Belajar Tersenyum pada Udud

Sebelumnya, saya mau curhat dulu sebelum ngguyu. Saya ini sedang penat, jenuh, sumpek, dan sebagainya dan sebagainya. Karena itulah saya mencoba menulis untuk membuat saya tersenyum. Kalau dengan membaca catatan ini Anda juga tersenyum, saya senang. Terserah tersenyum sinis atau tersenyum senang, yang penting MESEM.. ๐Ÿ™‚

Taman kota hingga halaman kantor pemerintahan siang itu penuh sesak oleh pemuda Indonesia, pemuda penerus bangsa. Dengan semangat membara mereka bersatu teriakkan suara rakyat (entah rakyat yang mana). Teriakan satu demonstran membakar semangat demonstran lainnya. Hebatnya, tak hanya semangat yang terbakar, ban bekas pun ikut terbakar.

Pemuda Pujangga Masa DepanJalanan siang itu pengap oleh peluh pemuda Indonesia, pujangga hebat yang berpantun tentang masa depan. Entah malaikat mana yang membisikkan keikhlasan di dada mereka, berkoar lantang atas nama rakyat (entah rakyat yang mana). Mereka tentang kebijakan pemerintah yang kurangi subsidi Bahan Bakar Minyak. Mereka kontra dengan pemerintah yang dengan berat hati menaikkan tarif dasar listrik, sesuaikan inflasi yang terjadi. Mereka teriakkan sumpah serapah pada pemerintahan yang korup, seraya bawa keranda pertanda matinya nurani, atau tikus-tikus putih simbolis pejabat jaman sekarang.

Demonstrasi bubar, halaman kantor pemerintahan semakin cantik rupawan. Sampah kertas dan spanduk yang menyebutkan nama rakyat jadi hiasannya. Meski bara semangat tak lagi nampak, ban karet legam masih hangat terpanggang. Inilah berkah si pemulung. Mereka menerima kenang-kenangan demonstran segera.

Sementara pemulung bergegas mengejar matahari, pemuda tadi melepas peluh di sudut lain. Entah evaluasi atau diskusi, lelah dilepas, rokok disambut.

Iseng-iseng saya goda, “Mas Mas, kalo cukai rokok naik, harganya juga naik menyesuaikan inflasi, Masnya mau demo juga nggak?”. Mereka hanya tertawa terbahak sementara saya terbingung.

Iseng lagi saya bertanya, “Mas Mas, kalau pemerintah kasih pendidikan gratis, Masnya mau aksi juga nggak? Ya menyuarakan rasa terima kasih rakyat gitu..”. Lagi lagi mereka hanya terbahak dan saya terbingung.

Tapi kini, mengingat scene itu saya tersenyum. Saya menanti sebuah aksi suarakan rasa terima kasih rakyat. Semakin lama saya menanti, semakin lebar senyum saya mengembang…

Sementara itu di sudut desa, di mana (katanya) wong cilik berasal, seorang bapak tua gelisah dalam penantian. Bapak itu menanti Bu Guru yang (konon) mau mendengar curhatnya dan membantu mencarikan jalan keluar.

Namanya juga Penerimaan Siswa Baru, semua petugas sibuk mondar-mandir. Hampir tak sempat mengurusi pendaftar rewel yang tidak melengkapi syarat administrasi.

Si Bapak menikmati kesibukan petugas PSB dengan kepulan rokok kretek. Kabarnya, rokok kretek memang nikmat rasanya, apalagi sebagai sahabat saat bosan menunggu.

Bapak TuaBu Guru yang ditunggu akhirnya datang juga. Bapak yang kurus tak terurus segera mematikan rokok kemudian curhat tentang situasi ekonominya. Sebagai buruh tani, ia merasa keberatan dengan beban biaya pendidikan SMA yang harus ia tanggung untuk putra kebanggaannya. Ia banyak berkisah, mulai tentang penghasilan pas-pasan, situasi alam yang tak menentu, harga pupuk yang mahal, hingga harga jual hasil panen yang rendah.

Kalau tidak demi majunya pendidikan bangsa, mungkin Bu Guru terkantuk-kantuk bosan mendengar keluhan Pak Petani. Bu Guru di sekolah mewah (mepet sawah) itu dulunya juga dibesarkan dari keluarga buruh tani.

Selesai mendengar curhat Pak Petani, Bu Guru merasa harus bertanya.

“Bapak merokok ya? Sehari berapa, Pak?”.

Si Bapak bingung. ‘Saya curhat apa, si Ibu tanya apa,’ kata Pak Tani dalam hati.

Namun pertanyaan itu tetap ia jawab, “Tiga bungkus,”.

“Rokoknya apa, Pak? Harganya berapa?”

Pak Tani kemudian berkisah tentang rokok favoritnya. Bu Guru tersenyum mendengarkan.

“Putra Bapak punya HP?” Bu Guru bertanya lagi.

“Ya iyalah Bu. Jaman sekarang kalau tidak punya HP, ndhak gaul katanya,”.

“Wah bagus, anak Bapak luas pergaulannya ya. Berarti tau internet juga. Putra Bapak punya facebook?”

Pak Tani dengan bangga kembali berkisah, “O iya, Bu. Habis bantu saya di sawah, dia langsung HP-an. Update status, katanya. Kalau dari cerita anak saya, dia punya banyak teman dari situ, Bu.”

Bu Guru tersenyum lagi mendengarkan.

Bu Guru tersenyum, saya terbingung. Punya pulsa buat fesbukan, punya anggaran buat rokokan, koq minta keringanan SPP ya??

Tapi kini, mengingat scene itu saya tersenyum. Saya menganggapnya sebagai keajaiban tanah air saya. Semakin lama saya menikmati keajaiban itu, semakin lebar senyum saya mengembang…

Bagaimana, Anda sudah tersenyum? Atau malah tersulut emosi? Kalau ada yang tersinggung (baca: tersindir) mohon maaf. Saya hanya sedang mencari cara buat saya tersenyum.. ๐Ÿ™‚

Iklan

Satu pemikiran pada “Belajar Tersenyum pada Udud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s