Inilah Kisah Mahasiswa Palestina di ITS

Menjadi seorang mahasiswa Palestina yang tengah menempuh pendidikan di Indonesia ketika negeri asalnya selalu diguncang perang, bagaimana rasanya? Nidal A M Jabari, seorang mahasiswa doktoral di Teknik Elektro ITS tahu benar jawaban pertanyaan tersebut. Secara ekslusif ia bercerita banyak kepada ITS Online. Mulai dari cerita studinya di ITS hingga sebuah mimpi besarnya.

Surabaya, ITS Online – Nidal adalah ketua jurusan Computer Science di Palestine Technical College di kota Hebron, Tepi Barat (West Bank). Di tempat yang jaraknya sekitar 35 km dari kota Jerusalem inilah Nidal telah mengajar selama 14 tahun. Selain itu, ia juga mengajar sampingan di Al Quds Open University yang berpusat di Hebron. Ini merupakan semester pertamanya di ITS.

Ketika ditemui untuk wawancara, Nidal baru saja kembali dari negaranya. “Ada tiga alasan mengapa saya kembali ke Palestina,” ia bercerita.

Yang pertama, adalah masalah yang dihadapi oleh keluarganya. Seorang istri dan empat orang anak yang ia tinggalkan di negaranya tersebut sering diserang di rumahnya oleh para pendatang Israel yang menetap di daerah tersebut. Mereka sering menghujani rumahnya dengan batu, bahkan dengan senjata tajam. Nidal segera membangun sebuah tembok yang mengelilingi rumahnya untuk melindungi keluarganya.

Selain masalah tersebut, keluarganya juga ternyata mengalami masalah finansial. Nidal mengatakan sangat susah untuk mencari pinjaman uang bagi keluarganya tersebut dari orang lain. Alasan ketiganya adalah untuk mencari data bagi tesisnya dari open university tempatnya mengajar.

Kisah Nidal sekaligus menggambarkan keadaan Palestina saat ini. Padahal ia berasal dari daerah Tepi Barat, yang saat ini relatif sepi dari konflik. Tidak seperti kawasan Gaza, yang mengalami blokade dari berbagai arah dan hingga sekarang masih penuh dengan konflik antara tentara Israel dan Palestina.

Mengenai serangan tentara Israel terhadap kapal bantuan bagi penduduk Gaza baru-baru ini, Nidal berkata bahwa kejadian itu sudah biasa. “Kapal-kapal bantuan berlayar ke Gaza setiap hari, dan tidak ada yang berhasil masuk,” tuturnya. Kejadian di kapal Mavi Marmara baru menjadi sorotan dunia karena tentara Israel membunuh dan melukai para awak kapal.

Karena perang, rakyat Palestina benar-benar tak bisa merasakan kehidupan yang tenang. Tak pernah ada rutinitas harian. Nidal bercerita, tiap hari ia harus mengganti rute perjalanannya saat hendak mengajar. Sebab, tentara Israel selalu siap menghadang perjalanannya. Untuk itu, Nidal selalu mengambil air wudhu sebelum berangkat kerja. ”Karena saya tak tahu apa saya bisa kembali setelah pulang mengajar,” ujarnya lirih.

Nidal pun pesimis bila jalur negosiasi bisa menghentikan perang yang sudah puluhan tahun terjadi ini. “Perang ini sudah menjadi bagian hidup kami. Saya pikir tak akan berhenti bila salah satu pihak mengalahkan pihak yang lain,” lelaki berperawakan tinggi ini berkata.

Tetap Semangat Belajar di Indonesia
Nidal bisa belajar di Indonesia atas bantuan teman-temannya. Sejak menyelesaikan kuliah pertamanya di Italia, ia sering bepergian. “Saya sudah mengunjungi 22 negara, termasuk Italia, Jepang dan India,” tuturnya. Dari perjalanan-perjalanan tersebut ia menemui banyak teman dari Indonesia. Merekalah yang membantunya mendapatkan beasiswa untuk studi S3 di ITS.

Apa yang membuat dia tetap bertahan melakukan studinya meskipun dengan keadaan tidak menentu di negeri asalnya? “Ya, kalau saya punya kesempatan, kenapa tidak saya manfaatkan,” jawabnya mantap. Tetapi ia juga tidak bisa melepaskan rasa sedihnya mengenai keluarganya, “anak-anak saya saat ini hidup seperti di dalam penjara, tidak tahu mengenai dunia luar.”

Hari-hari ini, Nidal lebih sering menghabiskan waktunya di laboratorium tempatnya bekerja di Teknik Elektro. Ia mengaku ‘hidup’ di situ, meskipun ia sebenarnya diberi sebuah kamar di asrama. Alasannya memang sederhana, “panas,” ia tertawa kecil.

Lepas dari masalah iklim, Nidal sangat menyukai Indonesia. Ia sangat menghargai keramah-tamahan orang Indonesia, suatu hal yang tidak ditemuinya di Italia maupun negara-negara lain yang dikunjunginya. Ia dengan cepat mengerti bahasa Indonesia. Namun, sivitas Elektro tak memberinya kesempatan berbahasa Indonesia.“Karena mereka ingin sekaligus belajar bahasa Inggris ketika berbicara dengan saya,” jelasnya sembari tersenyum.

Di laboratorium yang ber-AC ia bisa dengan tenang mengerjakan tesisnya yang berjudul Agent-Based Adaptive Discussion Room (ABADR). Di dalam tesisnya itu, Nidal ingin menuntaskan beberapa problem yang dihadapi oleh para dosen maupun mahasiswa dari sebuah open university (pembelajaran tingkat universitas berbasis e-learning) agar proses belajar-mengajar di dunia maya tersebut bisa lebih dinamis melalui penggunaan intelligent agents.

Nidal berharap besar untuk studinya, tetapi tidak sama besarnya dengan masa depan rakyat Palestina. Ia belum bisa melihat sebuah harapan bagi kebebasan negaranya. Selain itu, memang sangat tidak mudah berspekulasi mengenai Palestina. Tetapi ia mempunyai sebuah mimpi global yang besar. “Saya bercita-cita akan sebuah united nations of Islam (persatuan negara-negara Islam),” ia mengakhiri. (lis/yud)

Sumber: http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7005

Iklan

2 pemikiran pada “Inilah Kisah Mahasiswa Palestina di ITS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s