Tetangga Pak Ustadz Namanya Parisada

Plang kecil
Plang Kecil Pura Mitra Kencana Dewa

Akhirnya, setelah hampir enam bulan mendekam di penjara rutinitas kampus, berhasil juga saya kabur nuju kampung halaman: KABUPATEN TEGAL, BUMI KANG MBETAHI LAN NGANGENI. Meski tak terlalu lama di rumah, Pe eR yang harus saya kerjakan cukup banyak. Umumnya terkait dengan city branding.

Bapak dan Pak Tarno
Bapak dan Pak Tarno

Pulang ke rumah, berarti bertemu Bapak. Bertemu Bapak, berarti akan ada kehebohan dan perjalanan yang seru. Itulah ‘pulang’ bagi saya. Kali ini, Bapak mengajak saya ke sebuah pura.

“Kalau Mbak Lusi ke sini, pasti mampir ke pura itu. Katanya, ini pura yang paling dikenal di Jawa Tengah,” cerita Bapak. Mbak Lusi adalah sepupu saya dari keluarga di Sidoarjo yang beragama Hindu. Keluarga kami memang keluarga Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan suku, bahasa, dan agama tidak pernah menjadi halangan untuk menyambung tali silaturahmi. Almarhum Eyang pernah berkata, “Kalau mau jadi orang Katolik, ya jadi Katolik taat. Mau Islam, ya Islam taat!”.

Prinsip serupa sepertinya berlaku bagi masyarakat Kabupaten Tegal. Dengan penduduk mayoritas beragama Islam, kabupaten ini adalah kabupaten yang religius dan beradab. Ketika Indonesia bergejolak tahun 1998, Kabupaten Tegal seperti dilingkari pagar gaib hingga tak terpengaruh huru-hara terlebih lagi penjarahan.

Saya mengagumi kabupaten ini dengan segala kedamaian yang tercipta. Meski logatnya cukup kasar didengar, Wong Tegal adalah pecinta kedamaian yang sebenar-benarnya. Mereka sangat bisa menghargai perbedaan, bahkan perbedaan agama sekalipun.

Adanya salah satu pura yang dikenal di kalangan umat Hindu di Jawa Tengah adalah salah satu bukti toleransi yang tercipta.

Sutarno dan Kori Agung
Sutarno dan Kori Agung

Pura Mitra Kencana Dewa terletak di Desa Dukuhwringin, Kecamatan Slawi. Mayoritas penduduk di kecamatan tersebut adalah penganut agama Islam yang cukup kuat. Banyak kyai dan ustadz tinggal di sana. Tak kurang dari satu kilometer tempat pura berdiri, terdapat komplek pondok pesantren yang cukup dikenal. Bahkan MTs di komplek tersebut dijadikan sebagai MTs Model, MTs terbaik di Kabupaten Tegal. Selain itu, letak pura ini tak jauh dari masjid tempat Bapak melakukan manasik haji. Wew!

Meski berada di kecamatan yang merupakan ibukota kabupaten, letaknya cukup tersembunyi, jauh dari hingar bingar kota. Bangunannya tak terlalu mewah, berada di tengah pemukiman penduduk yang rindang oleh sasak-sasak bambu di tepi aliran sungai jernih. Pura ini seperti ditakdirkan ‘duduk’ di sana, bak pertapa yang haus kedamaian. Di balik sasak bambu, terbentang hamparan padi hijau. Suasana pedesaan yang sempurna!

Adalah Pak Sutarno, pemangku di pura tersebut. Kalau dalam Islam, bapak dua anak ini seperti imam masjid. Beliau yang menyambut saya dan Bapak saya. Pak Tarno juga yang menuturkan setiap jengkal kisah pura Slawi ini. Namun sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan nama atau penjabaran, karena pengetahuan saya tentang pura dan Hindu sangat minim sekali. Karena itu, yang akan saya tulis di sini adalah apa yang dituturkan Pak Tarno.

Pura Kecil Sarat Makna

Pura Mitra Kencana Dewa dibangun tahun 1982. Dibanding pura yang saya temui di Surabaya dan Bali, pura ini tergolong kecil. Namun, seperti pura pada umumnya, Pura Mitra Kencana Dewa sarat makna, termasuk pembagian tiga ruangannya: Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.

Nista Mandala
Nista Mandala

Ketika hendak memasuki pura, gapura kecil dengan ukiran Makutha Gatotkaca yang pertama menyambut kita. Di situlah Nista Mandala. Gapura dengan cat dominan berwarna hitam, ditambah pahatan Swastika dan Ongkara terlihat unik, beda dari gapura lain pada umumnya. Yang menjadikan gapura ini berbeda adalah dua Makutha Gatotkaca di tiap sisi gapura. Makutha tersebut seolah-olah mengisahkan sejarah berdirinya pura, yaitu dari kepercayaan seorang Jawa.

