Cangkir Pertama Tuan Teh

Siapa tak kenal teh? Meski bukan tradisi asli Indonesia, kebiasaan minum teh sudah menyatu dengan tradisi lain. Tengok saja menu Mc. Donald. Sejak lisensinya di Indonesia dibeli Sosro, sederet merk teh lokal turut bersaing mengalahkan minuman karbonasi buatan Londo Amrik. Fast food tidak lagi identik dengan soft-drink. Tapi.. Bagaimana ceritanya, daun teh ijo royo-royo yang sama sekali tidak wangi dan tidak indah itu bisa enak diminum?? Simak saja perjalanan Tuan Teh berikut dengan tiga cangkir teh seduh.

Cangkir Pertama, Si Kecil Peko

The story says if you drink one cup of tea, you feel relaxed and comfortable.

Teh yang biasa kita minum berasal dari pucuk daun teh yang disebut peko. Umumnya dari peko tiga, tiga pucuk daun teh teratas termasuk yang belum ‘mekar’. Namun ada juga yang memakai peko dua. Kualitasnya memang lebih baik, tapi lebih rapuh juga.

Memetik daun teh tidak bisa asal petik. Ada waktunya, ada tekniknya, dan ada atur ketinggiannya. Semakin tinggi pohon teh ditanam, daunnya akan semakin tebal. Kualitasnya pun semakin baik.

Bocah-bocah di tengah pohon teh siap petikUrusan kualitas daun teh, Pak Wikin ahlinya. Beliau adalah ‘juru kunci’ di pabrik teh tempat saya Kerja Praktek. Lidahnya menentukan profit perusahaan.

Kata Pak Wikin, daun teh kelas satu alias paling enak adalah yang berasal dari pohon di ketinggian lebih dari 1900 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian itu, sinar matahari tidak banyak berpengaruh. Ya, daun teh memang emoh panas, karena dia sendiri sudah mempunyai sifat panas. Tak heran bila perkebunan teh yang berada di lereng bukit umumnya juga menanam pohon pelindung, termasuk Kebun Teh Semugih Pemalang.

Petik Peko?
Petik Peko?

Jangan bayangkan memetik daun teh seperti memetik bunga mawar merah untuk tanda cinta. It’s not that easy. Terlalu sering memetih daun teh bisa menyebabkan gangguan kulit. Hm, getah teh memang sedikit ganas. Karena itu para pemetik teh selalu mengenakan sarung tangan bolong ala tukang ojek atau sarung jari di telunjukya. Jadi, kalau Anda melihat iklan teh di TV (termasuk iklan teh kemasan kotak itu) perhatikan jari tangan kanannya. Kalau dia tidak melindungi jari telunjuknya, Anda boleh yakin kalau ibu-ibu bercaping itu bukan pemetik daun teh melainkan pemetik teh kotak.

Jangan bayangkan memetik daun teh seperti memanen daun kemangi. Orang dulu hanya memetik kemangi perawan untuk sayur lalap. Kalau kemangi sudah berbunga, tidak boleh dihidangkan untuk lalapan. Kalaupun dihidangkan, rasanya akan hambar dan kasar. Berbeda lagi dengan daun teh. Semakin tua pohonnya, semakin mantab rasanya. Bahkan Kebun Teh Semugih saja masih memanen peko dari pohon usia 20 tahun hingga 100 tahun lebih.

O ya, meski saat diminum aromanya begitu sedap, daun teh yang masih hijau justru tidak berbau. Meski diremas-remas pun aroma tehnya tak tercium, seperti daun biasa.

Calon bunga teh
Calon bunga teh

Daun teh yang biasa diminum orang Indonesia adalah daun teh kering. Daun teh yang baru dipetik, dilayukan sekaligus diangin-anginkan. Setelah layu dan betul-betul kering, daun teh kering diayak berkali-kali dengan berbagai mesin untuk dipisah berdasarkan levelnya. Yang paling halus, Dust namanya. Biasanya Dust digunakan untuk teh seduh. Ah, jadi ingat lagunya The Scorpions. Tuan Teh paling seneng menyanyikan lagu ini, Dust In Teh Wind. “Duuuust in Teh wind. All we are drink Dust in Teh wind…”

Iklan

7 pemikiran pada “Cangkir Pertama Tuan Teh

    1. Betul sekaliiiiii…
      Yg kelas 1 atau Chocwi dieksport, dibahas lebih lanjut di Cangkir Kedua.. =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s