Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar

Ini adalah surat terbuka buat kamu, Pandji Pragiwaksono, komika stand-up comedy yang doyan banget mengkritik negaraku, Indonesia. Dari judul karya-karya kamu saja sudah terlihat antusiasme menjadikan negara ini jadi lebih baik. Indonesia Free, Nasional.is.me, Merdeka Dalam Bercanda, Mesakke Bangsaku, dan sebagainya.

Merdeka Dalam Bercanda adalah salah satu show stand-up comedy yang bisa aku nikmati. Salah satu bitmu waktu itu kamu mengangkat Kota Padang. Bis kota di Padang memang menarik dengan gambar-gambar air brush. Selain trayek, orang Padang cenderung memilih bus dari gambarnya. Bit ini sudah disinggung di buku Nasional.is.me yang dipublikasikan beberapa tahun sebelum Merdeka Dalam Bercanda.

Dear Pandji yang nasionalis abis, Padang nggak cuma ada bis kota. Akhir Oktober kemarin aku membuktikannya. Bersama hampir 200 karyawan kantor. Kami outing ke Padang sambil mengasah rasa nasionalisme.

Mbak Fannie di terminal 2F mungkin udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang
Mbak Fannie di terminal 2F udah berangan-angan serunya perjalanan ke Padang

Kami berangkat dari Jakarta hari Kamis, 24 Oktober 2013, tapi koper kami sudah lebih dulu berangkat untuk check-in. Karena rombongannya banyak, kami terbang dengan 2 pesawat Garuda Indonesia, dan 2 pesawat maskapai lain. Untungnya aku di Garuda. Aku suka muzak Garuda, The Sounds of Indonesia karya Addie MS. Selain diperdengarkan alunan lagu-lagu tradisional Indonesia, kami disambut di pesawat dengan halo-halo, eh announcer, “Selamat datang rombongan…” Spontan satu pesawat langsung sorak-sorak bergembira, walau rada alay sih. Maklum, kami nggak pernah disambut sehangat ini. Saking senengnya, kemudian aku daftar Garuda Frequent Flyer (GFF). Enaknya ambil penerbangan pagi, pemandangan garis pantai Jawa – Sumatera jadi suguhan paling indah dari jendela pesawat.

Pemandangan garis pantai Sumatera dari jendela Garuda
Pemandangan garis pantai Sumatera dari jendela Garuda

Dear Pandji, kamu harus tahu kenapa supir bis kota dari Sumatera setirannya lebih berani. Coba aja ke Danau Maninjau lewat Kelok 44. Bayangin ya, medan menuju Danau Maninjau itu berupa lembah bukit, melintasi 44 kelok yang sangat tajam, sempit pula. Kami kerap dibuat ngilu setiap bis kami (yang nggak ada airbrushnya) berpapasan dengan kendaraan dari arah lawan. Itu adalah momen dimana aku jadi sangat beriman karena seketika ingat dosa-dosa sepanjang hidup dan banyak istighfar. Tapi begitu sampai di puncak, sumpah indah banget! Kamu pasti lupa jasa supir bis yang telah membawamu dengan selamat.

Di sana kami duduk-duduk di teras penginapan dengan secangkir teh hangat, menikmati pemandangan Kelok 44 dan Danau Maninjau. Danau itu membelah bukit tempat kami duduk dan bukit seberang. Sayang, kami datang saat musim hujan. Pemandangan elok itu sedikit terhalang kabut. Tapi kami sedikit terhibur dengan free flow buah durian. Eh, kamu doyan durian nggak sih?

Danau Maninjau dari tempatku duduk, berkabut.
Danau Maninjau dari tempatku duduk, berkabut.

Oya, kalau ke Danau Maninjau, tidak disarankan bawa pacar apalagi gebetan. Kalau pun terpaksa bawa, bungkus dia dengan pakaian yang sopan. Di sana ada spanduk gede yang berisi aturan-aturan adat. No sexy, NO PUBLIC KISSING. Nah lho! Kalau udah suami-istri bisa tahan sampai masuk penginapan. Tapi kalau baru pacaran? Hahahaโ€ฆ

Baca nih aturan adatnya. No sexy, no public kissing.
Baca nih aturan adatnya. No sexy, no public kissing.

Dear Pandji, kamu udah lahir belum ketika lagu Teluk Bayur mulai populer? Ternyata Teluk Bayur itu pelabuhan yang indah parah! Segaris dengannya ada Pantai Caroline. Pantai ini lebih cocok buat wisata, karena nggak ada kapal besar seperti di Teluk Bayur. Di situ kita bias menikmati kelapa segar, di bawah nyiur melambai. Anginnya sepoi-sepoi, pasirnya minta banget jadi latar foto-foto narsis. Jadi jangan heran kalau aku nggak tahan mengabadikan keindahannya.

Pantai Caroline. Keren banget, kan?
Pantai Caroline. Keren banget, kan?

Dear Pandji, kamu harus tahu wisatawan di Padang nggak cuma orang Indonesia. Banyak orang Malaysia juga, dan mereka cenderung lebih loyal. Lihat saja kotak uang pengamen ini, nggak cuma Rupiah, dia juga menerima Ringgit. Seharusnya mereka baca karya tulismu, atau mengikuti stand-up comedy kamu biar nasionalisme mereka bangkit dan nggak tergiur Ringgit.