Satu lagi yang menggelitik mata dari gapura ini. Di sebuah forum online, Swastika dalam Hindu disebut juga Svastika. Arahnya mengikuti perputaran bumi atau searah jarum jam. Sedangkan Swastika versi Nazi memiliki arah sebaliknya, mirip dengan Swastika Budha atau Sauvastika. Nah, kedua Swastika tersebut menghias gapura yang baru dibangun tahun 2002. Sauvastika di gapura kiri (dilihat dari dalam), dan Svastika di gapura kanan.

Poster Puja Tri Sandhya
Poster Puja Tri Sandhya

Masih di Nista Mandala, terdapat sebuah balai yang disebut Bale Wantilan. Biasanya, balai tersebut digunakan pelajar Hindu di Slawi untuk memperdalam pengetahuan agamanya.Di balai tersebut dipajang foto Mbah Kargo, pendiri pura saat masih muda. Promise, gagah sekali! Hehehe.. Selain itu ada pula poster yang dibingkai berjudul Puja Tri Shandhya. Saya tidak tahu pasti yang dimaksud dalam poster tersebut.

Namun, kata Pak Tarno, Tri Shandhya adalah tiga waktu utama bagi umat Hindu untuk berdoa. Tiga waktu tersebut adalah pagi hari ketika mentari mulai merekah, siang hari kala mentari tepat di atas kepala kita, dan sore atau senja saat mentari mulai tenggelam.

Di seberang Bale Wantilan terdapat sebuah taman kecil. Ada pohon Dhadhap Serep di sana. Kata Bapak, saat beliau masih kecil, daunnya digunakan sebagai kompres penurun panas.

Pak Tarno membenarkan cerita Bapak. “Itu Kayu Wasiat,” tutur Pak Tarno menguatkan. Pak Tarno kemudian mengisahkan bahwa pohon Dhadhap Serep mampu menyembuhkan banyak penyakit. Karena itulah pohon tersebut dinamakan Kayu Wasiat.

Saya tak tahu pasti yang mana Madya Mandala. Namun, Utama Mandala jauh lebih menarik untuk digali. Setelah melalui Kori Agung, tampak tiga candi di Utama Mandala, yaitu Padma, Candi Gedhong, dan Candi Panglurah. Candi Gedhong adalah candi utama sebagai representasi Batara Shiwa. Sedangkan Candi Panglurah untuk para leluhur.

Candi Padma
Candi Padma
Candi Gedhong
Candi Gedhong
Candi Panglurah
Candi Panglurah

Pura dari Kebatinan

Mbah Kargo jaman nom-noman
Mbah Kargo jaman nom-noman

Pura Mitra Kencana Dewa didirikan tahun 1982 oleh Kargo Hendro Srijati, atau Mbah Kargo. Awalnya, Mbah Kargo bukanlah penganut agama Hindu. Ia percaya pada ‘Kebatinan’, sebuah kepercayaan tentang ketuhanan yang banyak dianut orang Jawa pada jaman dahulu. Di awal berdirinya pura, Mbah Kargo sama sekali tidak bermaksud untuk membuat tempat sembahyang umat Hindu. Ia hanya ingin para penganut kepercayaan Kebatinan punya ‘wadah’.

Lambat laun, ‘wadah’ itu pun digunakan untuk bersembayang, khususnya oleh penganut agama Hindu. Dan Mbah Kargo pun kemudian memeluk agama tersebut.

Sebetulnya Mbah Kargo bukan penduduk asli Slawi. Ia datang dari Banyumas dan meminang gadis Dukuhwringin. Mbah Kargo kemudian menjadi tokoh bagi penduduk setempat. Tak lama berselang, Mbah Kargo menjadi pimpinan parisada Dharma Hindu di Kabupaten Tegal. Parisada merupakan suatu perhimpunan atau semacam majelis umat bagi pemeluk agama Hindu.

Kini Mbah Kargo menghabiskan masa tuanya di Slawi Kulon. Tahta Parisada Dharma Hindu kini dipangku putranya, Luwih Sri Slawiyanto.

Iklan

15 pemikiran pada “Tetangga Pak Ustadz Namanya Parisada

    1. Tengkyu tararengkyu..!! =)
      Blogmu juga lebih bagus koq, Feb. Lebih ‘padat berisi’. ๐Ÿ™‚

  1. mba,,di kota tegal jg ada pura,, ayo diliput jg,,,hueehee…. hmm,,menurutmu city branding nya kota tegal apa…?? masa kota bahari yah……

    1. Ayo bawa aku ke sana. Eh, Kota Bahari-nya Tegal tu unique lho.. Banyak sejarah bermula di sana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s