Bajaj The Shaker!

Yang Udik Yang Mengusik Jakarta

Jakarta. Apa yang melintas di pikiran Anda ketika nama kota terbesar di Indonesia ini disebut? Padat. Macet. Polusi. Ruwet. Koq nggak ada bagus-bagusnya yah? Trus untuk apa orang-orang udik alias Though Dreamer berjubel di sana?

Di Jakarta ini semuanya ada. Kemewahan, kekumuhan, kesalehan, kemaksiatan, Jakarta diciptakan begitu lengkap. Dan dengan segala keluguan dan kenggumunan, saya turut membuat ibukota ini semakin lengkap. Cring!

Rabu 14 Maret 2012 jam 4 pagi, sepasang sandal jepit jadi tunggangan saya melangkah di Jakarta. Dijemput Bang Onos, saya kemudian diamankan di kos Elly. Rasanya Tuhan memang menciptakan mereka untuk menggelar karpet merah untuk saya seperti pagi itu di Jakarta dan pagi lainnya 5 tahun lalu di Surabaya. Alhamdulillah.

Saya, Bang Onos, dan Elly
Saya, Bang Onos, dan Elly

Padat Jakarta

Kos Elly di Karet Setiabudi ini jauh berbeda dari kosannya di Surabaya dulu. Pria, wanita, semua bebas keluar-masuk bahkan menginap di situ. Meski didominasi perempuan, tak sedikit lelaki yang ngekos dan ikut rumpian malam bareng di sana. Menurut cerita Elly, tak sedikit juga kawan-kawannya yang tanpa sungkan ngamar dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Elly, "The Joni", dan saya
Elly, "The Joni", dan saya

“Ini kan bukan kos mahasiswa,” begitu jawab mereka setiap Elly bertanya mengapa.

Jakarta, Jakarta. Memang bukan Jawa, apalagi Madura. Barangkali karena padatnya, pokoke mlebu lah!

Though Dreamer

Seperti jutaan orang lainnya, saya berada di Jakarta untuk memperbaiki nasib. Bukankah nasib itu lebih elok bila diperbaiki daripada diadu?

Seperti yang tertulis di buku agenda, hari Kamis sore ada wawancara kerja di majalah bisnis A, kemudian hari Jumat sore wawancara kerja di majalah brand-marketing B. Saya melamar di kedua majalah tersebut untuk posisi yang sama, Reporter.

Saya mengenal majalah A sejak empat atau lima tahun lalu. Saat itu saya sedang menanti giliran servis leptop, dan mengambil tumpukan majalah A di ruang tunggu untuk membunuh kebosanan. Di halaman tengah majalah tersebut, saya mendapati beberapa petak histogram dan pie-chart yang menceritakan popularitas brand produk-produk rumah tangga. Halaman-halaman lainnya lebih banyak membahas teori dan riset bisnis, dan tak lupa profil pebisnis sukses.

“Liat ya, suatu hari nanti aku pasti bisa masuk sini!”

Majalah B belum lama saya kenal. Bahkan membacanya saja belum pernah. Bang Onos lah yang mengenalkan saya. Ia sering bercerita tentang sulitnya bekerja di majalah tersebut baik sisi positif dan negatifnya. Bang Onos juga pernah bercerita tentang temannya teman yang mengeluh bekerja di majalah A. Jadi intinya management kedua majalah tersebut tidak mudah ditaklukkan. And they really took my fancy!

Seperti yang dijadwalkan sebelumnya, hari Kamis sore saya harus sudah ada di kantor redaksi Majalah A jam 3 sore. Tak mau berspekulasi dengan antrian busway, macet dan asap kendaraan, saya cegat taksi menuju Jalan Tanah Abang 3. Eh, ternyata jalanan lancar dan saya tiba 30 menit lebih awal. Hahaha… Alhamdulillah yah, sesuanto!

Di lobi, saya disambut Mbak HRD yang ramah dan alhamdulillah berjilbab. Saya disodori form CV yang cukup tebal. Tak lama berselang, Mbak HRD meminta saya masuk untuk wawancara kerja dengan Pak Redaktur Eksekutif. Saya agak kaget. Menurut penuturan Bang Onos yang juga pernah melamar di Majalah A sebagai researcher, tahapannya adalah wawancara HRD, user/Redaktur Eksekutif, psikotes, tes Bahasa Inggris, kemudian yang terakhir wawancara dengan Big Boss/Pimred. Tapi ya sud lah, mungkin HRD-nya lagi sibuk, begitu pikir saya saat itu.

FYI, untuk wawancara sore itu saya sempatkan berlatih di depan kaca kamar kos Elly. Modalnya adalah pertanyaan-pertanyaan khas HRD perusahaan internasional yang saya dapat dari Profesor Tom Weeks, peneliti di Teknik Lingkungan ITS asal Amerika. Sayangnya, tidak satu pun pertanyaan tersebut ditanyakan oleh Redaktur Eksekutif! Mampusss…

Pak Redaktur malah bertanya ke mana saja saya melamar. Dengan tampang polos saya jawab apa adanya.

“Kenapa cuma 2?” tanya beliau kemudian.

“Ya karena saya berpikir positif dan optimis akan diterima di salah satunya.”

Pe De beneeeeerr!! Padahal untuk posisi reporter dengan mobilitas tinggi, saya belum hafal jalanan Jakarta. Hehehehe…

Tanya jawab pun dilanjutkan. Tidak terlalu seru, karena saya menahan banyak pertanyaan. Ada mitos yang bilang, jangan menyela wawancara kerja dengan pertanyaan sebelum dipersilahkan. Dan saya percaya itu. Duh!

