Glandhangan Ngayogyakarta (Hari Kedua): Helm Cinderela Ikut Glandhangan

Hari kedua di Jogja, kami masih putar otak untuk menghemat ongkos transportasi. Rent bike yang pernah saya hubungi belum bisa memberikan kepastian tentang motor yang bisa dipakai selama beberapa hari. Sementara rent bike lain bersedia menyewakan motor dengan harga yang jauh lebih mahal. Lebih dari lima rent bike yang saya peroleh dari internet sudah saya hubungi. Mereka memberi harga 50 – 70 ribu rupiah per hari untuk kendaraan empat tak (bebek). Kalau menyewa motor matic, harganya bisa lima sampai sepuluh ribu lebih mahal. But show must go on! Roro Jonggrang menanti kami di Prambanan!

Skandal dan Helm

Selasa pagi, kami merumuskan destinasi dengan mengandalkan nafsu meninggalkan penginapan. Malam sebelumnya kami sempat mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Melan memergoki seorang pria berdiri di pintu kamar, entah menguping atau mengintip kami yang terus heboh. O ow! Peristiwa tersebut membuat kami cukup parno.

Sekitar jam sembilan pagi, pikiran parno itu sirna sesaat mendengar dua motor bebek siap diantar ke penginapan. Thanks God, Kau menyelamatkan kami dari KanKer dan Konde Lutut!! KTP Ninin jadi jaminan rental seharga 30 ribu per hari per motor. Sayang, nafsu kabur dari penginapan tidak terwujud begitu saja. Rent bike tidak menyewakan helm. Doh! Untung saja Mbak Resepsionis berbaik hati meminjamkan helmnya pada kami. Begitu pula dengan Mas Karyawan penginapan. Dua dari tiga helm yang dibutuhkan telah kami dapat. Helm pinjaman ini bisa dibilang Helm Cinderella, hanya bisa dipakai sampai jam lima sore. Setelah itu si helm akan berubah jadi buah kelapa. Nah lho? Hahaha.. Maksud saya, setelah itu si helm akan dipakai empunya pulang.

Dua helm tidak menghalangi tiga kepala untuk melancong. Apalagi target kami kali ini adalah Komplek Candi Prambanan, salah satu arsitektur kuno yang termasuk dalam 7 Wonders. Jadilah satu helm ungu kemudian turut serta perjalanan kami hari ini (dan hari-hari berikutnya).

Juru Supit? Bogem?

Juru Supit Bogem
Juru Supit Bogem di Jakarta

Kurang lebih jam sebelas siang kami sudah berpacu dengan angin jalanan nuju Prambanan. Komplek Candi Prambanan ini terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten (Jawa Tengah). Meski jauh, rutenya tidak terlalu sulit. Dari Kota Jogja, jalan saja terus ke arah timur, ikuti trafic board arah Solo. Jalannya juga luruuuus terus. Kalau Anda melihat plang Juru Supit Bogem di mana-mana, maka Anda sudah tidak jauh dari Desa Prambanan.

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar kata supit? Sepasang bilah bambu yang digunakan orang Tionghoa untuk makan? Sama! Tapi itu sumpit namanya. ๐Ÿ˜€

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar kata bogem? Benang putih atau benang jagung yang juga sering disebut benang bogem? Atau tonjokan dahsyat yang diistilahkan ‘bogem mentah’? Sama!

Bagaimana dengan Juru Supit Bogem? Sulit dikaitkan, bukan? Juru Supit Bogem memang tidak ada hubungannya dengan sumpit, benang jagung, atau tonjok-menonjok. Juru Supit adalah sebutan untuk tukang, eh dukun sunat. Penduduk Desa Bogem dikenal dengan keahliannya mengkhitan anak laki-laki. Bisa dibilang, dikhitan Juru Supit Bogem membuat nilai prestis suatu keluarga tidak luntur. Mungkin hal ini dikarenakan tradisi raja-raja dulu (terutama dari Keraton Yogyakarta) yang selalu mengkhitankan putra mereka pada juru supit Bogem. Banyak keluarga dari luar kota jauh-jauh datang ke desa tersebut untuk mengkhitan anak laki-laki mereka, termasuk putra-putra Alm Suharto, presiden kedua republik ini. Kabarnya, meski dengan metode berbeda, mulai dari manual hingga laser, dikhitan Juru Supit Bogem tidak sakit dan cepat sembuh. Bahkan di sebuah blog pribadi yang pernah saya baca, setelah dikhitan di juru supit Bogem, sang pasien bisa langsung mengenakan celana pendek. Itu sih katanya lho, karena saya sendiri tidak pernah mengalaminya.

