Catatan Tika We: Jelajah Pantura (Mikir Libur dulu Baru UAS)

Baca Perturan Akademik 2009, gag ada UAS, cuy!! So, gag salah dunkz kalo aku ngajak mikir liburan sekarang.. Daripada mikir UAS Ekonometrika yang gag jelas, atau UAS Simulasi yg never ending love ??

Liburan semester ini, musti dimanfaatin seoptimal mungkin, guys! Secara, semester depan dah Ka Pe. Setahun lagi dah jadi angkatan paling tua, yg summa cum laude mikir TA, yang sum of cum laude . Semester 8? Jangan tanya.. Jelas libur terus tuh!! Hehehe..

Wat liburan yang begitu berharga ini, aq prefer jelajah pantura. Jalur yang akan dibahas ini disebut juga Jalan Daendles atau Jalan Raya Pos seperti novel Pramoedya AnantaMungkin bisa dianggap survey atau gladhi resiknya SE kali ya..


JAWA TIMUR
Jalanan Surabaya – Jakarta sepanjang pantura terlalu indah dilewatkan kalo kita pake bis, travel, apalagi kendaraan pribadi. Terlalu banyak spot yang gag terjamah. Sayang banget!! ๐Ÿ˜ฆ Dari Surabaya aja nih ya, ke arah barat nyampe Tuban. Tuban adalah kota terakhir di Jawa Timur yang kita lewati. Deket2 ke perbatasannya, viewnya luar biasa. Pantai di kanan jalan.. Buatku, Tuban termasuk kota (eh, kota pa kabupaten ya?) yang rest areanya lumayan asik. Ada RM Kusuma Sari, Sendang Wungu, Kali Wungu, dan satu lagi tepat di depan terminal baru yang aku lupa judulnya. Resto-resto ini umumnya punya travel agency tertentu, tapi terbuka untuk umum juga. Rest area yg gag kalah cozy tuh tepat di perbatasan Jawa Timur – jawa Tengah. Lagi-lagi aku lupa judulnya. Pokoke kyeh, di situ ada Candi Perbatasan juga. Sayangnya tuh candi dah dinodai tangan jahil, coret sana-sini. Tapi tempat makannya asik koq.

Geser dari Jawa Timur, kita ke Jawa Tengah. Aseeekk!!

SEMARANG
Di Jawa Tengah ini bwanyak banget spot yang menggoda wat parkir sejenak. Randomly, ada Sekatul di Semarang. Di sini kita bisa outbond seru-seruan! Mulai dari flying fox, ampe yang ‘berani kotor itu baik’. Kalo pake bis plat kuning di atas jam 10 malam, kita juga bisa menikmati pemandangan Semarang Tua. Gereja Blendhuk, Lawang Sewu, … Angkernya keliatan!! Sayangnya, Kota Semarang ini daerah rawan banjir dan rob. Jadi, jangan heran kalau perjalanan terganggu di daerah ini. Nah, kalo di Kabupaten Semarangnya, gag banyak view yang menarik untuk disinggahi, selain gemerlap hunian perumahan elit di perbukitan. Lebih dari itu, yang ada hanya Tugu, sebuah kawasan industri-industri taraf nasional. Tidak banyak nama industri yang aku ingat di Tugu, selain PT Apac Inti Corpora. Kata Bapak, industri ini adalah perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Selain itu.. MARKAS NASIDARIA! Kalo yang hobi musik Qasidah, nggak mungkin nggak kenal group rebana ini. Perdamaian, peerdamaian. Banyak yang cinta damaaiy, tapi perang semakin raamai..

PATI, KUDUS, …

Jenang Kudus Mubarok (gag bermaksud promo lho..)Sebelumnya, antara Tuban – Semarang kita nglewati Pati, Kudus, … Di sana ada pabrik kacang 2 Kelinci, pabrik gula usang (yang katanya sekarang dah dibeli pihak swasta) PG Rendeng, namanya. Terakhir aku lihat, sekarang tuh pabrik dicat pink! Sulit dibayangkan, bangunan tua yang masih asli dengan warna yang maksa banget. Untung nggak sempat membayangkan, tapi langsung lihat waktu lebaran kemarin. Oya, di Kudus ada Jenang Kudus Mubarok. Lumayan populer lho..

