Round Table Discussion (Ndopok Karo Ki Enthus 2)

Satu jam kemudian sekitar pukul lima sore, sebuah mobil CRV putih diikuti sedan Camry hitam memasuki halaman penginapan. Semua mata tertuju padanya. Perhatian Ki Enthus yang sejak tadi terpusat pada naskah pun ikut beralih.

Seorang bapak kemudian turun dari sedan Camry bernomor polisi AD 10 YE. Melihat sosoknya, Ki Enthus spontan berdiri menyambut beliau yang tak lain adalah dalang OYE, Ki Manteb. Ki Enthus memperkenalkan kami pada beliau dan istrinya yang ternyata orang Tegal juga. Balapulang, tepatnya.

Di detik itu, baru lah tembok di muka saya runtuh. Urat malu pun kembali terkoneksi. Tak perlu menunggu lama, kami langsung pamit undur diri.

Otak saya cukup panas. Bahkan temperaturnya sanggup membuang mood untuk kembali ke kos. Akhirnya pendinginan otak saya lakukan di kos Melan.

Panggilan dadakan bukan hal baru bagi saya semenjak jelajah dunia jurnalistik. Jadi ‘jembatan’ komunikasi tamu di Surabaya pun bukan hal asing. Mulai dari teman sekolah di Tegal sampai teman chatting dari negeri seberang, selalu berhasil saya atasi. Seperti tuan rumah (fiktif) pada umumnya, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk tamu. Apalagi orang Jawa bilang, tamu itu raja.

yang setia menanti di RM Bu Rudi
yang setia menanti di RM Bu Rudi

Tapi yang ini betul-betul membuat saya pusing. Bukan karena tamunya yang rewel, tapi sesama tuan rumah yang sulit diajak kompromi. Telinga saya dihujani pembatalan. Dari UNESA sampai UNAIR, semua membatalkan keikutsertaan mereka untuk ndopok bareng Ki Enthus dengan berbagai alasan yang (sepertinya) tidak bisa dibantah. Beginilah susahnya jadi pengangguran di tengah orang sibuk.

Booking di RM Wapo mau tidak mau harus dibatalkan, dan saya harus segera mencari rumah makan atau EMR yang buka sejak jam delapan pagi. Ki Enthus memang baru punya waktu jam delapan sampai dua belas siang.

Tidak hanya Arek Plat G yang sedang sulit diajak jakwiran, resto-resto andalan saya pun tak jauh berbeda. Ada yang sudah di-booking sehari penuh, ada yang baru buka jam sebelas, ada yang pasang charge gila-gilaan, rasanya situasi memang sedang tidak mau berdamai dengan otak panas ini. Mungkin karena akhir pekan, semua orang sedang ingin berkuliner ria keliling Surabaya. Beruntung Melan dan Nofrisca sempat mengusulkan RM Bu Rudi di bilangan Dharmahusada. Karena rumah makan itulah yang kemudian menyelamatkan saya.

The Right Man At The Worst Time

RM Bu Rudi kami book untuk jam 9 pagi. Meski begitu, jarkom yang mengalir adalah jam delapan dengan pengalaman masa lalu bahwa Indonesia kaya akan karet. Selalu molor urusan waktu!

Echank, The Right Man At The Right Table!
Echank, The Right Man At The Right Table!

Tepat jam sembilan saya menuju ke penginapan Ki Enthus bersama Echank, arek Plat G asal Tegal. Mantan Kahima Teknik Material dan Metalurgi ini lebih tau situasi Tegal daripada saya. Ayahnya pun cukup dikenal di sana. Dengan dua alasan tersebut, pastilah dia lebih nyambung dengan Ki Enthus ketimbang saya.

Di lobby penginapan, Ki Enthus tengah menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok tipe L alias Larang (mahal). Beliau masih mengenakan kaos putih dan celana panjang longgar mirip atlet Capoera.

Salut! Semalam Ki Enthus tampil hingga jam setengah dua dini hari, kemudian latihan untuk duel wayangnya bersama Ki Manteb. Setelah itu beliau keliling Surabaya berburu makan pagi yang terlalu pagi. Tepat waktu subuh tiba, Ki Enthus baru kembali ke penginapan untuk istirahat.

Dalam keadaan segar bugar, saya dan Echank duduk bersama Ki Enthus dalam satu meja bundar. Kami membicarakan banyak hal. Yang paling saya ingat adalah ketika kita bicara infrastruktur dan pendidikan di kampung halaman.

Belum lama ini di Kota Tegal dibangun sebuah obyek wisata Gerbang Mas Bahari Waterpark milik keluarga walikota Tegal, Ikmal Jaya. Letaknya tak jauh dari Terminal Kota Tegal. Sejak mendengar kabar ini, saya beranggapan bahwa walikota cukup memperhatikan masa depan Kota Tegal nuju Kota Metropolitan.

