Four Thumbs Up Penulis Indonesia!

Akhir pekan selalu sukses jadi alasan bermalas-malasan. Apalagi ketika hujan sudah lebih dulu terbangun sebelum mata kita. Hm, udara pagi yang sejuk dan ‘basah’ adalah harta karun terindah bagi siapapun yang bosan dengan panas Surabaya.

Itulah yang terjadi pagi ini. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 7.30, kelopak mata saya masih enggan bercerai. Badan pun semakin mesra dan intim dengan kasur. Kalau sudah begini, yang biasanya saya lakukan adalah mencari remote TV Tunner, membiarkan ocehannya menarik perhatian hingga mata ikhlas terbuka.

Ketika tangan meraba mencari teman tidur paling setia setelah handphone, otak saya ‘salto’. Ia melompat, berputar ke belakang hingga memori beberapa hari lalu. Hari ketika saya harus ‘menyekolahkan’ monitor PC ke kios bersemboyan Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah. Berkolaborasi dengan TV Tunner, monitor inilah yang biasanya membangunkan pagi saya. Namun, untuk sebuah workshop atau pelatihan, tak apalah ia istirahat sejenak di sana.

“Yang penting saya harus hadir di tengah cerpenis Surabaya tanggal delapan nanti,” gumam otak ndhridhis (banyak tingkah) saat itu.

Kata-kata otak ndhridhis inilah yang akhirnya sukses membangunkan saya, dan menyadarkan saya sesadar-sadarnya.

Pukul setengah sembilan, hujan pamer daya. Sepertinya ia hendak menguji keniatan saya.

“It’s not that easy, Mr. Run!” batin saya sombong seraya masuk ke dalam taksi. Ya, hari ini saya ingin memanjakan diri, tidak diributkan ritual memanaskan motor. Lagipula, sudah lama saya tidak naik taksi.

“Yatiiiiikk..!! Dhuitmu tak balekno ngko bengi yo..!! (uangmu saya kembalikan nanti malam, ya)” teriak saya seraya melambaikan tangan pada Yatik, teman kos. Sungguh cara yang tak sopan untuk mengucapkan selamat tinggal pada seorang sahabat.

Tapi saya tak peduli. Yang saya pedulikan saat itu adalah: tidak melewatkan satu detik pun Workshop Menulis Nasional di Resto Nur Pacific.

Diselamatkan Check Sound

O ow! Jam tangan saya bilang, saya terlambat sebelas menit. Insting statistika langsung ON.

Dengan HTM Rp350.000, pelatihan akan berlangsung selama delapan jam hingga pukul lima sore. Artinya, biaya peluang pelatihan ini adalah Rp43.750 per jam atau Rp729,17 per menit. Kalau saya melewatkan sebelas menit materi, berarti saya menyia-nyiakan Rp8.020,83. Ouch!

Bukannya materialistis, atau pelit, saya hanya tidak ingin ada sejengkal pengorbanan pun yang terbuang sia-sia.

Tapi, untung saja Bang Dedi menyelamatkan biaya peluang delapan ribu itu. Baik Mbak Asma Nadia maupun Bang Isa Alamsyah, sebagai pemateri, belum beraksi dengan ilmu dahsyatnya. Yang berdiri di panggung pemateri adalah Bang Dedi.

Bang Dedi
Bang Dedi

Who is Bang Dedi? Dia lah pemilik wajah di foto berlatar biru ini. Apa kesan Anda melihat fotonya? Tepian mata yang menurun dengan jarak yang tak terlalu jauh dari alis mengesankan ia seorang yang innocent alias lugu. Senyum yang sepertinya mahal bahkan disampaikan dengan pandangan nyaris kosong, seolah-olah menunjukkan pria kelahiran Gorontalo ini sangat pendiam dan pemalu.

Awas! Foto sering kali menipu! 😀

Bang Dedi jauh dari kesan itu. Dia tidak pemalu, apalagi pendiam. Kalau soal lugu, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Hahaha…

Tidak ada yang boleh mengatakan Bang Dedi sebagai seorang pendiam. Cobalah tunjukkan sedikit perhatian pada satu sampul buku Asma Nadia, maka ia akan langsung memutarkan kisah yang tercipta dari buku tersebut.

Novel Aisyah Putri, misalnya. Anda tak perlu repot-repot bertanya isi cerita novel tersebut. Tanpa dikomando, Bang Dedi langsung bercerita tentang salah satu episode Kick Andy. Di episode tersebut, seorang perempuan dikisahkan begitu kesulitan memperoleh seri 2 novel Aisyah Putri.

