Posting Gag Jelas Bagian 1: Kimianya Berkomunitas

Disclaimer: Posting saya kali ini adalah posting gak mutu blas, hanya sebagai aktifitas supaya saya bisa terlelap. Hanya curhat, boleh tidak dibaca. ๐Ÿ™‚

Insomnia datang lagi dari arah lain. Hm, sepertinya memang harus ke Poli Psikologi lagi sebelum saya sakit jiwa. Namun, sepertinya ada yang lebih manjur di saat kita dalam tekanan selain Poli Psikologi, yaitu T E M A N.

Ada yang bilang, berteman itu jangan pilih-pilih. Really? Tidak sepenuhnya benar, apalagi bila dihadapkan dengan pepatah Jawa, “Ojo cedhak kebo gupak“. Jangan berdekatan dengan kerbau kotor. Namun ketika kita bergaul dengan sekarung mutiara sekalipun, tetap saja kita tak bisa ‘mesra’ 100% dengan SEMUANYA. Akan selalu ada teman dekat, sekedar teman, sahabat, atau sekedar tau. Ya, tarafnya selalu berbeda.

http://ambardhika.wordpress.com/2008/12/

Dulu saya memang tidak peduli dengan sebuah pertemanan. Sempat bikin geng, tapi malah bosan dengan lingkaran yang saya buat sendiri. Akhirnya, sejak saat itu saya tidak ingin membuat sebuah lingkaran. Karena lingkaran seeksklusif apapun itu, tetap saja lingkaran, memberi jeda pada semesta.

Komunitas bukanlah lingkaran yang dimaksud di sini. Saya pun ngefans dengan beberapa komunitas di sekitar saya.

IFLS, International Foreign Language Society

East Java Versity English DebateSepanjang hidup saya di kampus, komunitas ini adalah komunitas yang paling menyenangkan. Banyak kesamaan yang saya rasakan di sini, selain kegemaran dan kepedulian pada Bahasa Inggris. Lepas dari cas cis cus bahasa Inggris mereka, anak-anak IFLS cenderung cuek dengan suara di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang sering menerima cibiran lantaran sok British dan tidak nasionalis. But who care?? Show must go on! Mereka tak ambil pusing dengan suara itu, dan terus mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya, terutama dalam berdebat. Mereka adalah orang-orang yang sering menerima cibiran sebagai UKM dengan prestasi nol besar (dan layak tidak mendapat perhatian dari rektorat). But who care?? Show must go on! Mereka terus melanglang-buana keliling Indonesia membawa nama ITS sebagai adjudicator maupun debater.

Cukup tahu diri, mereka tidak pernah bermimpi mendapat sokongan penuh dari rektorat untuk bertanding debat di luar kota. Dibiayai uang pendaftarannya saja sudah bagus. Tak heran bila akhirnya mereka yang berduit lah yang lebih survive di sini. Bagaimana tidak, untuk sebuah kompetisi debat, uang pendaftarannya saja mencapai 1,5 juta rupiah per tim. Padahal ‘oleh-oleh’-nya (sekalipun menang) tak mampu mengembalikan harga itu termasuk penginapan, transport, apalagi pengayaan materi. Mereka memang tak pernah muluk-muluk bicara menang di panggung nasional, karena hire pelatih saja belum mampu. Tapi semangat untuk TERUS MENGIBARKAN BENDERA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER selalu ada dan membara.

Kalau ingin merefleksikan arek ITS, maka IFLS bukan jawabannya. Hingga kini, arek ITS identik dengan penampilan yang tidak rapi, bahkan rela tidak mandi. Kalau sudah begini, jaket himpunan solusinya. Ya ya, tugas kuliah yang menumpuk selalu menjadi kambing hitam situasi tersebut, tapi arek IFLS secara tidak langsung membantahnya.

Orang-orang IFLS selalu berpenampilan rapi, tampak intelek dan berisi. Kenapa mereka bisa cuek dengan suara sekitar? Karena mereka selalu memandang sebuah permasalahan dari berbagai sudut. Yang ini, mungkin karena mereka biasa mengikuti kompetisi debat, dimana debater dituntut untuk berpikir dari sisi afirmatif dan negatif.

