Ngapak Ning Kotane Lontong Balap

Menjadi mahasiswi asal Tegal di kota Bonek terkadang menyulut senyum tersendiri. Ada kalanya saya merasa jadi Duta Wisata, ketika mereka bertanya, “Tegal nduwe opo? Cici Tegal ae wes gag payu..” atau, “Opo hebate Warteg?“. Maklum, hampir tiga tahun di Surabaya, saya memang belum pernah menemukan warung kecil berjudul WARTEG.

Sering juga saya merasa menjadi Duta Bahasa Tegal ketika orang-orang bertanya,

  • Apa bedanya Bahasa Tegal dan Bahasa Jawa?
  • Kenapa bahasa Tegal itu ngapak atau terkesan kasar? atau
  • Bagaimana membedakan dia orang Tegal atau dia berpura-pura ngapak seperti orang Tegal?

Ada kalanya juga saya merasa seperti boneka metikan, ketika tuas dipunggungnya diputar, ia akan menirukan bahasa bayi. Namun, bukan bahasa bayi yang saya tirukan, melainkan Bahasa Tegal. Tak jarang teman-teman meminta saya berbicara dengan Bahasa Tegal, ditanggap.

Hidup di kota yang jauh dengan bahasa daerah yang sangat berbeda memang memunculkan kerinduan tersendiri. Saya bahkan nyaris ‘gila’ karena fakta ini. Setiap kali melihat kendaraan berplat G, saya selalu mengejarnya. Ketika ada kesempatan, saya menyalip kendaraan tersebut, seakan pamer, “Kita punya plat yang sama, G!”. Lebih gila ketika saya mengikuti kendaraan tersebut hingga empunya turun dan saya dapat kesempatan untuk berkenalan. Ekstrimnya, saya pernah mbuntuti mobil kijang plat G dari komplek Ciputra (Singapore of Surabaya) hingga Gresik. Fatal! Ternyata pengemudi meminjam mobil tersebut dari tetangganya.

Pernah juga seorang bapak membuntuti saya dari ITS (Surabaya Timur) hingga HR Muhammad (Surabaya Barat), hanya untuk menanyakan asal saya. Ternyata si Bapak itu orang Batang yang menikah dengan perempuan Bojonegoro, kemudian hidup di Surabaya.

Membicarakan tiga tahun kegilaan wong Tegal di Kota Pahlawan, tak pernah ada habisnya. Bercengkerama ngapak di antara jancookers menimbulkan romantisme tersendiri. Percaya atau tidak, ada rasa ‘nyaman’ di tengah hiruk pikuk Terminal Purabaya (Bungurasih), ketika supir bis Ezri atau Coyo berteriak, “Yuh, gagian mangkat tuli!”. Dan sang kenek menyahut, Sedhelat maning, lhen..”.

searah jarum jam: Kurnia Effendi, Master Tarno, LimbadSaya akui, Bahasa Tegal merupakan bahasa daerah yang paling sulit saya tirukan. Semua orang mungkin bisa berbicara ngapak, bahkan menjadikannya sebagai ‘komoditas’ seperti Cici Tegal atau Warteg Boyz. Namun, kalau diperhatikan betul akan sangat mudah membedakan ngapak Tegal dengan ngapak maksa. Butuh waktu lebih dari 6 tahun bagi saya untuk mempelajarinya. Selama kurun waktu tersebut, tidak ada yang percaya keluarga saya adalah keluarga ngapak. Tinggal di Klaten sejak kecil hingga kelas 3 SD mungkin menjadi faktor utama yang menyulitkan saya belajar Bahasa Tegal demi sebuah pengakuan: Nyong Wong Tegal. Seperti orang Tegal pada umumnya, menirukan bahasa Betawi, Sunda, atau Malaysia bukan hal yang sulit. Lihat saja orang Tegal yang pelayaran. Setelah mendarat, logat Jakarta (atau daerah lain) pasti sudah lancar. Tapi ketika ditanya, “Priben kabare?” langsung wis, asline metu!!. Atau boleh dites ke orang Tegal yang sudah terkenal seperti bos-bos Sosro, cerpenis Kurnia Effendi, Limbad The Master, atau pesulap Master Tarno. “Bin, salabin, jadi apa’, plak plak plak!”.

