Oxford, Blackberry, and seven confessions.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Ya terang aja seleramu berubah, mungkin terlalu banyak gaul ama turis. Jadi hobbynya denger yang inggris-inggris, biar bingung asal british”

Terkadang saya merasa disindir oleh petikan lagu Jamrud ini. Sok British adalah satu dari banyak julukan yang paling sering saya terima setelah “PUP-Putus Urat Panik” dan “Miss Online”. Oxford dan UK memang sejumput mimpi yang sampai sekarang masih saya simpan. Entahlah, kerajaan beradab itu begitu menarik bila dibandingkan negara lain termasuk US. Tentang Oxford, mungkin terdengar muluk-muluk dan fiktif. Namun setidaknya saya berani bermimpi, memiliki sesuatu yang semakin sulit diperoleh di era gadget yang serba realistis. Adalah adegan mengesankan dalam kitab Anak Bajang Menggiring Angin tulisan Sindhunata yang selalu saya ingat. Adegan dalam buku yang ditulis seniman kelahiran Kota Batu ini adalah percakapan Anoman dan ayahnya, Batara Surya. “Anakku, kalau demikian, kenapa dalam khayal masa kanak-kanamu pernah kau merasa bisa menelan matahari bagaikan buah delima, kenapa kau kini tak mau menganggapnya saja sebagai permainan anak-anak laksana buah delima yang menyala sehingga kau tetap dapat memasangnya sebagai daun yang memberi terang ketika kau membutuhkannya?” “Hamba merasa tidak mampu lagi, oh Dewa, karena hamba telah meninggalkan khayalan kanak-kanak hamba.” “Apa yang menyebabkan kau meninggalkan khayalan kanak-kanakmu, Anoman?” “Pengetahuan hamba.” “Mengapa pengetahuanmu meniadakan khayalanmu?” “Karena di dalam pengetahuan itu hamba tidak dapat pasrah.” Dan percaya atau tidak, khayalan kanak-kanak lah yang menjaga passion saya untuk belajar, bukan pengetahuan. Disadari atau tidak, terkadang pengetahuan yang ‘menjegal’ langkah kita untuk maju. CONFESSION #1: Bukan sekali dua kali saya bengong melompong di kamar dan tiba-tiba menitikkan air mata. Putus cinta atau gagal di suatu mata kuliah tak pernah membuat saya begini. Mendapati diri tidak berguna bagi orang di sekitar kita jauh lebih menyakitkan. Suatu siang di UPT Bahasa ITS, saya bertemu teman-teman kuliah. Seperti wanita pada umumnya, kami bergosip membicarakan nasib TOEFL kami dan teman-teman yang lain. Seperti disambar petir ketika mendengar seorang teman harus menghabiskan hampir setengah juta rupiah karena belasan kali mengikuti Tes EFL ITS, TOEFL ala ITS sebagai syarat kelulusan. Dia tidak bodoh, terbukti dalam waktu 3,5 tahun ia telah menyandang gelar sarjana. Yang membuat saya prihatin adalah hal semacam ini terjadi pada orang-orang di sekeliling saya.

Pengingat cita-cita: Pintu kamar Direktur!
Pintu kamar Direktur!

Ada semacam gap antara wong ndeso dan orang kota. Sayangnya gap ini lebih sering menjadi Excuse untuk gagal daripada cambuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti yang ditulis Joni dalam blognya, saya memang wong ndeso. Sejarah tidak pernah mencatat nama keluarga saya tinggal di tengah kota dengan fasilitas lengkap termasuk tempat les Bahasa Inggris. Les adalah barang mewah bagi keluarga kami. Bahkan bisa dibilang les Bahasa Inggris merupakan CITA-CITA. Saya tidak bisa mengharapkan Bapak dan Ibu menerapkan English sebagai bahasa sehari-hari. Ya, bahasa Inggris mereka PARAH dan saya tidak bisa menyalahkan mereka atas kondisi tersebut. Mereka tidak dikutuk kaya dan beruntung sebagai lulusan negeri bersalju. CONFESSION #2: Bahasa Inggris saya pelajari dari bangku sekolah dan lagu-lagu evergreen koleksi mereka. Otodidak adalah guru saya yang paling sabar! Mendapati Surabaya yang begitu mewah, canggih, dan gemerlap semakin membakar semangat untuk terus belajar Bahasa Inggris daripada kelak saya mati digerus jaman atau dibilang “katrok” sama anak-cucu saya. CONFESSION #3: Selain kenyataan yang menunjukkan bahwa kemampuan Bahasa Inggris saya belum banyak membantu orang-orang di sekitar, ada satu hal lain yang sampai sekarang masih mengusik pikiran. Ketika saya mengoreksi Bahasa Inggris status Facebook seorang teman, dia berkomentar, “Bahasa Inggrisku kan nggak bagus kayak kamu, Tik!”. Damn! Sontak saya banting mouse saat itu. Apakah kemampuan ber-Bahasa Inggris adalah kutukan?? Atau keturunan?? Tidak!! Harus ada PROSES yang tidak bisa dalam sekejap jadi seperti membalikkan telapak tangan! Komentar yang sama kemudian saya terima ketika saya menyodorkan leaflet beasiswa ke luar negeri pada teman lain yang sukses membuat saya iri dengan IPK-nya yang selangit dan lulus 3,5 tahun. Miris rasanya ketika seseorang membatasi kesuksesannya sendiri karena sesuatu yang BELUM ia miliki. Kalau Pak Dhe Mario Teguh bilang, tunjuk satu bintang di langit, lalu buatlah tangga untuk ke sana. Bukan sebaliknya, menyusun anak tangga untuk mencari tujuan. Jangan-jangan tuh anak tangga arahnya malah ke samping??