Padang - Pengamen
Pengamen di depan rumah makan
Padang - Kotak uang
Kotak uang pengamen di Kota Padang, ada Rupiah dan Ringgit.

Selain mata uang, produk negara tetangga juga sudah masuk ke warung-warung di Padang. O ya, di sini nggak ada minimarket waralaba. Jadi kalau butuh logistik ya harus ke warung atau minimarket lokal. Yang mengejutkan, nggak sedikit warung kecil pinggir jalan jualan produk negara tetanga seperti R*d Bull. Di Indonesia, minuman berenergi ini punya nama berbeda dengan ikon banteng yang sama.

Bersanding dan bersaing.
Bersanding dan bersaing.

 

Dear Pandji yang nggak mau disponsori perusahaan rokok, aku setuju dengan tulisanmu di Nasional.is.me kalau nasi Padang di sana hampir sama dengan yang ada di Jakarta. Dan rumah tradisional orang Minang, Rumah Gadang, lebih menggugah rasa ingin tahuku daripada nasi Padang. Kami berkesempatan mengunjungi rumah gadang di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDIKM) di Padang Panjang. Di sana kami mendapat banyak pelajaran dari filosofi Rumah Gadang.

Jumlah ruangan rumah gadang selalu ganjil dengan jumlah yang sama antara kanan dan kiri. Anak laki-laki tidak tidur di rumah, tapi di surau sejak usia 10 tahun. Mereka harus belajar agama secara intensif, supaya kelak bisa jadi imam dunia-akhirat.

Luas kamar tidurnya juga berbeda. Anak perempuan yang sudah menikah dapat kamar paling kecil. Itu adalah isyarat supaya si Suami kerja keras cari nafkah dan membangun rumah baru. Enak aja nebeng Pondok Mertua Indah melulu.

Bagi masyarakat Minang, rumah gadang merupakan harta pusaka tertinggi. Harta ini diturunkan turun-temurun ke anak perempuan. Tapi jangan salah, mereka cuma punya hak pakai, bukan hak milik. Oya, selain berhak atas rumah gadang, perempuan Minang pun melamar laki-laki yang ingin dinikahinya. Tapi yang bayar mahar adalah pihak laki-laki. Win-win solution kan? Hehehe…

Rumah Gadang PDIKM
Rumah Gadang PDIKM

Ruang tamu rumah gadang ditata sedemikian rupa sehingga tuan rumah selalu hadap dalam dan tamu hadap ke luar. Dapur ada di belakang ruang tamu. Jadi kalau suguhan habis, tuan rumah tinggal kasih kode ke dapur. Hm, bertamu ke rumah gadang dijamin kenyang kali ya?

Rangkiang di muka rumah gadang merupakan bukti kepedulian masyarakat Minang. Di PDIKM Ada 4 Rangkiang, semacam rumah gadang kecil sebagai lumbung padi. Padi yang disimpan di dua Rangkiang bertiang 4 masing-masing untuk acara adat dan fakir miskin atau musafir. Padi untuk kebutuha sehari-hari disimpan di Rangkiang bertiang 6, sedangkan Rangkiang 9 tiang untuk pembangunan di kampungnya.

Sayangnya rombongan outing kami cuma 2 hari di Padang. Padahal aku belum sempat menunaikan amanat jelajah wisata kuliner dari Pak BDI. Nggak bisa extend liburan pula, karena 3 hari setelah company outing itu aku nikah. Begitu turun dari Garuda Padang – Cengkareng, langsung ke stasiun pulang kampung. Untung sempat istirahat di pesawat.

Dear Pandji, bulan depan kantorku outing ke Korea Selatan. Bit kamu tentang sistem pendidikan Korea yang ditiru Amerika akan kami uji kebenarannya, dan aku tulis di blog ini. Pun kalau kita berkesempatan terbang bareng ke Mesakke Bangsaku World Tour.

Terakhir, terima kasih banyak sudah jadi inspirasi dan motivasiku belajar tentang Indonesia, Ndji. Pesan-pesan nasionalisme kamu kena banget. Gara-gara kamu, aku bangga jadi orang Indonesia. Gara-gara kamu juga, aku turun tangan memperjuangkan Indonesia yang lebih baik.

Thanks berat, Ndji!

Iklan

9 pemikiran pada “Dear Pandji, Di Padang Nggak Cuma Ada Bis Kota Bergambar

  1. keren.. pengen ke padang jg jadinya ๐Ÿ™‚ lebih seneng ke pantainya karena aku cinta pantai ๐Ÿ˜€ goodluck tika semoga menang ๐Ÿ˜€

  2. Omong2 emang salah yo tik kalo tuh pengamen biola atau apa itu dapet ringgit? Kan itu dari orang yg ngasih kan? Tar tgal diganti ke rupiah kan.. Ga berarti ilang naaionalisme kan..

  3. Aku pun setuju dengan artikel ini, selama hampir setahun di padang, emang padang itu top bgt! orangnya juga ga kalah top bgt !

  4. itu uang asing hasil pemberian turis asing ya gan ,, wahh asik banget ya ,, jarang jarang loh tempat wisata ada orang asing yang menggunakan uang negara nya
    mantap jadi ingin nyoba dong liburan ke sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s