Sepanjang jalan antara Kota Jogja hingga Prambanan, Desa Bogem menghadirkan suasana yang berbeda. Rindang, sejuk, banyak penjual dawet di kanan dan kiri jalan raya. Masyarakat Desa Bogem memang menanam pohon mahoni di tepi-tepi jalan beberapa tahun lalu. Pemerintah setempat mencanangkan penanaman pohon mahoni untuk mengurangi polusi udara dari jalanan. Pohon mahoni dipilih karena akarnya yang menjulur ke dasar bumi sehingga tidak merusak trotoar dan aspal jalan.

Langit Mendung Prambanan

Ninin menerawang mendung, aplikasi Teknik Peramalan

Sepanjang perjalanan menuju Prambanan, kami dinaungi awan mendung yang gelap sekali. Kami sempat khawatir tidak bisa menikmati obyek wisata Prambanan yang notabene obyek outdoor. Tapi, untunglah hujan tidak turun hingga kami tiba di sana bahkan berfoto bersama mendung.

Jangan mengaku orang Indonesia kalau belum mengenal Prambanan. Komplek candi ini dibangun di abad sembilan. Di imajinasi saya, mungkin komplek candi ini seperti Singapore of Surabaya, Perumahan Galaxy atau Kota Satelit pada jaman itu. Sebuah komplek hunian yang dibangun oleh orang-orang yang tidak biasa. Bedanya, kalau dulu semakin megah dan menjulang candi menunjukkan kekuatan pemiliknya. Sedangkan komplek perumahan elit itu semakin megah dan menjulang menunjukkan kekayaan pemiliknya.

Harga tiket masuk wisatawan domestik di warisan dunia nomer 642 ini adalah 12.500 rupiah. Tiket masuk kedua yang termahal di antara semua obyek wisata yang kami kunjungi. Ditambah tiket photo permit sebesar seribu rupiah per kamera, kami bebas narsis dan beraksi di dalam komplek Prambanan, kecuali melanggar pasal yang tertulis pada tiket masuk.

Barang siapa dengan sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan atau warna, memugar atau memisahkan benda cagar budaya tanpa ijin dari Pemerintah, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) Tahun dan atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya pasal 26)

Hm, cara cerdas untuk mengingatkan pengunjung tentang sanksi pencurian cagar budaya.

Melan, saya, dan Ninin di spot foto
Melan, saya, dan Ninin berpose di photo spot Prambanan

Di komplek candi Prambanan, kita bebas berbuat apa saja karena yang ada di sana hanya bentangan rumput dan beberapa candi. Mau foto dengan gaya apa saja, terserah. Tapi akan sangat sayang sekali kalau kita masuk tanpa tahu kisah-kisah di balik candi Prambanan, termasuk candi Roro Jonggrang. Belum lagi cerita yang tergambar pada relief candi juga tak kalah menarik. Sangat mirip dengan cerita Ramayana yang beredar dari mulut ke mulut. Kisah demikian bisa diperoleh dengan Nobar Prambanan.

Di dalam komplek museum, pihak pengelola menyediakan sebuah teater kecil untuk menonton film doumenter seputar Prambanan. Sayang, penyampaian kisah Prambanan dalam ruang teater berkapasitas 40 hingga 50 orang itu sangat tidak menarik. Disampaikan dengan sangat datar, narasi dan musik latar yang horor. Terlebih lagi, cerita yang dipaparkan mengenai sisi mistis dari tokoh-tokoh candi seperti kekuatan dewa-dewa kepercayaan umat Hindu. Yang penakut, tentu lebih memilih keluar dari teater dan mengikhlaskan tiket masuk seharga 2000 rupiah. Yang lelah jalan mengelilingi komplek Candi, mungkin lebih memilih tidur di ruang teater yang dingin dan gelap. Saking gelapnya saya hampir tidak bisa membedakan kursi kosong dan isi, apalagi melihat wajah orang yang duduk di samping saya. Melan termasuk dalam pengunjung tipe kedua yang terkantuk-kantuk menyaksikan audio visual Prambanan.

Komik Ramayana dan Lahirnya Rahwana
Koleksi Komik Ramayana dan Komik Lahirnya Rahwana

Tak hanya mengisahkan dewa-dewa dan Roro Jonggrang sang tokoh utama, ruang audio visual juga menceritakan kisah Ramayana yang terukir sebagai relief Candi Prambanan. Di pemaparan ini, lagi-lagi kami dikecewakan. Kisah Ramayana yang (menurut saya) sangat seru menjadi sangat membosankan dan tidak utuh. Narator menceritakan Rama mendapatkan Dewi Shinta setelah melawan seekor burung raksasa, lalu tiba-tiba di ‘slide’ berikutnya Rama mengejar seekor kijang kencana. Hm, saya lebih baik baca tiga seri komik Ramayana tulisan R.A. Kosasih daripada mengikuti audio visual ini.