Tak lama berselang, Pak Redaktur keluar. E lah dalah, lha koq ganti Pak Big Boss yang masuk! Mati gaya dah! Kata Mbak HRD, karena rumah saya jauh jadi tahapan wawancaranya di by-pass apalagi Pak Redaktur sudah bilang oke.

Faktor flu, nervous, dan mati gaya ikut menyidang saya di ruangan sempit itu. Pak Big Boss memberondongi saya dengan pertanyaan terkait latar belakang pendidikan dan posisi yang saya lamar. Memangnya aneh ya kalau mahasiswi Statistika melamar jadi reporter? Kan kita jago wawancara juga, wawancara kuesioner. Hehehe…

Menariknya, Pak Big Boss sempat meminta saya mengirimkan tulisan tentang statistik dan satu review buku yang pernah saya tulis. Saya sih PeDe saja bilang iya. Padahal otak berpikir keras,

“Matilah saya! Laptop baru aja direkoveri, file-file kuliah masih ada nggak ya??”

Alhamdulillah, dari hasil wawancara dengan Pak Big Boss saya diterima bekerja di Majalah A dengan kontrak pertama selama 1 tahun. Keluar dari ruang sempit, saya diminta menandatangani offer letter yang berisi kesepakatan gaji, sanksi dan pinalti, lan sak piturute.

“Jadi besok nggak usah wawancara di Majalah B, ya.”

Glek! Kalimat yang muncul dari Pak Redaktur lulusan UNAIR itu menyadarkan saya. Oalaaah.. Ini to maksudnya by-pass. Hihihihi… Oke lah kalau begitu.

Jam lima sore, semua proses rekrutmen di majalah A selesai. Tak tahu jalan, saya tanya Mbak HRD alat transportasi yang bisa mencapai Karet. Mbak HRD bilang pakai bajaj atau ojek saja. Karena tukang ojek di sana agak kurang meyakinkan (dan kurang tampan), saya putuskan membonceng bajaj. Dan ini kali pertama saya naik kendaraan asli India!

Bajaj The Shaker!

Bajaj The Shaker!
Bajaj The Shaker!

Saya beruntung. Bajaj yang saya tunggangi betul-betul merefleksikan Jakarta. Sempit, tidak nyaman, dan nekat. Saya dan supir bajaj asal desa Pagerbarang, Tegal ini sama-sama tidak tahu persis Karet Setiabudi. Pak Supir terus saja bertanya lewat mana, Karet yang mana, sebelah mana hotel Shangri-La.

“Helloooo!! Saya kan nggak ngerti Jakarta, Paaaaakk!! Situ nanya saya, saya nanya siapa doooonk?!” jerit saya dalam hati. Pokoknya naik bajaj itu sesuatu banget dah! Kalau saya bawa sebotol penuh wine, sampai Jalan Jendral Sudirman pasti sudah meledak, busa-busanya membuncah memenuhi jok bajaj. Bagaimana tidak, naik bajaj berasa dikocok-kocok sambil uji pernapasan. Kalau bajaj ngoyo naik jalan layang, kita pasti ikut tahan napas ala jurus meringankan tubuh sambil komat-kamit baca doa. Belum lagi asap knalpot bajaj yang mbalikย dan didukung knalpot lain yang ngepot tak tahu sopan santun. Ya Allah, ini memang Jakarta!

Setelah ngotot-ngototan dengan supir bajaj, jadilah saya minta diturunkan di Mall Ambassador.ย Kenapa? Karena pusat perbelanjaan tersebut berada persis di samping kantor Bang Onos. Jadi, pol pole pol saya tidak tahu jalan ke kos, tinggal gedor kantor Bang Onos dan minta diantar pulang. Hahahaha…

Suddenly alias makbedunduk, Bajaj mogok tepat di trotoar sebelum Mall Ambassador. Bagus! Lengkap sudah penderitaan saya naik bajaj! Akhirnya saya putuskan untuk turun dan jalan kaki ke kantor Bang Onos. Untung Tuhan mempertemukan kami di tengah jalan, jadi saya tidak perlu capek-capek ke sana.

Haaaah.. Dan di sanalah perjalanan saya mengusik Jakarta berakhir. Setelah posting ini, Jakarta tidak akan saya usik lagi, tapi saya taklukkan! Merdeka!

Iklan

8 pemikiran pada “Yang Udik Yang Mengusik Jakarta

  1. waaah ๐Ÿ˜€ udah diterima kerja ya kak! selamat selamat!
    ngakak baca postingan ini xD
    nice post nyonyah! *jempol

  2. Tik.. ada yg kurang..
    1. Kosku bukkan hanya untuk cwek cwok.. khusus lantai 5, banci juga boleh
    2. Bajaj mogok knpa ya ? Hmm.. batinnya pak bajajnya, “Duh siaall.. dapet penumpang yang bikin mogok bajaj !!”
    3. Kalo ditanya, “kenapa cuma 2?” jawablah, “Soalnya kancing celana saya cuma ada 2, sehingga aku bisanya milih diantara 2 pilihan saja. Sedangkan kalo pake kacing baju sudah habis buat milih perguruan tinggi, milih mata kuliah pilihan, milih pacar, milih judul TA, sama milih pake baju apa pas wisuda” ๐Ÿ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s