Benarkah Berbakti itu Tak Mudah?

Sebegitu sulitnya kah menjadi anak berbakti? Menarik semua kata-kata ke kandang, menjinakkan emosi yang nyaris menyalak, demi terhindar dari gelar “anak durhaka”.

Berpasang mata penumpang Cirebon Ekspress terlempar pada seorang kakek dan wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Dari kerut keriput kurus dan bungkuknya sang kakek, serta badan gempal si wanita make-up tebal ala tante metropolitan, kemungkinan mereka adalah sepasang suami-istri tertepis.

“Capek deh aku sama Papa!” hardik wanita itu, membangunkanku yang terlelap sejak kereta meninggalkan Stasiun Gambir.

Sang kakek bangkit, menepuk bahu penumpang di depannya.

“Pak, Cirebon berapa menit lagi ya?” tanya kakek itu nyaris berbisik.

Laki-laki yang awalnya asik bercengkerama dengan sang istri itu pun membalikkan badan. Ia tersenyum, “Masih jauh, Pak. Mungkin dua jam lagi. Kalau sudah sampai nanti diberitahu kok.”

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Udah deh, Papa duduk aja!”

Wanita itu berdiri untuk menarik lengan sang kakek agar ia duduk kembali. Si kakek menuruti.

“Papa kan nggak mau kalau kita sampai kebablasan,” ujar si kakek itu lirih namun tak mampu menyembunyikan logatnya yang ngapak, khas pantura.

“Enggak, Pa. Nanti dikasih tahu sama petugasnya. Iya kan, Mbak?”

Tiba-tiba wanita itu melempar pertanyaan padaku, tersadar perhatianku tersedot pada percakapan mereka. Aku hanya mengangguk cepat, tak berminat untuk terlibat.

“Tuh kan, dilihatin orang-orang. Papa sih nggak..”

“Ya wis kon meneng!” potong kakek gusar.

Gerbong bisnis satu Cirebon Ekspress kembali hening. Masing-masing menarik kembali pandangannya. Begitu juga denganku, mencoba mengalihkan perhatian pada kisah urban di novel pemberian sahabat.

Mataku menyimak kata demi kata dalam novel itu. Akalku mengeja nama sang tokoh dengan mantap. Sementara bola mataku menelusuri baris-baris hurufnya, sudut mata kanan masih berusaha mencuri pandang dari si tante dan kakek di samping. Kali ini aku membuktikan apa yang orang bilang, bahwa perempuan punya sudut mata yang lebih lebar dari lelaki. Sudut mata ini nyata-nyata mampu menangkap bulir air mata yang menetes, melintasi jejak bedak SK II. Pssst, sudut mataku juga yang menelanjangi dompet kosmetik wanita yang kini bungkam.

Baru tiga halaman kisah yang ku baca, sang kakek tiba-tiba berdiri meraih tasnya. Ia meninggalkan bangku abu-abu ke belakang gerbong dengan langkah tertatih. Kakek berbaju batik lusuh itu berdiri menatap kegelapan yang dilalaui kereta kami. Entah apa yang dia cari.

Anak perempuan kakek itu mengikutinya dengan langkah gontai, bersama Prada di tangan kanan dan koper Samsonite yang diseret tangan kirinya. Ternyata eyebrow cream VoV yang dibalur di alisnya tak mampu menyembunyikan kelelahan. Kelelahan yang mungkin berasal dari dalam hatinya, pikirannya, atau mungkin hanya wajahnya.

Kakek tua dan tante metropolitan berdiri di pintu samping kereta. Keduanya diam, disibukkan percakapan batin masing-masing. Dua jam berlalu. Cirebon Ekspress sudah melindas berpuluh-puluh kilometer baja rel, namun mereka masih berdiri di titik yang sama.

Aku masih tak mengerti konsep berbakti yang begitu berat bagi beberapa orang. Sempat ku dengar cerita tentang saudagar kaya yang mengikhlaskan sekotak kandang kambing untuk ibunya yang sudah renta. Konyol, ia menyebut kandang kambing itu griya minimalis. Setelah sang ibu meninggal, diboyongnya raga tak berdaya ke rumah duka, diletakkan di peti kaca, diupacarakan besar-besaran yang dibuka dengan pidato penuh haru namun dusta, tentang cinta dan hormatnya pada nenek rapuh ibu kandungnya.

Cerita lain ku dengar dari saudara jauh yang lelah merawat orang tuanya. Setiap orang yang ia temui, selalu kebagian curhatnya tentang kakek pikun lagi tolol, dan nenek tuli yang selalu emosi.

Bapak, aku, dan Ibu
Bapak, aku, dan Ibu

Dalam perjalanan ke pelukan Ibu ini, aku tak hendak mengutuk mereka yang durhaka. Aku takut kena tulah hingga menjadi tokoh-tokoh bodoh dan mengesalkan seperti mereka. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan limpahi cinta untuk ku tularkan pada orang tuaku, meski suatu hari nanti Bapak cuma bisa berhaha-hehe seraya menggosok pok ping, dan Ibu sibuk mengomentari tingkah-polah Bapak  hingga usia mengantar mereka pada-Nya kelak. Amin.

Iklan

2 pemikiran pada “Benarkah Berbakti itu Tak Mudah?

  1. berbakti itu seperti pesen kopi. ya,kopi saja,tanpa gula,creamer ato tambahan apapun. berbakti ya berbakti saja tanpa embel2 apapun. simple like that.
    keren Tjoerhat an nya,. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s