Melan dan Ninin di depan galeri foto-foto Prambanan sebelum dan sesudah gempa
Candi Lumbung belum selesai diperbaiki (pasca gempa)

Pasca gempa bumi 27 Mei 2006 yang melanda daerah Jogja dan sekitarnya, komplek candi Prambanan sempat ditutup sementara. Banyak candi yang luluh lantak oleh gempa. Tanggal 18 September 2006, obyek wisata Candi Prambanan telah dibuka kembali. Namun, belum semua candi bisa dimasuki, termasuk Candi Siwa. Padahal candi tertinggi ini yang paling membuat saya penasaran. Dari beberapa situs yang saya baca, di dalam candi ini terdapat empat ruangan. Satu ruangan berisi arca Dewa Siwa, sedangkan tiga ruangan lainnya berisi arca Dewi Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Konon, Loro Jonggrang adalah Dewi Durga atau Dewi Durga Mahisasuramardini. Nama yang tidak simpel. Hm, lucu juga kalau saya punya anak dengan nama panjang ala abad 9. Hahaha…

Durga Mahisasuramardini
Durga Mahisasuramardini

Kembali ke Loro Jonggrang. Melihat arca tiruannya di museum, Roro Jonggrang digambarkan menginjak seekor lembu, itulah lembu Mahisasura yang ditaklukkan Putri Prabu Boko ini. Di kedelapan tangannya ia memegang senjata-senjata yang dipinjamkan beberapa dewa, termasuk Trimurti (Siwa, Brahma, Wisnu).

Candi yang kami masuki dengan suka rela dan penuh semangat adalah Candi Wisnu. Setelah menaiki anak tangga yang kecil dan curam, yang kami dapati adalah ruangan gelap dengan patung Dewa Wisnu di tengahnya. Jujur, saya terpukau dengan arca tersebut. Ingin mengambil gambarnya, tapi tertahan oleh suasana dingin mencekam yang kami rasakan. Jadi, kami memilih turun kembali dan ‘menyimak’ rombongan siswa SMA yang sibuk foto sana-sini dengan gaya gairah remaja. Hm, anak muda jaman sekarang…

Lelah mengelilingi komplek, kami mampir ke pasar kecil yang menjual cinderamata khas Prambanan. Bagi wisatawan domestik, harganya relatif murah. Gantungan kunci Candi Prambanan berbahan platina (entah asli atau imitasi) dijual seharga 1000 rupiah, atau 10.000 per pack. Sebetulnya bisa ditawar, asal jangan kelewatan. Bagi emak-emak Shoppaholic Penawar Tiada Tara, harga cinderamata di sini memang terhitung mahal. Tapi akan lebih mahal lagi kalau yang belanja Bule Shoppaholic apalagi penggila cinderamata.

“Saya kemarin-kemarin itu njual patung (kepala Budha) ini sampai seratus ribu lho Mbak ke bule. Kalau sama turis lokal paling ya tujuh ribu. Tapi kalau bule itu detil, Mbak. Sak gulu-gulune (sampai ke leher-lehernya) diliat, teliti, diitung-itung cacatnya. Bule itu cari yang paling sempurna, ndhak bisa ada lecet dikit apa nggak pas dikit,” tutur Mbak Bunga (bukan nama sebenarnya), salah satu pedagang cinderamata yang kami sambangi.

Jam Berdentang untuk Helm Cinderella

Jam di tangan menunjukkan pukul tiga sore. Hm, padahal jam lima nanti helm-helm ini harus kembali ke pemiliknya. Jadilah kami segera pulang ke penginapan, berharap dalam waktu kurang dari satu jam kami sudah tiba meski sedikit tersasar. Tapi untung saja mereka tidak tersasar, hanya saya yang nyasar pulang di jalur yang berbeda. Sedikit mis komunikasi membawa saya memutari komplek UGM terlebih dahulu sebelum akhirnya tiba di penginapan dengan sehat selamat dan sejahtera. Untung saja jalanan Jogja tidak serumit Surabaya. Tanya orang-orang di jalan sudah cukup menjadi ‘kompas’ andalan kami.

Begitu tiba di penginapan, hujan turun dengan derasnya. Helm-helm sudah kembali ke pelukan sang pemilik, kami pun tenang. Saking tenangnya, kami terlelap seketika sore itu dan lupa mandi. Yang ini jangan ditiru ya..

Bencana Kikil Kare Aceh

Jam delapan malam, kami baru betul-betul melek dan sadar. Yang membuat kami sadar adalah rasa lapar. Saat menuju malioboro (dari alun-alun) kemarin, kami sempat melewati sebuah resto pempek. Resto itu membuat Melan sangat bernafsu untuk makan malam di malam kedua. Jadilah jam setengah sembilan malam kami berburu pempek.

Aneh ya? Jauh-jauh ke Jogja yang diburu malah pempek kapal selem. Padahal kami berkali-kali melewati daerah Gudeg Wijil. Harap maklum, lidah Melan terlanjur berstempel Jakarta, sementara lidah Ninin berstempel Sidoarjo. Saya? Stempel Omnivora!

