Sebuah Kekacauan (Ndopok Karo Ki Enthus)

Tegal lagi, Tegal lagi. Hidup di Surabaya tak berarti saya tak punya cerita tentang Tegal, kampung halaman sing mbetahi lan ngangeni. Namun kali ini bukan cerita mengejar mobil plat G pinjaman atau motor plat G saya yang dikejar-kejar, melainkan tamu Plat G yang kita buru sejak dulu.

Berawal dari Rasa Rindu

Siapa tak kenal Ki Enthus Susmono. Dalang edan asal Kabupaten Tegal dengan wayang superstar sudah banyak dikenal khalayak khususnya pecinta seni wayang kulit. Tanggal 29 Oktober lalu, dalang kelahiran 44 tahun lalu ini bertandang di ITS. Bersama Ki Manteb, beliau akan duel, berlaga di atas debog pisang menutup Pagelaran Seni Dies Natalis ITS 7 dino 7 wengi.

Aksinya saat itu adalah yang kedua kalinya di ITS setalah perayaan hari jadi PPNS ITS. Kebetulan juga Arek Plat G, komunitas mahasiswa Surabaya asal karesidenan Pekalongan, lagi seneng-senengnya kumpul. Entah di Warung Pak Bas atau Taman Flora ex Kebun Bibit, sing penting gayeng!

Arek Plat G di Warung Pak Bas
Arek Plat G di Warung Pak Bas

 

Dalam forum kangen-kangenan itulah kemudian terbersit ide untuk mengajak Ki Enthus Susmono meluapkan rindu pada kampung halaman. Harapan kami tidak terlalu muluk-muluk. Yang penting ada orang yang bisa diajak ngomong ngapak-ngapak atau berbagi kabar tentang kampung halaman di sana. Meski hanya beberapa menit, kegiatan semacam itu sudah cukup menghibur sekaligus mengurangi rasa rindu kami.


It’s a “Yes!”, guys!!

Dua minggu sebelum ke Surabaya, saya menghubungi Ki Enthus melalui pesan singkat. Tiga atau empat halaman pesan saya kirim ke nomor pribadi beliau ba’da subuh. Tidak lama, bapak empat anak ini menelepon, mengiyakan ajakan kami. Girang bukan kepalang, segera konfirmasi itu saya lanjutkan ke Fahmi, ketua Plat G saat itu.

Satu hari menjelang keberangkatannya ke Surabaya, saya pastikan sekali lagi bahwa beliau akan tiba di Surabaya hari Jumat pagi. Dan di hari Jumat pagi saya pastikan juga beliau tidak ada agenda selain manggung untuk Dies Natalies keesokannya. Karena duelnya dengan Ki Manteb dijadwalkan hari Sabtu malam, saya asumsikan beliau free Jumat malam. Asumsi berlanjut jadi informasi dan kemudian instruksi untuk kumpul di meja 31 RM Wapo depan Kampus UNAIR hari Jumat ba’da isya. See? Semangat untuk bisa ndopok selalu membuat tangan dan pikiran kami bekerja ekstra cepat!

Jarkom (jaringan komunikasi) tersebar, konfirmasi kedatangan terkumpul. Ada cukup banyak Arek Plat G yang menyatakan kesanggupannya untuk hadir. Kuota memenuhi, segera saya informasikan ke Ki Enthus, lagi-lagi melalui pesan singkat. Maklum, mahasiswa.

Sekali lagi, pesan singkat saya dibalas dengan sebuah panggilan telepon. Beliau meminta saya untuk datang ke penginapan seketika itu juga. Glek! FYI, saat itu jam setengah empat sore, tiga setengah jam sebelum gathering alias ndopok!

Secepat kilat, saya segera meninggalkan kos. Khawatir mati gaya dan mati kutu, saya ajak dua sahabat saya, Melan si Anak Gaul Jakarta dan Nofrisca si Jancookers Surabaya.

Big No and Panic Disaster

Ki Enthus di teras penginapan
Ki Enthus di teras penginapan

 

Sore itu Ki Enthus tampak serius mempelajari sebuah naskah di kantin penginapan. Dengan muka tembok dan urat malu yang diputus, saya ganggu beliau. Maaf, saya terpaksa melakukannya sebab ini kali pertama saya ketemu langsung dengan dalang peraih rekor MURI tersebut. Tanpa muka tembok, saya bisa keringat dingin dan pingsan seketika karena panic disaster! Hehehe…

Resiko datang tampak muka (tembok), beliau tidak terlalu memperhatikan apa yang kami bicarakan. Perhatian beliau lebih banyak tercurah pada naskah di hadapannya. Ya memang sih Ki Enthus sempat menanyakan cincin pernikahan di jari manis kiri saya (yang memang kamuflase belaka). Tapi setelah itu perhatiannya kembali pada naskah.

Thanks God, masih ada tembok di muka saya dan urat malu ini belum tersambung kembali. Saya ganggu Ki Enthus dengan menanyakan kesediaannya ndopok dengan kami. Ternyata eh ternyata, malam itu beliau ikut tampil di pagelaran Ketoprak Kirun, cs. Ki Enthus mendapat peran sebagai raja. Jadi, ia mengusulkan menunda ndopok hingga pukul 12 tengah malam.

Are you kidding me?!” jerit saya dalam hati. Tiba-tiba saya terbayang wajah Fani, mahasiswi UNESA yang lugu dan selalu request antar-jemput tiap kumpul. Terbersit juga wajah Nurin, mahasiswi UNAIR yang begitu sibuk dan mungkin sudah terkapar kelelahan di tengah malam.

Rembugan, rembugan, n rembugan, akhirnya diperoleh kesepakatan untuk ndopok Sabtu pagi hingga waktu dhuhur. Alhamdulillah…

Eits! Ceritanya belum berakhir di situ. Kejutan demi kejutan masih harus saya hadapi!

Iklan

10 pemikiran pada “Sebuah Kekacauan (Ndopok Karo Ki Enthus)

    1. Hwaaa…. Spesial neh! Dapet hadiah ucapan terima kasih GRATIS!! Lho piye, enak to? Hahahaha…
      Hoe lebay deh.. Aku lho belajar dari kamu. Daya tahanmu untuk membuat tulisan yang panjang dan menjalani rutinitas yang lebih panjang itu masih dalam tahap penelitianku. Hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s