New Magnum Cafe, Beneran Kafe

“Magnum cafe ada lagi?!” Itulah pertanyaan yang kerap muncul ketika berbagai media dan jejaring sosial mulai gencar mengabarkan New Magnum Cafe. Tak sedikit pula yang terpanggil rasa penasaran untuk membandingkan Magnum Cafe dulu dan sekarang. Termasuk saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sedikit flash back, sebelumnya Magnum Cafe pernah meramaikan pasar food & beverage Indonesia di Februari 2011. Tidak hanya di Jakarta, Magnum Cafe berupa karavan pun beredar di beberapa kota besar, salah satunya Surabaya. Magnum Cafe yang ada di Grand Indonesia adalah versi permanen dengan konsep modern victorian yang istana sentris. Pengunjung alias pleasure seekers dimanjakan bak putri raja dengan desain interior yang mewah dan waitress bergaun. SWA sempat menguliknya, atau sila cek rilis Unilever.

Pengunjung membludak, Magnum Cafe yang sedianya hanya digelar 3 bulan, berlanjut hingga awal 2012. Tanggal 15 Januari, kafe tersebut resmi ditutup.  Unilever membukukan laba yang luar biasa untuk food & baverage, mendominasi lebih dari 70% perolehan keseluruhan Unilever Indonesia.

5 Juli kemarin, Magnum Cafe kembali dibuka untuk media. Agak surprise, konsep modern victorian ditinggalkan seperti yang ditulis redaktur saya, Mbak Eva. Magnum Cafe sekarang beneran kafe. Waitress Magnum Cafe mengenakan polo-shirt coklat, celana gelap dan round hat. Kalau diperhatikan lagi, Magnum Cafe membedakan seragam kru nya seperti mereka membedakan deskripsi jobnya. And yes, tidak ada lagi gaun dan mahkota. Sangat disayangkan sebetulnya, karena itulah yang membuat Magnum Cafe istimewa dan prestis.

Jadi tamu di New Magnum Cafe itu tidak mudah, temanz! Kita harus antri. Sambil berdiri, kru Magnum Cafe akan menghampiri. “Untuk berapa orang, Kak? Atas nama siapa?” kru pertama yang kita temui (setelah sekuriti) ngabsen. This is the worst part at Magnum Cafe. Siapapun nggak suka menunggu, kan? Jangankan pleasure seekers, es krim aja nggak bisa nunggu sampai habis meleleh. 😉

Beneran Kafe

Setelah sukses bertahan hingga di pangkal antrian, kita akan diantar masuk ke cafe. Ketika kita masuk, kru yang mengantar akan meneriakkan semacam mantra selamat datang yang akan dijawab serempak kru lain di cafe tersebut. Maaf ya, saya agak kurang bisa menangkap jelas apa yang mereka katakan karena rasanya seperti masuk minimarket 24 jam, “Selamat pagi, selamat berbelanja” tapi pandangan nggak tau deh ke mana.

Seperti saya sebut sebelumnya, kita akan mendapati Magnum Cafe sebagai sebuah kafe biasa dengan lounge dan barnya. Tidak ada lagi pernak-pernik kerajaan seperti dulu. Yang ada tinggal poster-poster vintage yang mengkampanyekan coklat dan Magnum Cafe sebagai The House of Chocolate, bukan istana.

Pelataran lantai 6 Grand Indonesia tak luput dari sentuhan Magnum. Outdoor cafe dikonsep ala kafe kaum urban pada umumnya. Lampion, lantai kayu, basa-basi pohon kecil, dengan pemandangan rimbunnya tower-tower Jakarta.

Meskipun jadi kafe biasa, Magnum cukup serius menggarap Magnum Cafe sebagai rumahnya coklat. Tak hanya poster vintage bertema coklat, pendingin ruangan pun dibungkus dengan warna coklat. Bukan itu saja, cushion pun disablon Magnum ala LA tahun 70-an. Sadar brand Magnum punya nilai jual, Magnum Cafe juga memajang berbagai merchandise bertema Magnum dan coklat di samping bar. Dijual bow, nggak gratis. Dua ribu dua belas getoh!

It’s Ismagnum, guys!