Sayangnya resto Ny. Kamto di Jalan Beskalan sudah tutup, tepat saat kami datang. Pelayan resto tidak memasang banner Maaf, Anda belum beruntung! membuat Melan kecewa berat. Akhirnya kami pulang dengan perut lapar. Belum habis sial, kami tersasar sampai Jalan Gajah Mada. Tiba-tiba saya teringat Rofi, sahabat semasa SD di Klaten dua belas tahun silam. Akhirnya saya menghubungi Rofi yang kos di jalan itu. Tujuan pertama adalah menanyakan jalan pulang, yang kedua.. PINJAM HELM! Hahaha.. Helm lagi, helm lagi.

Sepanjang perjalanan pulang saya berharap ada warung nasi kucing atau sejenisnya yang masih buka. Saya sedang betul-betul tidak beruntung malam itu. Warung lesehan yang masih buka hanya warung Kikil dan Kari Aceh. Dengan asumsi perut itu penting, maka kami parkirkan motor segera.

Empat baskom besar terhidang di depan kami. Keempatnya berisi bagian tubuh sapi dan kambing yang berbeda-beda. Ada yang khusus kulit, kaki, jerohan, dan sebagainya. Begitu laparnya kami hingga kami ambil seenaknya, semau gue.

Santap Kikil di lesehan pinggir jalan
Santap lesehan Kikil Kari Aceh

Promise, karinya uenak tenan! Kikil tadi ditambah kuah dan emping, hmmm…ย  Betul-betul menggugah selera. Tak heran kalau Melan dan Ninin mengambil begitu banyak kikil di mangkuk mereka. Tapi kenikmata tiga mangkuk kari ditambah nasi putih dan teh hangatย  ternyata tak nikmat di dompet. Kami harus merogoh kocek lebih dalam hingga lebih dari 60.000 rupiah. Setelah dikalkulasi dan dievaluasi, total pengeluaran kami hari itu 200.000 rupiah untuk bertiga. Dan pengeluaran terbesar yang tidak terduga justru di bagian penutupan: MAKAN MALAM. Ow ow ow!! Menyantap makanan asal daerah gempa (baca: Aceh) di daerah gempa lainnya (baca: Jogja) betul-betul bencana…

Iklan

14 pemikiran pada “Glandhangan Ngayogyakarta (Hari Kedua): Helm Cinderela Ikut Glandhangan

  1. Dear Tika We (& her A402)
    Saya kaget ada link blog saya muncul disini …
    hehehe
    Tapi jujur saja … saya senang … dan merasa tersanjung …

    Dan mengenai informasi Bogem bahwa segera setelah di “eksekusi” bisa memakai celana pendek … itu benar adanya …
    Saya memang tidak menyunatkan anak saya di Bogem Pusat … di YGY …
    Tapi saya menyunatkan anak saya di Bogem Cabang Jakarta. Saya berasumsi di YGY pun begitu …

    Demikian …
    Teruskan petualangan “Ngglandangan” mu nak …
    hehehe

    Salam saya
    NH18

    1. Waduh, NH18, A402 tu aaaapa ya?? Pake coding gitu kayak James Bond, euy! Hehehe..
      Kalau blognya bagus, gag ada salahnya dunkz saya link.. Tapi maaf neh, kayaknya belum pamit. Hehehe…

      Okay! Terima kasih infonya.. ๐Ÿ™‚

  2. Tik senang kalimat terakhir dan penutup tulisan mu..hehe
    Menyantap makanan asal daerah gempa (baca: Aceh) di daerah gempa lainnya (baca: Jogja) betul-betul bencanaโ€ฆ

    1. Ah, Mas Fajjar nie.. Aq jadi malu.. Masih proses belajar, Mas. Kan Mas Faj termasuk GuBes ku..
      ๐Ÿ˜›

  3. Wah perjalanan yang hebat…!!! Asyik juga ya bisa jadi turis kayak gitu. Liburan yang sangat bagus, bisa menghilangkan stress sekaligus menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman. Bahkan saya sebagai pembaca merasakan seakan ikut berpetualang. Isi tulisan dan gaya penulisan yang bagus Mbak, ini bisa jadi field guide bagi para penjelajah rimba kota Yogyakarta dan sekitarnya.

    Sukses selalu!
    Salam hangat dari Banyuwangi.
    Bahtera Prabaswara

    1. Thanks thanks thankss… Salut deh, rajin banget mengikuti blog saya. MAtur tengkyu..

      Ealah, dari Banyuwangi to. Tetangganya Bali? Hehehe…

    1. Hahahaha… =))
      (ketawa guling-guling)
      Enggag!! Horor jeh! Dawetnya juga horor.. Hahahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s