Black Sponge: Space khusus mimpi
Black Sponge: Space khusus bermimpi

CONFESSION #4: Les Bahasa Inggris adalah salah satu cita-cita yang menyusun tangga saya meraih bintang yang akhirnya saya alami setelah semester delapan ini. Sebelumnya saya memang pernah les ketika masih SMP. Satu-satunya tempat les Bahasa Inggris saat itu berjarak 20 km dari rumah dan yang hanya bisa ditempuh angkutan umum butut. Berangkat sore, pulang malam sendirian hanya untuk nonton film Maid in Manhattan atau Harry Potter dengan TV ditutup lakban supaya subtitle tidak terbaca. Terkadang hanya tebak-tebakan atau mengisi TTS Bahasa Inggris. Mungkin karena masih SMP, tentor saya tak pernah benar-benar menyogok kami dengan rumus-rumus grammar. Dan akhirnya, ketika EF menggelar diskon baru saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bertahun-tahun tidak menjamah Bahasa Inggris, nekat saya ikuti Placement Test tanpa persiapan di Tunjungan Plaza! Hasilnya, saya ditempatkan di kelas FCE-1 bersama bocah-bocah SMA seusia adik saya. CONFESSION #5: Bahasa Inggris saya paling aneh di kelas FCE-1. Sampai tulisan ini dibuat pun saya minder dengan mereka yang jauh lebih muda dengan kemampuan Bahasa Inggris yang luar biasa. Didominasi etnis Tionghoa yang memang gigih, saya banyak belajar dari mereka. Tak jarang John mengkritik Bahasa Inggris saya dengan gaya khas Amerikanya yang sungguh sangat menyebalkan. Selain teman sekelas, Mbak Ellis, kakak dari sahabat saya Melan juga menjadi cambuk untuk terus belajar Bahasa Inggris. Mbak Ellis kini menikmati beasiswanya, ngangsu kawruh di negeri kanguru tanpa pernah les Bahasa Inggris seumur hidupnya. Sebuah pembuktian bahwa les bukan keharusan. Dan pembuktian inilah yang menguatkan kepasrahan saya untuk berhenti les lantaran kembali ke titik 0: BOKEK! Awalnya memang sulit untuk menerima kenyataan bahwa saya harus berhenti les. Keluarga saya harus menabung supaya adik bisa kuliah. CONFESSION #6: Pasrah itu semakin sulit ketika melihat teman-teman bisa beli Blackberry, tapi merasa tak sanggup untuk belajar Bahasa Inggris. Padahal satu Blackberry sama dengan les 3 term di EF yang dikenal mewah dan mahal. CONFESSION #7: Sore tadi, mata saya menerawang di depan rak majalah Gramedia. “Beri saya satu Blackberry, biar saya jual buat les lagi dan beli majalah-majalah ini,” batin saya bodoh. Kebiasaan baru setelah les, ke Gramedia sekedar memastikan harga Harvard Business Review masih 260 ribu dan harga buku-buku impor lainnya belum juga terjangkau. Alhamdulillah, sampai sekarang mereka belum terbeli. Biar tidak sakit hati, pulang bawa The Jakarta Post saja lah. Kalau dompet agak tebal ya majalah Hot English-nya Kesaint Blanc. Setidaknya malam ini ada artikel yang bisa dibaca sebelum tidur, dan ada vocab-vocab yang bisa dilingkari.Pernah pula saya sok kaya ikut tes masuk University Preparation Abroad yang diselenggarakan EF pusat (Swiss) di Surabaya. Hasilnya tidak terlalu buruk, saya berkesempatan mengikuti Pre-Master di London selama 6 bulan tanpa perlu mengambil academic course. Setelah diitung-itung ongkos perjalanan, biaya hidup dsb bakalan lebih dari 200 juta, urung deh. “Toh ilmu juga bisa didapet di negeri sendiri” batin saya menghibur diri. Yang paling esensial ketika kita memang betul-betul ingin mempelajari Bahasa Inggris adalah suntikkan niatan tersebut ke dalam aliran darah kita. Perhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil mereka yang lancar berbahasa Inggris. Yakinkan diri bahwa KAMU BISA, karena sebenarnya KITA LEBIH HEBAT DARI YANG KITA KIRA! Jangan sampai pengetahuan yang sok tahu itu menggagalkan khayalan kanak-kanak! Tips dari Mbak Putri yang kini bekerja di Total dengan limpahan bule adalah bergabung dengan LiveMocha, dan mengenal orang-orang dari berbagai negara. Tips dari Melan (berdasarkan pengamatan dari embaknya) beranikah diri membaca koran The Jakarta Post yang cuma 6500 rupiah. Tips dari Dea, maba Teknik Mesin yang sangat humble, perbanyak download dan baca ebook novel dalam bahasa Inggris. Tips dari saya, perbanyak bacaan Bahasa Inggris seperti The Jakarta Post atau ebook lalu baca cepat (skim) seraya melingkari kata-kata yang belum kamu tahu. Setelah selesai membaca, buka kamus Oxford dan temukan arti kata-kata tersebut. Ingat, kamus Oxford bukan kamus Inggris-Indonesia! Dalam waktu singkat vocabmu akan semakin kaya, begitu juga wawasanmu. Furthermore, kalau kamu pecandu diary seperti saya, mulailah menulis diary dengan Bahasa Inggris. Mungkin akan lucu ketika mendapati dirimu menangis sesenggukkan seraya sibuk membuka kamus Indonesia-Inggris. Tapi itu semua adalah proses yang tidak akan membuatmu kecewa. Trust me, it works! PS: Semoga setelah membaca tulisan ini akan muncul tips-tips baru di deretan komentar, dan semangat-semangat baru untuk terus belajar. VVIP PS: Buat Ibu.. See?? Les bukan segala-galanya. Masih banyak cara buat belajar Bahasa Inggris. Lupakan kelas FCE-2 atau TOEFL Preparation. Kalau emang rejeki juga nggak akan kemana, okay?? Luv u, Mom!!