Semakin lama hidup di Surabaya, sensitifitas terhadap Bahasa Tegal semakin tajam. Barangkali kalau saya kuliah di Jakarta, kegilaan dan sensitifitas ini tidak akan ada. Dua hal tersebut kembali muncul saat saya tahu tagline media online detikcom: AJA NUNGGU NGESUK, SIKI BAE!. Saya bergegas menyiapkan sesaji untuk Mbah Gugel, mencari tahu dari mana detikcom bermula.

Ternyata, founder sekaligus pemimpin redaksi detikcom adalah Pak Budiono Darsono. Seperti yang diceritakan Pak Bos Hurek, salah satu redaktur pembimbing saya di Radar Surabaya, Pak Budiono ini orang Bojonegoro. Namun, beliau lahir di Semarang 50 tahun lalu. Adiknya, Budi Sugiarto, adalah bosnya detikSurabaya.com .Lalu, kenapa tagline detikcom pakai bahasa ngapak ya?? Itu yang menjadi pertanyaan besar saya kemudian.

Kesempatan berjumpa di Twitter, langsung saya gunakan untuk menanyakan hal ini. “Knp yg dipilih bahasa Banyumas-an,Pak? (mirip dg bahasa daerah saya, Tegal)”, twit saya pada Pak Budi. Tak lama, sebuah mention muncul.

@TikaWe karena dulu saya pernah pacaran dng orang tegal rumahnya Jl Mujahir

Respon saya membaca mention dari Pak Budi? Tentu saja terkejut, kemudian tertawa. Mungkin sedikit pesan untuk si Nok Tegal (si Tong juga), Aja isin dadi Wong Tegal. Anane ngapak ya ngapak bae, ora sah melu-melu sing liyani. Mbokan, nduwe pacar calon bos, ngapake bisa dienggo. Iya belih??” Hehehe… Maaf, hanya bercanda. Intinya, BANGGALAH JADI WONG TEGAL! 🙂

Iklan

24 pemikiran pada “Ngapak Ning Kotane Lontong Balap

  1. wow, like this banget dah..

    sedikit comment gak penting ya, mengacu pada judul postingan, dalam isi antara dialek Tegal dengan Suroboyo (yang bercetak miring) kurang berimbang.
    hehehehe…

  2. wah ceritane menarik sung…
    nyong asli jebolan awit bayi + gede ya neng kab Tegal
    radan wah neng tulisan sing monine: Seperti orang Tegal pada umumnya, menirukan bahasa Betawi, Sunda, atau Malaysia bukan hal yang sulit. Lihat saja orang Tegal yang pelayaran. Setelah mendarat, logat Jakarta (atau daerah lain) pasti sudah lancar. Tapi ketika ditanya, “Priben kabare?” langsung wis, asline metu!!
    bener kyeh, wong tegal tah adaptasine tinggi, bahasa sing ditempati ya dijunjung, tp donk wong liya malah bisane ngledek tok maring wong tegal…

    salam cipok
    ——————————–
    Tegal Cyber Community

    1. :”> tengkyu, bozz.. Tapi pancen kenyataane kaya kwe. Ora bahasa thok, urusan panganan ya wong Tegal adaptasine apik, bisa mangan nangendi bae. 😀

  3. ngapak….bahasa komunikasi kedua dirumah, walo sempet lama di jakarta, tapi ngapak seru juga wat dipake…. sampe pernah kebawa ngapak di mall jkt, gw ma ade gw disuru “ganti bahasa” ama ortu, tapi qta cuek bibeh… ngapak dimana aja, seru kalee… ^_^

    1. Hwaaaa..!! Setaun seblok sama kamu koq gag pernah denger Lilik ngapak. Wah.. perlu di-treatment iniii.. ;P

  4. kedua orangtua gw asli dari tegal tapi tinggal di jakarta…gw lahir dan besar di jakarta…sekarang gw lagi belajar bahasa tegal….karena gw bangga jadi orang tegal…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s