“Tiba-tiba seorang laki-laki datang membawa buku Aisyah Putri yang kedua..” tutur Bang Dedi menirukan perempuan di Kick Andy itu. Untunglah cerita Perempuan Pemburu Seri 2 Aisyah Putri berakhir bahagia. Seperti buku yang melengkapi koleksi Aisyah Putrinya, laki-laki itu pun melengkapi hidup sang perempuan. Mereka menikah, and they live happily ever after..

Kalau cerita ini dituturkan Mbak Asma, sang penulis, mungkin respon kita adalah, “Wow, great!“. Namun ketika Bang Dedi yang menuturkan, respon itu akan keluar dengan tawa dan tepuk tangan meriah.

Ya, he is a good story teller. Penuh semangat dengan kehebohan khas Gorontalo, Bang Dedi tak bosan bercerita tentang pengalamannya selama mengikuti Mbak Asma Nadia. Apa yang ia kisahkan saat itu sebetulnya sama persis dengan yang ia kisahkan saat launching No Excuse! dan Maryammah Kapok sehari sebelum pelatihan.Hanya saja, saya rasa Bang Dedi lupa dengan siapa saja ia berbagi cerita, atau sudah berapa kali ia bercerita. Jadi jangan heran kalau Anda bisa mendengar cerita yang sama dari Bang Dedi hingga berkali-kali. Namun, passion Bang Dedi dalam bercerita tak pernah berkurang sedikit pun, termasuk saat check sound.

Itulah hebatnya Bang Dedi Padiku. Begitu hebohnya Bang Dedi bercerita, tanpa sadar ia habiskan tiga puluh menit sendiri di panggung dengan dalih check sound. Hm, sepertinya pelatihan ini akan berjalan sangat lancar karena check soundnya saja sudah jadi sesi sendiri. Hehehe… However, sesi check sound ini menyelamatkan saya dari kesia-siaan delapan ribu rupiah. Tengkyu, Bang Dedi! Four thumbs up for the entertaining check sound!

The Real Workshop

Mbak Asma mengoreksi karya peserta
Mbak Asma mengoreksi karya peserta

Workshop Menulis Nasional di Nur Pacific ini tergolong pelatihan yang berbeda dari pelatihan menulis lainnya. Acara ini memang bukan event bertajuk ‘pelatihan’ yang pertama kali saya ikuti. Tapi inilah pelatihan pertama yang melibatkan karya pesertanya secara langsung. Mbak Asma dan Bang Isa tak hanya menampilkan teori-teori dalam slide. Setiap satu sesi selesai, Mbak Asma selalu meminta kami mengaplikasikan teorinya berupa sebuah karya. Penulis yang identik dengan jilbab persegi bergaris lipat tinggi ini juga mengoreksi karya peserta satu demi satu.

Misalnya, untuk memperkuat pengetahuan tentang penokohan, ia meminta kami mendeskripsikan siapa pun di dalam ruangan tersebut dalam enam kalimat. Karya deskriptif tersebut kemudian dibacakan, dan kami diminta menebak tokoh yang dimaksud. Semua karya dibaca Mbak Asma satu per satu. Lucu deh! Ada yang mendeskripsikan Bang Dedi dengan logat Sulawesinya, Bang Tarsan dengan rambut gimbalnya dan Mbak Asma dengan kepiawaiannya menulis. Namun, peserta justru lebih banyak yang mendeskripsikan Deni (bener nggak ya namanya?), peserta pelatihan yang paling ‘seksi’. Hey, bukan badan tambunnya yang menjadikan dia seksi. Di usia awal belasan, ia sudah mengenal dunia menulis. Si kecil yang cerdas, itulah yang menjadikan Deni begitu seksi.

Cerita-cerita khayal Hans Christian Andersen seperti Cinderella atau Sleeping Beauty, pasti tak ada yang tak kenal. Mendengar namanya saja sudah terbayang rangkaian kisah istana sentris khas Andersen. Bagaimana dengan kisah klasik Jaka Tarub dan Nawangwulan? Saya yakin kisah mereka pun tak asing bagi kita. Ketidakasingan ini kemudian dimanfaatkan Mbak Asma. Ia meminta kami mengganti ending kisah-kisah tersebut.

Surprise! Ternyata peserta pelatihan tuh iseng jaya! Promise! Di tangan mereka, Cinderella bisa jadi buruh tempe dengan kaki yang penuh kedelai hingga sepatu kacanya tak lagi muat. Bahkan Mbak Tata, peserta lainnya, membubuhkan sedikit rempah-rempah fisika dalam kisah Cinderella. Sepatu kaca Cinderella memuai, dan tak lagi cukup lagi di kakinya. Ending yang tak tertebak adalah kisah Sleeping Beauty dari Deni. Di imajinasinya, pangeran sudah berkali-kali mencium Sleeping Beauty, tapi si cantik itu tak kunjung sadar. Pangeran pun menyerah. Ketika Ratu Jahat muncul, Pangeran malah jatuh cinta pada sang Ratu.