Iklan

28 pemikiran pada “Oxford, Blackberry, and seven confessions.

  1. Love this writing, well put Tika. Aku tau blog kamu dari Desti, aku dan dia juga lagi concern gitu karena kita berdua seminggu ini juga habis kena kalimat :

    Tapi bahasa inggris gue kan gak sekeren lo ?

    hahaha, that make three of us then Tika

    🙂

    eh iya , aku nambahin tips belajar bahasa inggris fun :
    – Main game RPG bahasa Inggris, kan banyak dialognya tuh
    – Dengerin lagu, terus coba nulis liriknya (latihan listening)
    – Punya temen yang bisa diajak chat bahasa inggris all the time, kalau pake selain english. Punish each other with a treat 😀

    1. Hahahaha… Maap yaa.. Gag maksud nyinggung siapa2 lho..
      Ttg chat, di LiveMocha juga ada koq. Dan karena LiveMocha emang socmed khusus bahasa asing, chat room nya ya emang orang2 yg pengen belajar bahasa asing. Maksudku, jarang ada show-cam girl/boy yang haus belaian kayak di room chat lain. Well, thanks tips nyaaaa… Panen paneeeenn!!

  2. tips tambahan. semua yang sudah ditulis di posting ataupun komen harus dilakukan secara kontinu, bukan temporal ketika mengejar skor TOEFL ato karena sebab temporal lain. hehehe….

    note : self experience

  3. Hahaha mas wan jadi kangen bikin beginiannnnnnnnnnnnnn……. su lama tak bergaul dengan blog, sampe lupa user n pass. wkkwkw semangat Dek Tik! Kayanya mas wan perlu berguru nih sama dek tik. ajarin dong… (ikon melas piye ya?)

  4. jagalah mimpimu nak, bagus itu….seraya tetap tulus berdoa, maka tak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT.

  5. salam kenal..
    klo saya pernah mempelajari tips n trik toefl malah bingung… dikarang karang saja..pokoknya yang dijawaban ada di percakapan biasanya adalah jawaban salah, hehe, karena jawaban sebenarnya seringkali implisit…

  6. Nice article, love it… 🙂
    esp when I found statement: “Jangan sampai pengetahuan yang sok tahu itu menggagalkan khayalan kanak-kanak!”. really love it… Just recall my memories, where are my spirits… which are gone by the time.. 😦

    *looking around related to IELTS, incidentally caught ur blog. 🙂

    PS: if i may suggest, blog themes isn’t nice esp when I am reading… (text content color is white and sometimes biased by ‘background’ design when I scroll the page) 🙂 .

    Anyway, nice article, thanks for sharing. 🙂

  7. aaaaakkkk mb tikaaa, bbrp crta mirip kyk aku, dan bbrp jg mbuat jleb jleb hatiku hehhehe. thankies for tips and trick learning english (again) without ‘les’ :))

    cemunguuud mb tik, pursuing ur dream!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s