(Fiksi) Ruang Tengah

Akhir-akhir ini menatapi dinding ruang tengah jadi rutinitasku. Menatapi? Sebetulnya lebih tepat meratapi.

Ruang tengah adalah ruangan terluas di rumah ini. Di ruang tengah semua anggota keluarga bisa berkumpul. Tak hanya raga, celoteh ceria anak-anak bebas tertumpah di sini. Hanya di sini aku bisa bersandar manja di bahumu, walau tak selalu karena harus melerai anak-anak yang kadang berseteru perkara mainan baru.

Saat kita merancang ruang tengah, kita sepakat bentangkan layar televisi terbesar di ujung ruangan. Seperangkat home theatre mutakhir sengaja ku beli dari Kanada untuk melengkapinya. Selebihnya cukup karpet Turki dan sofa Itali yang boleh melantai di ruangan ini. Biar kita nyaman di sini, menikmati rekaman film yang bahkan belum ada di bioskop Indonesia. Biar lelah kita sirna di sini, berkaraoke lagu-lagu segala jaman.

Ruang tengah harus bisa jadi surga kedua untuk kita dan anak-anak. Begitu imajinasi kita saat merancangnya. Untuk mimpi itu, aku tak sedikit pun keberatan menggunakan tabungan yang terkumpul sejak ku bangun bisnis beromset triliunan tiga tahun lalu. Aku tahu lahan di sini tak murah. Gajimu sebagai dosen itu tidak akan cukup beli tanah sejengkal pun di pusat kota Jakarta, bertetangga dengan menteri dan utusan negara asing seperti ini.

Kini, empat puluh tahun lebih rumah ini berdiri. Ruang tengah tentu sudah banyak berubah. Aku selalu mengganti TV dan perlengkapan multimedia dengan yang paling mutakhir. Tak perlu repot-repot impor, toh aku sering ke luar negeri. Selalu ku pastikan apa yang ada di rumah ini tak bisa dimiliki rumah lain.

Alan, rumah ini sempurna. Kau tahu itu. Hilir mudik wartawan properti mewartakan indah rumah kita. Mereka selalu berdecak kagum dengan ruang tengah yang kita punya.

“Bu Marlina, kalau ini rumah saya, saya bisa habiskan cuti tahunan saya hanya untuk menikmati rumah ini. Ini istana, Bu! Kalau perlu saya nggak usah kerja, biar bisa mainan sama anak-anak di ruang tengah ini,” katanya. Seperti yang sudah-sudah, wartawati yang satu ini tak bisa berhenti mengagumi rumah kita. Ia bahkan lebih mirip orang dusun di istana raja. Tapi aku menikmatinya, Alan. Aku membayar mahal arsitek Belanda untuk menyatukan mimpi kita dengan urat-urat beton rumah ini. Rasanya pujian-pujian itu layak kita terima.

Fotografer yang dibawa wartawati itu pun tak henti membidik tiap sudut ruang. Wartawati polos juga tak lelah bertanya dan tetap memuji. Untunglah aku tak bosan melisankan kembali mimpi kita yang menjadi jiwa ruang ini.

Lensa kamera menyoroti dinding ruang tengah. Si wartawati telaten membaca tiap penghargaan yang terbingkai di dinding. The Most Inspiring Woman, Professional Woman of The Year, Best CEO, berbagai apresiasi dari dalam dan luar negeri kerap ku terima. Kau sendiri tahu, aku gemar memajang foto saat menerima penghargaan tersebut di dinding ini.

Yang paling kanan, fotoku menerima penghargaan dari presiden RI salah satu yang ku banggakan. Ku rasa ini karena kedekatanmu dengan anak presiden, muridmu dulu. Di kiri bingkai itu ada foto anak pertama kita, Benni, saat diwisuda di London. Kau pasti ingat itu. Di atasnya, di samping fotoku dengan sekertaris negara Amerika, adalah foto keluarga kita usai perayaan wisuda Deto di New York. Lihat, anak kedua kita tampan sepertimu. Selisih tiga bingkai ke kiri dari foto itu lagi-lagi fotoku dengan rekan-rekan PBB saat berkunjung ke Afrika. Terima kasih untukmu yang memberi ku semangat untuk tak lelah berbagi dengan anak-anak yang kelaparan di sana. Foto itu, Alan, bersanding dengan foto putri bungsu kita, Aurea. Wartawati itu bilang ia mirip denganku. Memang seharusnya begitu bukan? Lihat, ia begitu anggun dengan toga khas perguruan tingginya di Perth.

“Kalau fotonya Pak Benni waktu kecil di mana, Bu? Pasti lucu deh. Apalagi pas lagi badung-badungnya gitu.”

Pertanyaan wartawati ini sebetulnya sangat sederhana. Namun pikiranku begitu rumit mencari jawabnya. Andai kau di sini membantuku, Alan. Kau paham, anak-anak tumbuh cepat tanpa sempat ku saksikan betul. Selalu kau yang ada untuk mereka. Kau tahu bukan aku tak peduli. Aku tak ingin mereka hidup kere seperti kita dulu. Marlina, gadis ndeso yang tak punya sepatu. Atau Alan, dosen miskin tanpa proyek. Semua bukan tanpa hasil kan? Aku duduk sebagai komisaris, dan ku percayakan Benni, Deto, dan Aurea jadi direkturnya. Kau lihat sendiri, mereka gigih membawa perusahaan yang ku rintis melantai di bursa saham.

Namun yang ku sesalkan, ruang tengah ternyata hanya perantara kamar kita dan anak-anak. Benni dan Deto lebih sering di kamar masing-masing, larut dengan game yang ku beli untuk menghibur mereka. Aurea jarang di rumah. Perburuan tas dan sepatu merk luar negeri memanjakannya. Hanya kau yang kerap duduk di ruang tengah, menungguku pulang seraya memanfaatkan siaran dokumenter TV satelit untuk menambah materi penelitianmu.

Alan, ruang tengah tetap jadi ruang tengah. Ia tak pernah jadi ruang keluarga. Mimpiku dan mimpimu tetap di sana, di atap berlukis seniman Toronto dan di kilap lantai porselain Italia.

Andai waktu bisa kembali, mungkin sebaiknya kita bangun ruang keluarga sederhana, Alan. Lalu ku bangun keluarga ini penuh kasih, supaya aku, kamu, Benni, Deto dan Aurea terbuai kehangatan keluarga di ruang ini.

Alan, di usia tujuh puluh tahunku ini, masih mungkinkah ku perbaiki semuanya? Haruskah ku pugar ruang tengah agar mimpi kita nyata dan ku letakkan foto ceria anak-anak kita di dinding ini?

Terinspirasi oleh ‘curhat’ nara sumber. =)

Iklan

3 pemikiran pada “(Fiksi) Ruang Tengah

  1. eh hai mba tike.. ini rumah ibu martha kaaaan…
    kemarin juga sempet wawancara bu martha di rumahnya..
    ademmm, ramah bangetttt..

    patung yang diatas itu patung ibu martha dan suami thoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s