Hm, kalau saya jadi Sleeping Beauty-nya, pasti saya langsung bangun dan misuh-misuh, “Wooo.. Dasar playgroup! Eh, playboy!”.

Tapi kalau saya jadi Pangeran, mungkin saya juga akan membalas pisuhan Sleeping Beauty, “Ancen! Opo o? Daripada kamu, cantik-cantik koq tidurnya kayak kebo. Bilang aja mau saya cium terus!”. Untung saja Deni tidak sefrontal saya, sehingga dialog olok-olokan itu tak perlu muncul. Hehehe… Four thumbs up buat semuuuua peserta Workshop Menulis Surabaya!

Dueto dan De Javu

Dueto
Dueto

Selain interaksi langsung dengan para pesertanya, yang menjadikan pelatihan ini beda adalah Duet Pembicara, Mbak Asma Nadia dan Bang Isa Alamsyah. Mereka tampil bersama di depan, membawakan materi dengan atraktif.

Meski begitu, secara eksplisit tetap ada pembagian tugas untuk keduanya. Mbak Asma lebih banyak bercerita tentang teknis menulis cerpen atau kesalahan-kesalahan yang biasa dialami cerpenis pemula. Layaknya suami istri yang saling melengkapi, Bang Isa tidak membahas itu sama sekali. Ia pengamat novel dan cerpen yang sangat kritis. Ketika berbicara tentang alur, pria yang pernah menjadi jurnalis untuk TV NHK Jepang ini tak tanggung-tanggung membandingkannya dengan film-film yang pernah ditontonnya. Hm, sepertinya dia tahu, saya paling seneng kalau diajak ngobrol film. Hahaha…

O ya, ketika Mbak Asma membedah karya peserta, saya merasa de javu. Menjadi yang paling awam di antara para penghobi cerpen mengingatkan saya dengan WordCamp Indonesia di Universitas Gunadharma Depok. Di WordCamp, saya yang paling awam dengan urusan coding, mainannya hacker dan web developer. Begitu pula dengan pelatihan ini. Saya awam dengan bunga-bunga kata dan imajinasi, senjata para cerpenis. Tapi, semua itu bisa dipelajari, asal ada niat dan semangat. Itulah yang harus dijaga setiap kali acara pelatihan atau seminar usai.

However, two thumbs up untuk Mbak Asma dan Bang Isa. Penulis dan orang tua yang sukses. Seharusnya four thumbs up, tapi sepertinya kurang lazim dan tidak adil. Hehehe… Jadi, two thumbs up untuk Mbak Asma dan Bang Isa, two thumbs up lagi untuk semua penulis Indonesia. MARI MENULIS, MARI BERKARYA!! 🙂

Surabaya, menutup hari ke-8 bulan Mei 2010

Asma Nadia dan saya
Asma Nadia dan saya
Saya dan Bang Isa
Saya dan Bang Isa
Iklan

12 pemikiran pada “Four Thumbs Up Penulis Indonesia!

  1. kereeeennn…
    sak jane aku arep melu, tapi liat nominal HTMnya langsung meng-abrasi niatku. Tulisannya di group Bisa! juga keren2. Btw, ndak punya niatan nerbitin buku Taw??

    1. Hahaha.. Aq yo pake gadhein monitor dulu koq, Huda. Tapi HTM-nya gag seberapa dibanding ilmu, kesempatan, n NETWORKING-nya. Buku? Ayo, kolaborasi ta? Aku rindu tulisanmu, Bung.

    2. Busyet, niatmu kegedean sampe berani ngutang2 segala 😀

      tulisanmu keren lho, mengalir dan khas….
      Klo q dewe ada keinginan juga untk buat buku, tp bingung cari genre yg pas di hati dan pas di pasaran 😛

      duet ta? Jadi Duo Kancil, hehehehe

    3. Wehe.. Gag ada niat yg kegedean, Bung! Jangan sampe uang jadi ‘excuse’ untuk menyianyiakan kesempatan. =)

    4. iyo se, tapi dari ilmu probabilitas, aku bisa memperkirakan alokasi dana yang paling tepat (menurutku versi kebutuhanku).

      ttg buku, gmn jadinya??

    5. Sik sik, antri ya.. Ni lagi bikin buku dg temen2 alumni workshop Asma Nadia mpe tanggal 10 nti. UAS juga belum beres 😀

  2. Bener banget…..mari kita terus berkarya dengan tulisan. Karena tidak akan pernah ada ide yang luruh jika kita tak menyentuh dan tak ada kata yang tersirat jika kita tidak berbuat. Nice Tika ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s