Klaten Dulu, dan Saya Sekarang…

Insomnia is killing me. Ketika tengah malam menjelang, pikiran saya selalu terbang ke memori-memori negatif masa lalu. Tidak perlu kapsul, yang saya perlukan adalah melanjutkan memori tersebut hingga ke sebuah titik positif. Begitu yang dikatakan Bu Qoni, psikolog saya.

Klaten waktu itu, adalah kota kecil yang baru beranjak dewasa. Pusat perbelanjaan belum lama berdiri, masyarakatnya pun baru belajar demokrasi.

Klaten waktu itu, adalah kota kecil dengan kalimat ‘Pro Reformasi’ tertempel di setiap pintu rumah. Kalimat itu akan beranak pinak dengan sendirinya di rumah-rumah pecinan. Seperti jimat, mereka menganggap kalimat tersebut mampu menangkal hawa sial yang datang dari penjarah penuh gairah.

Indonesia Marah 1998Jimat Pro Reformasi tak selalu manjur. Di suatu siang, kami, anak-anak PG yang bersekolah di SD Klaten 1 dan 2, pulang lebih awal. Kepanikan merebak di mana-mana, seperti virus influenza yang begitu mudah menular. Kepanikan demokrasi yang belum bisa dimengerti seorang Tika kecil.

Suasana tak terlalu ramah di dalam Bis Abang, bis kuno warna merah yang selalu menjemput kami sekolah. Namun di luar sana, ada yang jauh lebih tidak ramah. Bahkan garang. Toko mebel milik seorang Tionghoa dijarah habis-habisan. Penjarah itu tak peduli bagaimana Babah berteriak marah namun tak kuasa menahan. Mereka bahkan tak menghiraukan istri Babah yang menangis histeris, meraung melantai. Meski hanya tertangkap dari balik jendela bis tua, tapi saya tak bisa lupa.

Tak hanya Klaten, Indonesia saat itu memang sedang tegang. Mahasiswa meradang, Pak Harto pun hengkang. Itulah Indonesia 1998. Ketegangan terasa, ketika Ibu melarang saya bersorak ikut acungkan tangan ketika truk-truk demonstran melintas.

Ada tiga ‘kode jari’ yang terkenal saat itu. Satu jari telunjuk untuk PPP, dua jari untuk Golkar, dan perpaduan ibu jari, jari telunjuk, dan kelingking untuk PDI. Mahasiswa sedang meradang, bergairah lakukan aksi keras. Tak mau ketinggalan euforia demokrasi, terkadang anak-anak yang melihat rombongan demonstran itu latah menirukan kode jari mereka. Salah jari, nyawa melayang.

Indonesia sedang tegang. Krisis moneter melanda, bank-bank dilikuidasi, PHK di mana-mana, perusahaan ditutup tiba-tiba. Termasuk tempat Bapak bekerja, PG Ceper Baru. Semua karyawannya di’transfer’ ke pabrik gula lain yang masih bernafas, termasuk Bapak.

Kami sekeluarga pindah ke PG Pangkah, menjalani kehidupan yang jauh lebih damai. Namun, perubahan tidak berlangsung semudah itu. Memori delapan tahun di Klaten tidak hilang begitu saja.

Saya masih berkirim surat dengan Bu Pur, wali kelas tiga di SD Klaten 2. Dalam surat, beliau membesarkan hati saya yang belum bisa menerima perubahan di sekolah baru. Seperti bisa memahami kerinduan saya, beliau juga bercerita kondisi SD Klaten 2 saat itu. Hingga kini, surat dari Bu Pur masih saya simpan, bersama fosil-fosil lain. Ada foto dari Shinta Utami berpose di depan meja kerja ayahnya. Ada juga sticker hologram dari Dinta. Seragam olahraga warna putih-hijau pun masih saya simpan, tak pernah keluar dari lemari kecuali untuk dikenakan.

Dua belas tahun berlalu tanpa kabar, dan saya pun belum menghirup udara kota Intan Pariwara hingga kini. Kalau tidak diingatkan Facebook, mungkin saya sudah lupa. Walaupun dari 76 murid, hanya beberapa yang bisa saya ingat secara acak..

Rima n her husbandRima Muti. Siapa sangka perempuan preman ini akan menikah mendahului kawan-kawannya. Bahkan kini ia menuju proses menjadi seorang ibu yang lembut, berbagi cerita tentang ‘baby’-nya di Facebook setiap hari. Seingat saya, Rima adalah siswi tergarang di kelas. Kalau matanya sudah melotot, tidak ada yang berani dengannya.

Anisa di ajang Miss IndonesiaAnisa Rahma. Sejak dulu, dia memang cantik. Saya mengingatnya sebagai sosok yang lembut dan murah senyum. Rambutnya lurus, cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi. Mungkin karena itulah kami memanggilnya dengan awalan ‘Mbak’. Di pikiran saya, di mana ada Anis, di situ ada Dista. Mereka muncul seperti ratu dan sang putri, sama-sama cantik. Sekarang, kami kuliah di satu institut yang sama, ITS. Saya di Statistik, dia di jurusan pager oren, Teknik Kimia. Ia pernah dekat dengan senior saya di SMP 1 Slawi. Hm, dunia memang tak selebar daun singkong.

