Rujak Teplak dari Emak

Orang Jawa bagian mana yang tak kenal rujak? Dari ujung barat hingga ujung timur, saya yakin semua tahu hidangan nuansa pedesaan yang satu ini.

Kata Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya download, rujak berarti makanan yg dibuat dr buah-buahan sering disertai sayuran yg diiris (ditumbuk dsb) kemudian diberi bumbu yang terdiri atas asam, gula, cabe, dsb banyak macamnya spt rujak tumbuk; rujak ulek.

Merujuk pengertian tersebut, apakah sesuai untuk Rujak Cingur Surabaya? Tidak banyak sayur apalagi buah-buahan di sana, melainkan cingur sapi, kulit daerah mulut dan hidung.

Itulah rujak. Seperti layaknya bahasa dan budaya, setiap daerah memiliki ciri masing-masing tentang rujak. Begitu pula Tegal. Kalau orang Surabaya punya Rujak Cingur, orang Tegal punya Rujak Teplak.

Di Sudut Kota Bersama Rujak Teplak

Tegal Kota Bahari, kalau siang tentu panas begini. Hilir mudik bis antar kota, truk, hingga tronton terus saja berlalu tanpa permisi memutlakkan panasnya jalanan pesisir utara. Mereka tak peduli keringat mengucur di dahi abang becak atau tukang ojek, meski sama-sama pelanggan ‘goyang’ pantura (baca: goyang gelombang aspal).

Sementara itu, di sudut Jalan HOS Cokroaminoto, seorang wanita paruh baya peduli dengan kesemrawutan itu. Di sudut yang tak lebih dari dua meter persegi, ia duduk di atas dingklik. Tenong yang dulu digendongnya, kini ikut ‘mojok’ di situ. Di atas tenong itu, digelar daun ‘pecelan’ dan sambal jingga kecoklatan.

Dialah Emak Teplak, penjual rujak teplak yang dengan segala kesederhanaannya setia di ujung jalan, nyempil di sudut luar toko Mitra.

Emak Teplak
Emak Teplak

Sudah dua puluh tahun lebih ia menghabiskan siang di sudut itu. Dari sudut tersebut, ia saksikan pasang surut Kota Tegal. “Awit jaman jaya-jayane Dana,” kata Emak saat mengisahkan permulaannya saat berdagang. Tegal dua puluh tahun lalu belum seramai sekarang. Karena itu Mak Teplak tak ragu menggelar dagangan teplaknya di seberang Bioskop Dana, bioskop paling ramai di Tegal saat itu.

Waktu berlalu, Kota Tegal terus tumbuh dan membangun. Mak Teplak menyaksikan Bioskop Dana bangkrut dan berganti menjadi minimarket khusus perlengkapan bayi. Dari sudut pertigaan antara Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Gajah Mada, kedua matanya jadi saksi bagaimana pantura berkembang, semakin padat dengan kendaraan yang semakin berat.

Rujak Teplak
Rujak Teplak

Lebih dari itu, Mak Teplak pun menyaksikan bagaimana pelanggannya tumbuh dewasa hingga berkeluarga.

Gemiyen tah wonge mene dijak manene. Saiki malahgen wis nduwe anak. Dong awan, lubare nyambut gawe mampir mene ndhisit. Mengko yen preinan anake dijak mene,” kisah Mak Teplak tentang seorang ibu muda langganannya.

Dulu, perempuan itu datang pada Mak Teplak bersama ibunya. Dua puluh tahun berlalu, ceritanya sudah berbeda. Setiap pulang kerja, perempuan yang kini jadi ibu muda itu mampir untuk sepincuk rujak teplak. Di hari libur, biasanya ia mengajak anaknya serta.

Kemesraan Sayur Di Pincukan Teplak Emak

Pecel Madiun dan Pecel Semanggi
Pecel Madiun dan Pecel Semanggi

Rujak teplak adalah kemesraan sayur-sayuran yang tak seanggun Pecel Madiun namun begitu menggoda selera. Gula merah singkong rebus membuat sambal teplak lebih cantik dari Pecel Semanggi.

Di atas tenong Mak Teplak lah sayuran Rujak Teplak memadu kasih. Mereka terdiri dari daun kangkung, tauge, pare, mentimun, bunga pisang, kacang panjang, daun singkong, daun lengguk, daun lompong, dan daun pepaya. Terkadang, tahu putih dan tahu aci turut serta. Kemesraan itu terasa semakin erat dengan sambal teplak dan parutan kelapa.

Sayur Mesra Teplak
Sayur Mesra Rujak Teplak

Bagi yang belum pernah merasakan sambal teplak, bayangkan saja sambal pecel semanggi. Bahan dasarnya memang mirip yaitu singkong rebus yang dihancurkan dan gula merah. Selain itu ada juga kacang goreng dan sedikit kencur. Namun, rujak teplak tidak menggunakan krim penghitam yang disebut petis. Ia lebih mengunggulkan perpaduan rasa singkong rebus dan cabai merah.

