Cangkir Kedua, Nona Melati untuk Tuan Teh

And when you drink your second cup, you will feel happy, and your brain will feel it’s flying

Jam lima pagi, mata saya belum terbuka sempurna. Pikiran pun masih terbawa bunga tidur. Seraya mengumpulkan nyawa, dua kaki dipaksa berjalan gontai, malas ambil air wudhu. Hari saya belum sepenuhnya dimulai.

Pagi di tepian kotaSementara itu di tepian kota, ratusan perempuan sudah duduk berhadapan di samping meja panjang. Di atasnya, setumpuk daun teh kering menjulang. Tiba-tiba seorang perempuan lain datang tergopoh-gopoh. Di tangan kirinya, ratusan bungkus teh kecil yang masih kosong terangkum dalam plastik kresek besar. Dua kresek besar dengan isi sama tergantung pasrah di tangan kanan. Kalau perempuan itu saya, barangkali sudah jatuh terjerembab hingga penyok tak berbentuk.


Ia terlambat bukan karena sengaja. Sebagai istri sekaligus ibu dari lima anak, ia harus mengawali hari dengan meladeni keluarga. Menyiapkan pakaian suami, memandikan anak-anak, menyediakan sarapan, belum lagi jerit tangis dan rewel si bungsu musti diatasi lebih dulu. Kalau sudah begitu, pekerjaannya sebagai buruh teh borongan jadi korbannya. Mau tak mau, ia datang terlambat agar anak-anaknya bisa berangkat sekolah dengan hati riang nantinya.

Sebut saja namanya Sari. Sudah tujuh tahun ia kerja di sini. Sudah tujuh tahun tangannya mengakrabi daun teh dan kertas-kertas balok.

Tanpa komando, Sari segera bergabung bersama kawanannya yang sudah duduk manis berlilit kain lusuh. Mereka bekerja berpasangan. Satu orang memasukkan daun-daun teh kering ke dalam kemasan, yang lain menutupnya dengan kedua tangan.

Cangkir2

Seperti magic, mereka bekerja cepat sekali. Bahkan saya perlu mengatur shutter speed kamera untuk menangkap gerakan tangan super cepat itu. Tangan kiri memegang sepuluh ‘losinan’, tangan kanan menguburnya dengan daun teh hingga memenuhi kertas yang dilipat bentuk balok itu. Yang duduk di depannya dengan sigap mengambil kemasan penuh daun teh tersebut.

Saya bayangkan RUSSIAN DANCE gubahan Peter Ll’yich Tchaikovsky mengatur gerakan itu di telinga mereka, 250 buruh borongan. Serba cepat, serba dinamis, serba indah. Satu persatu kemasan ‘losinan’ itu dimasukkan ke dalam cetakan kotak kecil agar berbentuk balok rapi, kemudian diberi perekat. Perekat yang bukan sembarang perekat.

cangkir2 2

“Kiye tah aci thok oh Mbak, karo banyu teh (ini hanya tepuk kanji saja koq, dengan air teh),” cerita Sari seraya membolak-balik kemasan ‘losinan’, memberi perekat di setiap sisi.

Losinan adalah sebutan untuk kemasan teh ukuran 10 gram. Dulu, teh seduh ukuran paling kecil ini dijual dalam satuan losin (baca: lusin) per pack. Saat itu genggaman tangan para pekerja mampu menyangga dua belas bungkus sekaligus di tangan kirinya.

Seiring waktu berjalan, entah ukuran tangan manusia yang semakin kecil atau tingkat kesulitan yang semakin tinggi, tangan itu hanya mampu menopang sepuluh bungkus. Kalau pun dipaksa dua belas bungkus, human eror yang terjadi terlalu besar. Daun teh tumpah berserakan di lantai, atau isi yang tak genap 10 gram jadi pertimbangan untuk mengurangi jumlah per pack menjadi 10 bungkus saja.

Teh seduh kemasan 'Thailand' dan 'Losinan'

Daun teh kering yang dikemas ini bukan daun teh biasa. Ia sudah melalui proses yang sangat panjang.

Meski jadi sentra teh nusantara, Slawi tak punya kebun teh yang luas untuk memenuhi kebutuhan nasional. Raksasa teh seperti Gunung Slamat (Sosro dan Poci), Gopek, 2Tang, dan Tong Tji memasok daun teh kering dari Jawa Barat. Daun teh yang mereka terima sudah dipisahkan berdasar kualitas dan dikemas dalam waring, kalau tak bisa disebut karung putih.

