Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood

Maka dari situlah aku mengenal Elly, seorang yang lincah, lugu, spontan, dan tulus. Begitu tulusnya Elly hingga sulit baginya berkata “Tidak” untuk orang lain, termasuk jadi sukarelawan tukang ojek langganan.

Tidak ada yang tak tahu kemahiran Elly mengendarai sepeda motor. Seru! Lebih seru dari roller-coaster mana pun! Hanya mereka yang bernyali yang lolos uji emisi jadi penumpang Elly. Dina salah satunya.

I’ve told you, Elly never say “No”. Dalam keadaan capek bahkan ngantuk sekalipun, dia akan tetap mengantar Dina sesuai janjinya. Aku nggak tau — mungkin Dina juga nggak tau — apa yang dipikirkan Elly saat berkendara. Yang kami tahu, bukan sekali dua kali iya minta maaf di tempat tujuan. Eits, minta maafnya ini yang beda dari tukang ojek biasanya.

“Maaf ya Din, tadi aku tidur waktu nyetir. Aku ngwantuk poll!” kata Elly dengan tampang penuh rasa bersalah saat mereka baru saja tiba di Tunjungan Plaza, 10 km dari kampus atau 30 menit perjalanan kilat roda dua.

Lugunya Elly bukan lugu orang dungu. Ia tak ingin merugikan orang lain. Jangankan merugikan, berprasangka buruk terhadap orang lain saja ia tak mau –dan tak rasanya mampu–.

Pernah suatu hari ia kehilangan sepeda kayuh kesayangannya. Waktu itu Elly belum punya motor. Jaman maba, jaman dia lagi seneng-senengnya mengenakan rok dan baju ala kadarnya, unfashionable at all. Sudah lebih dari seminggu sepedanya tak nampak di garasi asrama. Ekspresi panik sama sekali tak terlihat di raut mukanya. Terkadang memang dia hanya tanya teman-teman asrama kapan mereka terakhir kali melihat sepeda Elly. FYI, Elly tak punya barang pribadi. Siapa pun boleh pakai barang-barang Elly mulai dari alat tulis, sepeda, sampai laptop. Aduh, jangankan barang. Kamar tidur pun nggak pernah dikunci! Semua boleh keluar-masuk sesuka hati cz Elly trusts everyone! Yah, jadi nggak heran deh kalau dia sering kehilangan barang termasuk sepeda.

Seingatku nggak ada yang peduli sepeda Elly hilang. Mereka yang sering pinjam pun cuek aja, toh masih banyak sepeda lainnya. Eh, termasuk aku dink!

Malam kesepuluh sepeda Elly hilang, pengumuman sudah ditempel di seluruh penjuru asrama, dari blok depan sampai blok paling belakang. Dia sudah pasrah. Ya sudah lah. Menghilangkan penat dan gundah gulana, kami memutuskan untuk memboyong laptop ke lapangan perpustakaan, wifi-an. Waktu itu belum jaman modem kecil imut kayak sekarang. Ada wifi kampus yang lemotnya na’udzubillah aja udah alhamdulillah yah. Makanya kita go malam hari, ketika tak banyak user yang berebut koneksi gaib itu.

Karena tak ada sepeda, kami berjalan kaki menuju lapangan perpustakaan. Untuk meraih tempat sunyi lagi penuh misteri itu kami harus melewati kampus Statistik, kampus kami. Nah, di sana Elly disapa Pak Kumis penjaga parkir.

“El, kamu ndhak kehilangan sepeda ta?”

“Lho? Iya Pak! Koq Pak Kumis tau?”

Iku lho sepedamu dibawa SKK*,” #kemudianHening..

Jadi cerita sebenarnya adalah..

Suatu pagi dalam keadaan terubur-ubur alias terburu-buru Elly berangkat ke kampus dengan sepeda kayuh kesayangannya. Singkat cerita, hari itu dia kuliah seperti biasa dan pulang seperti biasa: Jalan Kaki. Sebetulnya kita biasa pulang-pergi kampus jalan kaki dari asrama. Jadi ya wajar saja kalau Elly pulang dengan santainya tanpa sadar tu sepeda bengong di garasi parkir kampus sendirian hingga malam menjelang.

Seperti biasa juga, SKK patroli malam keliling kampus, cek ruang-ruang kampus dan tempat parkir. Elhadalah! Di parkir Jurusan Statistik koq ada seonggok sepeda ngejogrog sendirian. Kalau tuh sepeda hidup, mungkin dia udah nangis ngosek-ngosek kesepian dan minta diantar pulang.

Karena kasian, SKK membawa sepeda itu ke markas. Sebenernya demi keamanan juga sih.. Daripada diembat maling, kan mending diinepin di markas SKK, walau harus dalam keadaan gembos tanpa daya.

Sementara itu Elly di asrama adem ayem aje. Dia pikir sepedanya dipinjam anak asrama blok sebelah.

Hari berganti hari, tu sepeda nggak balik juga ke empunya. Elly setia menanti. Hingga hari ke-7 tanpa sepeda barulah dia beraksi, melakukan wawancara eh interogasi door to door se-asrama putri. Hasilnya nihil. Nggak ada yang ngaku pinjam sepeda Elly. Capek, Elly pasang pengumuman bagi siapa pun yang pinjam sepedanya harap segera dikembalikan.

Elly sahabat saya yang positive-thinking. Dia tidak menaruh curiga pada satu orang pun. Antara ikhlas dan penasaran, Elly berusaha cuek sampai hari kesepuluh itu tiba dan kami bertemu Pak Kumis!!

And.. What happened next?

Kita bergegas ke markas SKK, dan benar! Sepeda pink punya Elly tersandar tanpa gairah di sana. Elly menghambur ciumi sepedanya, dia girang bukan kepalang.

That’s Elly, the most honest girl God has created!

Next >> Elly My Honey part 3: ELFIONI

Iklan

Satu pemikiran pada “Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s