Magnum Cafe digarap oleh Ismaya Group, sebentuk perusahaan kuliner yang kebetulan kateringnya saya suka. Ismaya memang sudah dikenal ahli dalam menggabungkan rasa dan gaya hidup. Sebut saja Blowfish, SushiGroove, Mr.Curry, atau Kitchenette anak usahanya yang sudah dikenal terutama kalangan menengah atas.

Dalam Magnum Cafe yang baru ini Ismaya memperluas ‘portofolio’ menu. Ia memperbanyak varian main course dan mengganti (hampir) total menu-menu dessert. Membonceng popularitas rainbow cake, Ismaya membawa menu tersebut  ke dalam Magnum Cake. Menu lain umumnya menyajikan wafel atau cake yang mirip, ditindih es krim Magnum, trus disiram saus dan sirup.

Kawan saya Elliza, jurnalis Tempo yang rela menemani saya memesan menu Red Velvet. Maksudnya biar nggak melulu coklat, nggak melulu rainbow cake. Tapi dugaan kita sedikit meleset. Red Velvet tersaji dengan dua potong cake warna merah yang ternyata rasanya sama saja dengan rainbow cake. Cake tersebut kemudian ditumpuk dengan es krim Magnum dipping rasa coklat-strawberry. Yang bikin cantik adalah kehadiran beberapa mulberry. Sayangnya mulberry seperti sudah dicat sirup rasa mulberry sehingga kami tidak mendapatkan rasa mulberry asli yang segar.

Saya juga pesan menu dessert Truffle Royale. Emm.. Nggak tau ya yang keluar ini beneran Truffle Royale atau bukan, karena rasanya koq beda dengan foto di daftar menu. But it’s oke lah, saya suka minuman berjudul apapun itu yang tersaji. Jadi minuman ini adalah es krim Magnum Chocolate Truffle yang diblender. Gelas kakinya dikasih gimmick coklat vertikal di tepian, membuatnya tampak lebih tidak biasa. Karena diblender dengan cranky coklat Belgia khas Magnum, tekstur minuman ini tidak menjemukan seperti es krim meleleh saja. Ada serpihan coklat Belgia yang sengaja tidak dihancurkan di dalamnya yang membuat menu ini spesial buat saya. This is the best part of Magnum Cafe for me.

O ya, Elliza juga pesan main course nasi goreng. Sebagai penggemar Ismaya Catering, saya sudah membayangkan cita rasa Indonesia khas Ismaya biasanya. Unfortunately, I couldn’t find it. Nasi gorengnya biasa, namun terselamatkan telor mata sapi dan dua tusuk sate ayam.

Kenapa Magnum?

Adalah pertanyaan saya. Saya pribadi tidak begitu menggilai es krim Walls termasuk Magnum karena rasanya terlalu manis dengan tekstur lembut yang membosankan. Saya lebih suka produk Campina apalagi yang mengusung rasa Indonesia seperti kacang hijau dan ketan merah. Memang dasar lidah ndeso kali ya..

However, saya angkat topi dengan strategi Magnum dan Unilever menaikkan brand awareness masyarakat sekaligus mengangkat derajat Magnum sebagai es krim dengan prestis. Rasanya Unilever sudah berhasil menciptakan kesan itu. Marissa Nasution sebagai brand ambassador Magnum bagi saya pun tidak begitu kentara perannya. Musim ini brand ambassador Magnum makin banyak dengan merangkul Indra Herlambang, Cathy Sharon, Julia Estelle, Dion Wiyoko. Meski demikian, mereka tidak banyak berpengaruh dalam mendongkrak brand awareness Magnum. Magnum Cafe, kampanye kemewahan coklat Belgia, dan acara-acara hiburan lebih mengena.

By the way, tahun kemarin saya juga menikmati suguhan Magnum Road Cafe di Surabaya lho. Iseng-iseng twitpic, saya berkesempatan meet and greet Sandy Sandoro yang akhirnya gagal karena nggak baca DM twitter. Hahaha… Ya sud lah, emang belum jodoh ya buuu..

Saya dan Elliza Tempo
Ke-alay-an saya di Magnum Cafe Surabaya tahun lalu
Iklan

Satu pemikiran pada “New Magnum Cafe, Beneran Kafe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s