Walau begitu, pabrik teh tetap harus kembali membongkar waring dan memilah daun teh. Tak sedikit pemasok nakal yang mencampur daun teh dengan batang teh bahkan sampah anorganik seperti bungkus permen. Bila karung ini langsung dimasukkan ke mesin pemanggang, rasa teh yang dihasilkan akan pahit karena pengaruh batang teh. Apalagi kalau sampah anorganik ikut dipanggang, pasti rasanya tak karuan.

Sangat disayangkan bila kecurangan ini terjadi demi bertambahnya berat timbangan. Semakin berat bobot per karung, tentu uang yang diperoleh pemasok semakin banyak. Baru di titik ini saja pabrik teh harus menghadapi kecurangan. Padahal perjalanan daun teh kering masih sangat panjang.

Baru datang, banyak batang
Baru datang, banyak batang

Setelah dipilah, teh kering didiamkan dalam gudang setidaknya hingga tiga bulan. Setelah itu barulah diproses. Proses pengolahan dari daun teh kering biasa hingga menjadi teh seduh bisa dikatakan semi tradisional.

Setelah didiamkan di gudang penyimpanan, teh disemai supaya uap air yang terbentuk karena penyimpanan berkurang. Pak Jani bilang, daun teh mempunyai sifat panas. Karena itu setelah disemai teh harus segera disiram air. Segera setelahnya, teh ditaburi bunga melati.

Bunga melati yang digunakan pabrik teh Slawi dipasok dari wilayah-wilayah pantura terutama Pekalongan. Harganya jauh lebih mahal dari daun teh sendiri. Hari-hari biasa, harga sekilo melati setara dua paket Goceng restoran fast food. Kalau sedang sulit, harganya bisa mencapai 40 ribu per kilo, setara dua kaos Dagadu Jogja versi Pedagang Kaki Lima.

Melati putih yang manis, anggun, dan harum. Rasanya keanggunan yang dimiliki bunga melati memang harus dibayar mahal oleh produsen teh.

Jangan dikira membuat teh melati itu mudah, cukup mencampurnya dengan melati lalu selesai masalah. Seperti menjodohkan Tuan Teh dan Nona Melati, harus ada ‘chemistry’ cinta biar mereka bisa mesra.

Melati idaman Tuan Teh adalah melati kuncup yang dipetik sore hari. Yah, bisa dibilang Tuan Teh ini cuma mau Nona Melati yang masih perawan, biar ia jadi yang pertama merasakan wanginya.

Setelah dipetik dan dijual, Nona Melati ini langsung diarak ke pabrik. Tak kalah dengan Cinderella, ia pun punya deadline. Waktunya bahkan lebih singkat dari putri berkereta labu itu. Jam lima sore Nona Melati harus sudah masuk kereta kencana untuk kemudian dipertemukan dengan tuan teh. Jadi, jangan heran kalau setiap jam lima sore jalanan pantura akan semerbak harum melati.

Iklan

9 pemikiran pada “Cangkir Kedua, Nona Melati untuk Tuan Teh

  1. PERTAMAX…!

    Kayaknya repost deh, soale ak jg udah pernah liat secara langsung.
    Hehehe… ๐Ÿ˜›

    Tapi gak pa2, nais inpo…

  2. Hey, total ada lebih dari 5 teman saya yang pake template ini. Pasaran Mbak fesbukwati!
    Kalau mau eksis ganti ae.

    Tulisane, kyok insert investigasi, hahaha

    1. Ini baruuuuu aja ganti. Ada theme 2 kolom yg asik gag? Pokoke jangan putih.

      Belum taaau dia. Gini2 calon presenter Insert lho.. ‘Insert stamp here’, kayak surat2 bule..

  3. Mbak Tika, senang saya baca artikelnya ttg teh yang sangat informatif dan enak dibaca ini, dan kebetulan saya juga penggemar teh. Salam kenal dan silahkan berkunjung ke blog saya mbak.

    1. Hoho.. Terima kasih, Pak Anang. Lebih informatif lagi kalau mampir ke Slawi atau Tegal. Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s