Arek Lantai 6, ITS Online

ITS OnlineSebetulnya ini bukan komunitas, karena ada seleksi ketat untuk masuk ke wadah jurnalis online ini. Namun, dengan seleksi itu seperti ada satu suara yang di senandungkan arek-arek di lantai tertinggi di ITS ini. Mereka berani susah, mau kotor, dan heri (heboh sendiri). Inilah refleksi arek ITS, wajahnya penuh sesak dengan beban hidup, tugas kuliah, dan deadline. Kegemaran mereka akan film dan petualangan seperti disenandungkan dengan oktaf tertinggi. Meski juga menggemari hal yang sama, saya masih belum bisa menyamakan nada mereka yang rela berjam-jam di depan monitor butut untuk download film.

HERI juga menjadi nada paduan suara yang sering mereka senandungkan. Menjadi seorang wartawan, tentu yang ditemui adalah orang-orang yang sangat hebat atau sangat bobrok. Namun kalau wartawan humas ya nyaris tak mungkin mengangkat yang bobrok itu. Setiap bertemu dengan orang hebat, mereka akan mengupasnya habis-habisan di kantor. Barangkali inilah cara arek ITS Online bergosip, menguliti kelebihan seseorang hingga pembicaraan yang heri itu ditutup dengan decak kagum. Padahal, mereka adalah orang-orang under the radar yang sering mengundang decak kagum dari orang luar termasuk narasumber yang membuat mereka heri itu. ๐Ÿ™‚

Statistics Computer Course

Inilah komunitas yang paling dekat dengan saya. Kalau ada FPH alias Forum Peduli Hima, bisa jadi kami memilih untuk tidak ambil bagian. Kami mencintai Hima dengan cara yang berbeda. Tidak dengan menghabiskan waktu untuk rapat hingga larut malam, atau beradu argumen tentang pengkaderan, program kerja, dan pernik-pernik organisasi lainnya. Kami mencintai Hima dengan tidak membiarkan warga sebagai spesies gaptek. So simple!

Di antara dua divisi lain, SCC memang tidak terlalu menonjol. Tapi kami enjoy dengan ketidak-menonjolan ini. Tidak ada beban nama besar yang harus kami tanggung. Kami berkumpul, bertukar info, berpura-pura menjadi geek, dan kami mengeluarga tak mengenal angkatan.

Alumni Workshop Menulis Asma Nadia

Alumni Workshop Menulis Asma Nadia SurabayaSebetulnya masih terlalu dini saya mencintai komunitas ini. Didominasi kaum hawa (karena hanya ada satu pria), komunitas tersebut sukses membakar sumbu malas saya untuk menulis hingga sumbunya hangus dan habis. Kami bertatap muka dan saling mengenal hanya beberapa jam saja, tapi setelah itu ukhuwah yang terjalin selalu membuat saya terbengong.

Setelah workshop usai, kami disatukan di jejaring sosial Facebook. Tak jarang mereka bertanya siapa saya. Namun ketika saya jawab bahwa kita satu atap dalam Workshop Menulis Asma Nadia, mereka akan welcome seketika. Tak canggung mereka menggunakan sapaan ukhti atau sist satu sama lain. Hangat. Komunitas ini adalah komunitas berani malu, pamer karya untuk dikomentari sepedas-pedasnya bahkan oleh Mbak Asma sekalipun.

Saat ini, Alumni Workshop Menulis Asma Nadia tengah menyusun sebuah buku kumpulan cerpen atau antologi. Kami menamainya Antologi Cinta. Meski sadar diri sebagai penulis pemula, rasa optimis mereka tak goyah sedikit pun untuk terus berkarya dan PDKT dengan penerbit. Untuk terbentuknya komunitas ini, kami berhutang banyak pada Mbak Asma Nadia, Om, eh Bang Isa Alamsyah, dan tentunya Asma Nadia Publishing House.

Itulah 4 besar komunitas yang paling membuat saya nyaman mengingatnya. Selalu ada chemistry untuk bisa dekat dengan mereka. Bagaimana dengan Anda? Komunitas mana yang Anda suka?

Iklan

4 pemikiran pada “Posting Gag Jelas Bagian 1: Kimianya Berkomunitas

  1. Commend ah,mjawb prtnyn d atas.
    [kykna q plg rajin c0mmend, hrusny ada hadiah bg pngunjung blog yg traktif, trcantik, dan tr’update’ sprtiQ mb ^^]

    Komunitas brpengaruh trdekatQ dari yg paling lama hingga yg paling baru —>
    1.CIS (alumni tmn2 SMA3 Madiun kls SBI yg cuma 47 org)
    2.CB Comm (kmpulan ank muda gerejaku d Madiun)
    3.HIMASTA tercinta *beginilah caraQ mencintainy: rapat tngah mlm, berdebat, mnyusn proposal, mngadakn kgtn, dn hal2 laen yg org laen pikir ‘wht for?’*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s