Pemudik Turun, Tanya Kenapa??

Ritual mudik lebaran bukan baru sekali atau dua kali terjadi di Indonesia. Seminggu sebelum hingga sesudah lebaran, laporan pandangan mata dari jalan terus mengalir demi kelancaran arus mudik serta arus balik. Di waktu yang sama, jalanan ibukota menjadi sepi seketika. Keramaian dan kepadatan berpindah ke daerah – daerah seperti Solo, Brebes, dan Jember. Rasanya gravitasi bumi berpindah ke kota-kota kecil hingga kemacetan pun berubah menjadi kesenyapan.

Tidak ada yang salah dengan fenomena mudik semacam ini. Bahkan dari sisi agama, sosial, dan ekonomi, tradisi tersebut membawa banyak kebaikan seperti yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan pengantar Sidang Kabinet Paripurna pada 2 September lalu. Pemimpin negeri ini paham betul situasi mudik dari tahun ke tahun lengkap dengan segala permasalahannya. Beliau tahu permasalahan besar yang terdengar klise adalah transportasi, dimana peningkatan jumlah kendaraan tak pernah selaras dengan peningkatan fasilitas jalan.

Ketika musim mudik lebaran tiba, semua kendaraan pribadi turun ke jalan. Sepeda motor dan mobil pribadi turut aktif menjadi penyebab kemacetan di jalan-jalan protokol. Bahkan, sepeda motor masih mendominasi angka kecelakaan jalan raya hingga 72 persen. Dengan membludaknya kendaraan pribadi saat mudik lebaran tidak bisa jadi dasar bahwa daya beli masyarakat Indonesia meningkat. Kalau kesimpulan premature ini jadi pegangan, maka yang terjadi sekarang di negara maju seperti Inggris, Singapura, atau Amerika adalah maraknya belanja kendaraan pribadi dan macet di sana-sini.

Yang sebenarnya terjadi pada fenomena transportasi mudik dari tahun ke tahun seperti boneka kayu Rusia, matryoshka. Ya, ada masalah di dalam masalah. Maraknya mudik dengan kendaraan pribadi lebih disebabkan oleh masalah mobilisasi di daerah tujuan. Mudik dengan sepeda motor tidak pernah nyaman dan aman. Tak jarang satu keluarga dengan dua anak bahkan lebih, dipaksakan menaiki satu sepeda motor saja. Padahal, mereka masih harus berbagi dengan koper, tas ransel, atau kardus oleh-oleh untuk kerabat di kampung. Apakah ini perkara daya beli atau peningkatan kesejahteraan? Sama sekali tidak.

Kalau perkara ini menyangkut daya beli atau kesejahteraan, barangkali keluarga tersebut lebih memilih menggunakan bis atau kereta api. Perkara sebenarnya adalah fasilitas transportasi umum yang belum mampu menjangkau hingga daerah terpencil. Kalau pun ada, tarifnya pasti naik dan sulit dijangkau pemudik terutama kelas menengah bawah.Inilah matryoshka kecil yang ada di balik matryoshka besar berupa kacaunya manajemen transportasi mudik. Bagi para pemudik, kendaraan pribadi mereka lah satu-satunya solusi agar silaturahmi dari satu tempat ke tempat lainnya tetap berjalan tanpa dipusingkan kenaikan tarif dan kelangkaan angkutan umum.

Apabila masalah transportasi di daerah ini dapat diatasi dengan baik, tentu pemudik tidak akan pikir panjang untuk memilih angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Apalagi bila dibarengi peningkatan keamanan di setiap angkutan umum, kemacetan yang hampir jadi langganan ini tidak akan terjadi.

Selain perkara transportasi daerah, ada faktor lain yang mempengaruhi pasang surut arus mudik tahun ini yaitu situasi ekonomi makro yang tidak mendukung rakyat kecil. Bahkan faktor tersebut juga membuat perkiraan pemerintah terhadap angka pemudik total dan pemudik dengan moda darat meleset jauh. Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Sudirman Lambali misalnya, memprediksi pemudik bersepeda motor tahun ini naik 33 persen atau 3,6 juta pemudik.Ternyata yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, pemudik bersepeda motor turun 15 persen dari 2,7 juta pemudik menjadi 2,3 juta pemudik.

Penurunan jumlah pemudik juga terjadi pada angkutan kereta api dan angkutan penyeberangan. Seperti yang dikatakan Menteri Perhubungan pada penutupan Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2010, pemudik dengan kereta api turun 1,59 persen menjadi 2,3 juta pemudik sedangkan moda laut turun 43 persen hingga 409.429 pemudik saja.

Ketika jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor, kereta api, dan moda laut menurun, pemudik dengan angkutan udara justru naik hingga 15,52 persen, jadi lebih dari 2,4 juta pemudik. Lebih dari itu, jumlah kendaraan roda empat yang menggunakan jasa penyeberangan juga naik 8,13 persen jadi 322.794 kendaraan.

Berdasarkan angka – angka tersebut, tampak jelas bahwa penurunan jumlah pemudik hanya terjadi pada angkutan untuk kelas menengah bawah saja. Sedangkan angkutan untuk kalangan menengah atas justru mengalami peningkatan yang mencengangkan. Hal ini menimbulkan kesan yang miskin tambah miskin, yang kaya makin kaya. Bagaimana tidak? Ketika masyarakat menengah atas disibukkan dengan urusan mudik, banyak masyarakat menengah bawah baru bisa memikirkan urusan perut lantaran naiknya harga beras, gula, dan bahan makanan pokok lainnya.

Semoga pemerintah belajar banyak dari fenomena mudik tahun ini, karena manajemen transportasi mudik bukan hanya perkara jumlah kendaraan yang tak selaras dengan jalan raya, tapi juga keterjangkauan transportasi daerah dan situasi ekonomi makro. Meskipun Presiden SBY mengatakan, “Jangan dilihat masalahnya, jangan dilihat repotnya, (mudik) itu membawa kebaikan,” namun selama kerepotan dan masalah ini belum terselesaikan, tentu kebaikan mudik akan semakin sulit diperoleh.

Iklan

4 pemikiran pada “Pemudik Turun, Tanya Kenapa??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s