Ada kalanya sambal jingga ini berkolaborasi dengan parutan kelapa tua. Mak Teplak memarut kelapa untuk teplak dengan kedua tangannya sendiri. Bukan tak percaya pada mesin parut, chopper, grinder, atau alat penghancur lain, Mak Teplak hanya tak mau pelanggannya lari karena kelapa parutannya tak bersahabat dengan santan.

Sungguh keluarga pincukan yang mengesankan.

Seperti halnya pecel Madiun dan pecel semanggi, rujak teplak pun punya sahabat karib. Rempeyek kacang adalah sahabat karib pecel madiun, sedangkan pecel semanggi punya kerupuk uli. Rujak Teplak tak mau kalah. Ia punya dua sahabat karib: anthor dan kerupuk kuning yang digoreng dengan pasir. Anthor adalah kerupuk kecil yang dibumbui parutan kelapa kering.

Kemesraan rujak teplak ini membawa berkah tersendiri bagi Mak Teplak. Dengan menghadirkan kemesraan itu di tengah keluarga Tegal, ia bisa meraup untung tiga ratus ribu rupiah per hari. Rasanya memang begitu khas dan pas. Tak heran pelanggannya datang dari berbagai penjuru negeri.

Mak Teplak sering mendapat pesanan sambal teplak kering hingga berkilo-kilo dari Wong Tegal yang hendak berangkat nuju negeri rantau. Bahkan Mak Teplak sering diundang ke luar negeri untuk menghidangkan rujak teplak buatannya. Walau begitu, kesederhanaan Mak Teplak tetap melekat di pincuknya. Ia tak ingin membuat sebuah warung bahkan restoran untuk rujaknya.

Dengan segala kesederhanaan itu, ia tetap menempati sudut kecil di ujung Jalan HOS Cokroaminoto Tegal.

Tetaplah begitu, Mak. Di sudut kecil dan pincuk mesramu, romantisme rujak teplak akan selalu ada..


Iklan

16 pemikiran pada “Rujak Teplak dari Emak

  1. wah, sampe diundang ke LN?
    ini satu2nya di dunia ya, soalnya kalo yg jualan namanya mbok Teplok, nama rujaknya jadi rujak teplok, he he he

    1. Ya, saya rasa tidak ada negara yang punya rujak teplak selain Indonesia. Hehehe… Eh eh, kalo jualan ‘keplak’ (baca: pukul) bukan Mak Keplak lho, tapi Mak Sadis! Hehehe…

  2. whaaaaa, bagi lidah yang kurang bersahabat dengan sambel, bisa dipastikan bahwa rujak ini bakal bikin mulut serasa terbakar..

    (pengalaman pribadi, dari orang yang gak doyan pedes. hehehehehe..)

    1. Tergantung.. Kalau bilang Mak-nya biar dibikinkan yang nggak pedes ya nanti dikasih yang nggak pedes. Solusi lain, beli pemadam kebakaran lidah juga di sampingnya: ES DUREN… Slrrrrpp!! πŸ˜›

    1. Kalo aku bilang sih perpaduan pecel madiun ama pecel Semanggi. Jadi sayurnya kayak pecel Madiun, sambelnya kayak pecel semanggi. Penasaran? Ayo, ke Tegal nyobain. πŸ˜‰

  3. Mak teplak dengan rujaknya terbukti lebih legendaris ketimbang gedung bioskop yah?

    denger-denger dia mau buka cabang di Los Enjles dan Nu Yok, kalok ndak salah namanya McTeplack Hot Fruits…

    1. Beda jauuuuh, lebih mirip pecel Semanggi daripada rujak cingur. Jadi, saya sarankan ‘nyicipi’ aja langsung di Tegal. πŸ™‚

  4. Wah jadi pengen makan rujak teplak nih….jadi ngilerrrrrr…rencananya lebaran mudik trus pengin makan rujak teplak sepuas-puasnya…….

    1. Sip sip! Cocok banget tuh! O ya, selama bulan puasa si emak baru buka jam 3 ampe 6sore lho.. Kalo mau ngrujak, saya nggak nolak untuk diajak. πŸ˜€

  5. Mba, mak teplak ini jualannya di samping toko mira ya? Apa di bekas hotel dana nya ? Koq aku nyari ngga ada (kalo pas pulang kampung)

  6. ass,,mbh,,kmpng ku jg ditegal pesengkmgan daerah pasa sore,,aku wis sue nang aceh,kangen bngt jajanan tegal apalagi rujak teplak,rujak bebek,,tlong kirimi resep dan cr gawene,,,trim,s…

  7. Hmm aku juga jd kangen tegal.., kotaku tercinta. Waktu aku kecil setahuku namanya pecel krn memang mirip pecel. Dulu kalau beli di alun2 dpn masjid Agung yg kemudian pindah di lapangan PJKA..

  8. Semoga pedagang2 makanan legendaris kayak mak teplak gak digusur karena kaki lima…harus dilestarikan..makanan daerah adalah warisan budaya…hidup rujak teplakkkkk,hidup krupuk antor…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s