Banana Split

Takdir dalam Banana-Split

Banana Split

Banana Split

Solo. Bukan sendiri. Sedekap tanganku dan semangkuk banana-split rebah di atas urat-urat kayu. Banana-split, sebuah pisang yang dibelah lalu mengalah, memisah memberi celah pada krim dingin yang bergandengan. Coklat, moka, mint. Mereka berjajar rapi mengeratkan dua belah pisang. Eratnya tak sia-siakan lorong sempit yang tersedia.

Hidup seharusnya begini bila disyukuri. Coklat, moka, mint.

Coklat pada sekop pertama adalah kisah manis saat kita lahir, menjadi bagian dari kedua orang tua. Menjadi pengerat dua belah pisang yang satu. Kasat mata bilang itu pekat, kusam, karena kita tak tahu apa-apa. Namun seburuk apapun rupa, kehadiran kita di dunia akan selalu jadi cerita yang begitu manis.

Lalu kita tumbuh, memahami bahwa hidup adalah satu sekop moka. Tak sepekat dulu, kita mulai tahu segala sesuatu. Hidup mencari pencerahan, tinggalkan pekat, meski takkan pernah cerah secerah vanila. Moka adalah kepekatan yang pudar, kecerahan yang tersamar. Hidup memang tak pernah benar-benar hitam, apalagi putih. Mutlak itu tak ada, layaknya kesempurnaan yang tak akan dimiliki. Kesempurnaan pandang, kesempurnaan rasa, tidak benar-benar ada. Lidah telanjang bilang pahit. Hidup menjalang pun pahit. Itulah moka. Itulah hidup. Berterimakasihlah pada pahit, yang menjadikan hidup tetap moka. Dan kita tak akan jera menyesapnya.

Mati lalu menghijau seperti mint. Segar. Menyenangkan. Tak ada lagi pekat, yang ada kebeningan rasa seperti hendak terlahir kembali. Lahir di atas bumi yang tak lagi sama. Manisnya ada, namun kadang tak terasa.

Banana-split bersandar pada dinding kaca mangkuk tebal. Dua belah pisang dengan krim dingin yang menyatukan. Apapun rasanya, nikmati saja. Sejatinya tuhan selalu melindungi rasa itu. Tangannya memang tak tampak. Kadang aku merasa ia bersembunyi di antara pucuk lembut whipped-cream. Kelembutan rendah hati, ditabur biji kacang-kacang yang tampak hancur.

Aku sayang orang tuaku. Dua belah pisang yang satu. Aku sayang takdirku. Coklat, moka, mint. Aku sayang tuhanku. Menyapa lembut dan sembunyikan aibku. Seperti potongan cherry, yang berbaur dengan kacang-kacang kasar dan lembut whipped-cream. Jangan-jangan sebetulnya tuhan juga menyelinap di bening mangkuk kaca tebal??

Iklan

3 pemikiran pada “Takdir dalam Banana-Split

  1. Segala sesuatu pasti ada hikmah.
    dan keterbatasan manusia yg membuat hikmah itu tak bisa terbaca ataupun bisa terbaca dan berpolar pada positif/negatif juga karena keterbatasan manusia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s