL deh. Selain lembaganya lebih mudah didapat, media belajarnya juga lebih banyak.

Kedua, lihat budget. Seperti yang sudah disebutkan, IELTS jauh lebih mahal daripada TOEFL ITP. Karena itu, kalau mau ambil IELTS sangat disarankan untuk kursus IELTS Preparation jauh-jauh hari. Atau paling tidak baca buku-buku IELTS dan download materi IELTS Practice Test. Jujur, semua itu sangat menguras kantong. Karena mehong, kalau scorenya jelek itu pasti sakit hati banget. Nah, kalau budget terbatas, ambillah TOEFL ITP. Selain lebih murah, banyak lembaga bimbingan belajar yang menyediakan paket persiapan TOEFL dengan harga terjangkau. Buku-bukunya juga beredar di mana-mana.

Ketiga, pertimbangkan aksen yang lebih akrab di telinga. Gaya TOEFL itu keAmerika-Amerikaan, sedangkan IELTS keInggris-Inggrisan. Tidak hanya aksennya, pilihan katanya pun demikian. Selain itu, kebanyakan perguruan tinggi di Amerika dan negara lain menggunakan TOEFL. Sekarang mulai banyak yang menerima IELTS juga. Lucunya, Inggris dan negara persemakmurannya mensyaratkan IELTS, dan sedikit sekali yang menerima TOEFL.

Hasil IELTS bisa diperoleh 13 hari setelah ujian. Kalau kepo, hasilnya bisa dilihat online atau tunggu sertifikatnya datang. Ini nih bentukan sertifikatnya.

Sertifikat IELTS

Sekarang sudah tahu kan Bubur Rasa IELTS? Enak tapi asrep karena bikin deg-degan. Pertanyaan, koreksi, komentar, silahkan.. Kalau mau terima update terus dari blogku, bebas klik “Follow” juga. Terima tengkyu!

Iklan

Satu pemikiran pada “Bubur Rasa IELTS

  1. mb tikaaaa, komplit postingannyaaa toefl vs ielts nya…
    mb, ielts preparation yg high recommended dmn?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s