Anggi tanpa buku KikyMahatma Anggi. Saya sempat duduk sebangku dengannya. Kami cukup akrab, apalagi untuk menjadi bahan ledekan Ulfa dan si cupid Mei. Buku tulis Kiky full color bersampul kartun sapi, sering ia berikan. Anggi memperhatikan kapan buku tulis saya akan habis. Esoknya, ia akan membawakan saya buku tulis yang masih jarang ditemui saat itu. Setiap kali saya menolak dengan alasan mahal, Anggi selalu memaksa saya untuk menerimanya. Anggi bilang, dia masih punya banyak di rumahnya. Kapan pun ia mau, ayahnya yang mengajar di sebuah SMA akan memberinya. Eits, tapi Anggi tak semanis itu. Dia pun pernah memukul saya ketika pesawat kertasnya tak sengaja saya injak.

Ivan AndreIvan Andre Atmoko. Saya tidak bisa lupa nama itu. Anak pak polisi ini juga pernah sebangku dengan saya. Sebagai murid yang cerdas, dan memiliki kakak yang ngganteng serta tenar, Ivan banyak didekati murid perempuan. Untuk murid laki-laki yang ramah dan santun ini, saya tidak terlalu heran kalau hal itu terjadi.

Martin MayagMartin. Namanya di Facebook cukup unik. Bukan karena aksen Jepang-nya, melainkan kemiripannya dengan nama program properti dan rumah tinggal di TV, Griyaa Itazura. Kalimat yang sering ia lontarkan adalah, “Mayag koe, Tik,”. Bahkan kalimat itu seperti sebuah keyword yang mencirikan seorang Martin. Martin yang saya ingat adalah murid laki-laki yang paling tinggi di kelas. Karena itu, saat kelas 3 dia duduk di bangku paling belakang, begitu pula dengan saya. Kalau tidak salah, absen Martin berada di nomor urut pertama untuk kelas B. Kelas? Hm, mungkin lebih tepatnya ‘kelompok’, karena kelas A dan B belajar di kelas yang sama.

Bu Dokter RofiRofi Rahmaningwidi. Di antara sekian banyak kawan SD di Facebook, mungkin Rofi lah yang paling saya kenal. Ada kesamaan nasib, selain dibesarkan di lingkungan PG. Kalau Anis, Rima, Shinta, Mutik/Wendyah memiliki rambut lurus bak model iklan shampo, tidak dengan kami. Rambut kami sama-sama ikal dan berkulit gelap. Bedanya, mahasiswi kedokteran UGM ini jauh lebih pandai dari saya. Bahkan kami pernah adu mulut di Toko Ramai. Ketika itu saya membeli notes kecil bersampul Andy Lau seharga 250 rupiah. Di kasir, saya membayar dengan uang lima ratusan, padahal saya punya dua keping seratusan dan menyimpan keping lima puluhan. Maksud saya waktu itu, “biar dapet kembaliannya banyak. Kalau uangnya pas kan nggak dapet kembalian,”. Si jenius centil ini ngotot bahwa yang saya lakukan itu percuma. Nominal uang saya tidak akan bertambah. Otak jeniusnya juga mengajarkan saya bagaimana mendapatkan bubur dan mi gratis dari Mbah Prawiro. “Kowe kan nduwe wit suruh akeh, kekno Mbah Prawiro ae. Mbah sing nginang ki seneng nek dikeki godhong suruh,” begitu kata Rofi. Kemudian saya memetik beberapa helai daun sirih di kebun belakang, dan segera menuju joglo, tempat Mbah Prawiro mangkal. Ternyata benar yang dikatakan Rofi. Kami mendapatkan bubur pincuk dan mi goreng. Sejak saat itu, ketika saya lapar dan bokek, yang saya lakukan adalah memetik daun sirih untuk Mbah Prawiro. 🙂

Masih banyak nama-nama yang melekat di otak, sepaket dengan kenangan yang saya punya. Namun tidak semuanya memiliki kemesraan yang sama antara memori Klaten dulu dan Saya sekarang. Bahkan beberapa kawan yang dulu dekat, bisa jadi sekarang malah lupa. Dimaklumi koq, tidak mudah menghafal lebih dari tujuh puluh teman sekelas yang hanya kita kenal selama tiga tahun. However, I miss you all, dude!!

Badge SD yang saya sobek dan scan

Iklan

12 pemikiran pada “Klaten Dulu, dan Saya Sekarang…

  1. huakakakak…
    potone martin…busyeeet dah…
    ropik yg sok manis,
    bagus tiktuk, pgambilan foto yg mangstabh….

  2. @Mas Onnosz: Tuh, di tangannya kan ada. Pasang sini aja.. ;D

    @Amalia: Mmm… Lebih tepatnya kalau dibilang ‘pencurian’ foto. Hehehehe…

    @Rima: What?? Nangis?? Hadeuh.. Aq lupa nggak bawa tisu.. Diusap pake bajumu aja gimana?? Seperti jaman umbelan dulu.. (versi Shinta) (^_^ 😉

  3. HUAPAAAAAAHH?? fotoku aneeeehh >_<
    knapa yg ini yg ditempeeeeel
    huahahahaaaa amaaaaal.. awas kamuuuu.. eerrrggghhhhh hahahahaaa

  4. huahahaha….
    yowslah,,,,apapun namanya tik, nice picture lah…
    opo meneh si ropik…hihihi
    @ropik>>>> wekekekekek….
    tak tunggu ws ng boulevard ugm…hehehe
    opo ng GSP ae, pas ana acara jazz,,,,27mei2010. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s