Gerbang Mas Bahari Tegal
Gerbang Mas Bahari Tegal

Namun, pada dopokan meja bundar itu Ki Enthus mematahkan anggapan tersebut. Menurut beliau, dengan membangun waterpark di tengah pemukiman Margadana justru mematikan potensi wisata yang sudah ada, yaitu Pantai Alam Indah (PAI). Semestinya yang perlu dilakukan Ikmal untuk mengembangkan Kota Tegal adalah memajukan obyek wisata yang ada, bukan membuat Kota Tegal semakin sesak dengan berdirinya obyek wisata baru. Apalagi obyek wisata tersebut sama-sama moda air dengan target market yang tidak jauh berbeda. Kemungkinan PAI mati suri justru menjadi lebih besar.

Ada topik yang menyentak logika, ada juga topik yang cukup menggelitik bagi saya. Ki Enthus dan Echank begitu serius membicarakan kelas immersi. Kelas immersi adalah kelas khusus dengan siswa kurang dari 25 orang yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Mereka berdua riuh berdiskusi tentang kelas immersi. Menurut Echank, kelas immersi akan dikatakan sukses kalau alumninya sekolah ke luar negeri. Padahal setahu saya tujuan awal dibentuknya kelas immersi adalah supaya lulusan sekolah Indonesia tidak kalah dengan lulusan luar negeri.

Tak mau kalah heboh, Ki Enthus pun menimpali pendapat Echank. Bagi dalang berambut gondrong ini, adanya kelas immersi merupakan upaya pemerintah untuk mengkotak-kotakkan generasi bangsa.

Ezih cilik bae wis dikotak-kotakna, ya gedhene angel akure,” (masih kecil saja sudah dikotak-kotakkan, ya kelak dewasa sulit akur) begitu katanya.

Diskusi tentang kelas immersi ini cukup seru. Kadang-kadang saya ikutan dengan opini yang tidak memihak. Saya memang tidak ingin mereka tahu bahwa salah satu orang di meja bundar itu adalah yang masuk kotak. Kalau mereka tau saya sempat berada di kotakan kelas immersi, mungkin ceritanya akan berbeda. Tidak ada lagi opini obyektif, garang, dan menggigit. Jadi, saya putuskan untuk menjadi pendengar yang baik dan menikmatinya.

Yang namanya dalang ketemu aktifis, ada saja yang dibahas. Bahkan Mbah Maridjan pun tak luput dari pembicaraan. Untuk masalah ini, mungkin pemikiran Ki Enthus agak nyleneh. Ia tidak menyalahkan keputusan Mbah Maridjan mengakhiri hidup bersama gugurnya Gunung Merapi. Ia hanya menyayangkan mengapa Mbah Maridjan tidak meminta tetangga-tetangganya mengungsi kalau memang juru kunci Gunung Merapi itu tahu betul situasi Merapi yang berbahaya. Memang, tugas Mbah Maridjan adalah menjaga merapi. Namun dengan pengetahuannya tentang sitausi merapi, semestinya bintang iklan minuman berenergi itu juga tahu kewajibannya menjaga sesama umat manusia.

Baru kali ini saya mendengar ada orang yang mengkritisi keputusan Mbah Maridjan mengakhiri hidup, sementara media mengagung-agungkan keputusan itu. Apalagi pendapat itu muncul dari otak manusia yang tidur kurang dari tiga jam sebelumnya.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, empat puluh menit kemudian Ki Enthus mengajak kami sarapan dengan menu prasmanan dari penginapan. Sarapan pagi itu adalah sarapan yang paling tidak menyenangkan seumur hidup saya. Sementara saya menikmati kemewahan menu penginapan, teman-teman arek Plat G tengah gelisah menunggu kami di RM Bu Rudi.

Tapi ya sudahlah, toh tenggorokan masih bisa kompromi untuk cepat-cepat menelan sarapan. Selesai sarapan, saya pikir Ki Enthus akan ganti ‘kostum’ dan bergabung dengan arek Plat G. Sayang, lagi-lagi perkiraan saya meleset. Ternyata beliau belum mandi!

Auch! Lagi-lagi saya dapat kejutan dari dalang Paguyuban Seni Satria Laras ini. Yang membuat saya lebih panik saat itu, setelah bersih diri kita belum bisa langsung menuju RM Bu Rudi. Ki Enthus harus marah-marah dulu! Why, why, why? Simak di curhat singkat Ndopok selanjutnya.. ๐Ÿ˜€

Iklan

4 pemikiran pada “Round Table Discussion (Ndopok Karo Ki Enthus 2)

    1. Hehehe.. Karena yg lagi saya buntuti emang Ki Enthusnya. Semoga lain waktu dapet kesempatan mbuntuti Pak Manteb deh. Thank you ya..

  1. wah, anda menulis cerita dgn baik sekali.. saya suka membaca ini.
    kebetulan saya kerabat SMA sdr. Echank…
    ga ad hbsnya ngbrol dgn dia,
    kcuali kal dah ngantuk.. ahahaha
    dtggu selanjutnya nih,,, penasaran

    salam

    ricky
    Urban and Regional Planning ’07
    UNDIP – SMG

    1. Wah, jadi malu.. Maturnuwun, Mas. Aku juga dari Tegal koq. ๐Ÿ˜€
      Hahaha.. dia memang orang hebat! ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s