Bila Pak Dalang Marah (Ndopok Karo Ki Enthus 3)

Jari kelingking si Manis Alba menunjuk angka sepuluh di pergelangan tangan kiri. Ki Enthus masih bersih diri, dan Echank undur diri sejenak. Untung mereka tidak membiarkan saya menunggu terlalu lama di lobi penginapan. Dengan kaos oblong warna hijau dan celana army-look akhirnya beliau muncul seraya sibuk telpon sana-sini.

Dari nada bicaranya, Ki Enthus sedang marah besar dengan lawan bicaranya di telepon.

“Pokoke kalau panggung tidak diturunkan 50 senti, saya nggak mau main!” katanya gusar.

 

Ki Enthus gaya kasual, masih tak lepas dari rokok
Ki Enthus gaya kasual, masih tak lepas dari rokok

Hm, nampaknya bukan berita baik. Mau tidak mau saya harus memperpanjang usus, meningkatkan kadar kesabaran menjawab SMS teman-teman yang mulai tidak nyaman di RM Bu Rudi. Katanya, di ruang VIP para pelayan melihat mereka dengan ekspresi tidak menyenangkan.

Nada bicara boleh tenang, tapi sebetulnya saya sedang dilanda panic disaster. Beruntung kemudian Echank kembali bersama sahabatnya, Wipri.

Wipri 'anak negeri'
Wipri 'anak negeri'

Wipri kuliah di jurusan dan angkatan yang sama dengan Echank. Mahasiswa yang hobi jelajah ala backpacker ini menggilai seni tradisional Indonesia, termasuk wayang. Dia bahkan nekat bergabung dengan kami hanya untuk menanyakan dua pertanyaan tentang pewayangan. Pria asal Cilacap ini memang asik dengan segala kesederhanaannya. Saya bersyukur dua kali lipat karena kedatangannya. Syukur yang pertama, karena dia pasti nyambung ketika ngobrol dengan Ki Enthus. Syukur yang kedua, ternyata masih ada spesies manusia seumuran saya yang bisa diajak berdiskusi tentang kehidupan wayang. Yah setidaknya dia tidak akan mengatakan saya kuno atau old-fashion lantaran gandrung dengan karya-karya RA Kosasih dan Sindhunata.

Kembali ke Ki Enthus. Tiba-tiba beliau pamit untuk marah-marah dulu. Ia mengajak Echank ke lokasi dan tidak menghendaki saya ikut dengannya.

“Aja! Nanti kamu liat Ki Enthus marah-marah,” katanya seraya ngeloyor menuju Land Cruiser hitamnya.
Di belakang, Echank berbisik pada kami untuk mengikutinya ke lokasi di halaman parkir Gedung Robotika. Saya dan Wipri menurut saja.

Di lokasi, emosi Ki Enthus langsung meledak begitu turun dari mobilnya. Seluruh kru yang hampir selesai menata panggung pucat seketika. Ki Enthus meminta mereka menurunkan panggung gamelan hingga lima puluh senti. Beberapa kru sempat membantah. Tapi toh akhirnya mereka mengalah juga. Panggung dibongkar, diset dari awal.

Ki Enthus dan Ki Manteb jelang latihan
Ki Enthus dan Ki Manteb jelang latihan (Foto: Koleksi Wipri)

Perhatian Ki Enthus tak lepas dari panggung. Bahkan bisa dibilang beliau lupa ‘anak-anak’nya di belakang. Setiap ada kru yang tampak malas-malasan membongkar panggung langsung ia tegur. Beliau memang tidak senang melihat orang yang malas dan MENGANTUK. Karena itu urusan rekrutmen kru Ki Enthus lebih memilih orang yang tidak terlalu suka wayang. Maksudnya, ketika dalang ribuan wayang ini berlaga, kru istirahat supaya kondisi mereka fit saat harus bekerja keesokan harinya.

Ki Enthus sangat serius mengamati perubahan konsep panggung. Bahkan ia hampir tak menghiraukan kedatangan Pak Mahfud. Ki Enthus tidak banyak berbincang dengan dosen Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya itu.

Hasil akhir setting panggung Ki Enthus vs Ki Manteb
Hasil akhir setting panggung Ki Enthus vs Ki Manteb (Foto: Koleksi Wipri)

Tiba-tiba, masih dengan emosi tinggi beliau bertanya tentang penjual Dawet Ayu Banjarnegara yang tampak kepanasan dibakar matahari di lapangan terbuka yang gersang itu.

“Kae wong Banjarnegara temenan? (Itu orang Banjarnegara sungguhan?)” tanya Ki Enthus pada salah satu krunya. Dengan penuh ketakutan, kru tersebut mengiyakan.

“Diundang mrene! (Panggil ke sini!)” perintah Ki Enthus. Pedagang dawet ayu kemudian membawa gerobaknya mendekati panggung dengan canggung.

“Kyeh kabeh, dawete entengna! (hai semua, habiskan dawetnya!)” Ki Enthus memerintahkan krunya dengan lantang. Seluruh kru yang sedang panas menegang saat itu bengong tak percaya.

“Sing mbayar sinten, Pak? (Yang bayar siapa, Pak?” tanya salah satu kru.

“Pak Mahfud!” Ki Enthus menunjuk dosen PPNS yang menjadi pemandunya selama di Surabaya.

Suasana lokasi mencair. Semua tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali saya. Hampir setiap kru tidak bisa melupakan peristiwa itu, bahkan hingga Ki Enthus memainkan lakon Gatotkaca Kala Jaya malam itu. Setelah pesta dawet, kami pun beranjak menuju RM Bu Rudi. Fyuh, akhirnyaaa!! Dan dalam perjalanan, Ki Enthus menjelaskan mengapa ia menghendaki panggung gamelan turun lima puluh senti. Katanya, supaya penonton tidak perlu ndhangak atau mengangkat kepalanya terlalu tinggi untuk melihat aksi Ki Enthus dan Ki Manteb malam nanti. Hh, memang Dalang Edan.. -.-”

Ki Enthus dan Penulis
Ki Enthus dan Penulis (Foto: Koleksi Wipri)
Iklan

19 pemikiran pada “Bila Pak Dalang Marah (Ndopok Karo Ki Enthus 3)

    1. Hasyeeeeem!! Istri simpanan jare. Emang gw cewek??

      Tengkyu, brur. Masih perlu banyak belajar neh, termasuk ke suhu jurnalistik Nur Huda!

  1. dari serial cerita ndopok karo ki enthus ..
    masalah tulisan, alurnya q agak bingung tik.. 🙂 but its ROCCKKS!!!
    masalah kesan, Ki ENTHUS so sweeett^^ ternyata nyleneh-e terbukti..! istilahe enak buat temen ndopok:D
    masalah pesan, blajar dari ki enthus,, kurangi tidur!! pikiran bakal TOKCEeRrr ! 🙂 🙂 heheheee

  2. ahahaha.. melas men yak pak mahfud..
    bonggane perek2 karo dalang kwe…

    ( kasihan seklai pak mahfud, salah sendiri dekat2 dgn si dalang ” ki Entus “

  3. lagi golet info tentang ki enthus, anjoge blog tika, telisik punya telisik ternyata cah tegal, dan ternyata sama-sama alumni SMAN 1 Slawi.. :))

    salam kenal,

    kangmasjuqi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s