BATANG
Setelah Semarang, ada Batang, Pekalongan, Comal, trus Pemalang. Bagi penjelajah pantura, Batang dikenal dengan jalanan alas roban. Jalanan ini membelah hutan jati tersebut jadi dua bagian. Dari sinilah Bajing Loncat berasal. Bajing Loncat adalah sebutan bagi sindikat perampok yang lompat dari hutan ke truk yang lalu lalang. Sekarang aq gag pernah denger lagi tentang kelompok kriminal itu. Yang aku tau sekarang, sepanjang pantura, rest area Batang adalah yang paling sejuk dan masih natural. Di sana-sini banyak orang menjual es kelapa muda dengan berbagai variasinya. Di bakar, diminum langsung dari kelapanya (bukan pohonnya), atau dengan gula jawa, atau rempah-rempah. Spot-spot semacam ini biasanya di daerah setelah SD Banyu Putih. O ya, jalanan Batang berkelok-kelok. Kalau kamu mabuk darat yang gag akrab dengan antimo, mungkin akan sering turun di sini untuk memuaskan hasrat muntahmu. Hehehe… Soyr neh rada jorok! Tapi sekarang sudah jauh lebih baik koq. Jalanan diperlebar, rest area juga lebih cozy.

PEKALONGAN
Nah, kalau di Pekalongan nih, udah bisa ketebak di mana ‘tempat parkir’ paling asyik. Sentono. Pusat batik sebatik-batiknya. Mungkin kalau kamu ke Bali, Solo, bahkan Surabaya, sering belanja batik, kamu pasti nyesel berat setelah menginjakkan kaki di Sentono. Batiknya cuantik-cuantik, modelnya beragam, harganya pun miring banget. Maklum, fresh from the oven, eh factory. Aku denger sih ada Kampung Batik juga di sana. Tapi belum pernah mampir. Baju batik yang kamu beli di negeri antah berantah itu, bisa kamu dapatkan di sini dengan harga yang jauh lebih murah, karena gag pakai ongkos kirim. So, kalau kamu penggemar batik, aku saranin wat pikir dua belas kali untuk belanja di luar Pekalongan.

PEMALANG
Lepas dari Pekalongan, kamu boleh tidur sejenak. Tapi di Pemalang, kamu musti bangun! Karena di sini ada Pantai Widuri. Dari jalan nggak keliatan sih, tapi arena wisatanya asik banget. Rindang, nggak seperti tempat wisata pantai pada umumnya. Terakhir ke Widuri, aq sempat melakukan tindakan yang tidak patut ditiru. Bawa pulang bintang laut, kuda laut, kelomang (kalau di Irba nih cangkang rumahnya dicat warna-warni), dan kejar-kejaran dengan ubur-ubur. Jangan ditiru ya, nanti kalo aku ke sana lagi nggak dapet bintang laut deh donk..

My sist n my mom di Mi PelutanDi Pemalang juga, ada dukun yang terkenal, langganan artis-artis tiga jaman, termasuk si Eko Patrio dan Titiek Puspa. Mbak Atun, namanya. Tapi, bukan tempat itu yang aku suggest, melainkan warung mi di depannya. Mi Plutan. Lokasinya nggak tepat di jalur pantura sih, agak masuk dikit. Tapi, promise, nggak mengecewakan. Apalagi dengan dihibur seniman tradisional dengan harmonika, cello bas betot, biola, dan sebangsanya..

TEGAL!!!
Setelah Pemalang… Ini nih, area pantura yang paling asyik. TEGAL!! Perjalanan dari Tegal ke Pemalang nggak akan terasa kalau nggak nengok kanan. Naik bis maupun kereta, kalau di kanan jalan ada pantai biru, dengan perahu-perahu kecil, tambak ikan dan udang, resto-resto besar, itulah Tegal. Pantai di kanan, iklan di kiri. Eits, iklannya bukan sembarang iklan lho.. Iklan Pring Sewu, restoran pantura yang memecahkan rekor MURI dengan iklan terbanyak dan terpanjang. Kamu bisa baca iklan Pring Sewu jauuuh sejak masih di Semarang. Hampir di setiap kilometer yang kita lalui di jalur pantura selalu ada iklan Pring Sewu. Seperti restoran pantura pada umumnya di Tegal, mereka menjual view pantai dan hidangan rumahan yang luekoh tenan (lho koq kayak Ci’ Mu??). Sovenir dan oleh-oleh berbagai daerah pun dijual di sini. Oya, kalau sudah masuk daerah Plat G, kamu KUDU dan WAJIB moci di sini. Menikmati teh hangat di dalam poci tanah, dengan gula batu di cangkir kecil. Hm, gag heran Pak Dhe Sosro laris manis. Wong Tegal emang paling ahli urusan teh racikan! Hehehe…

Masih tentang rekor MURI, di Tegal juga ada SPBU yang memecahkan rekor MURI. Bukan karena bensinnya, tapi karena jumlah kamar mandinya. SPBU yang dimiliki seorang nenek janda ini memiliki 60 kamar mandi yang bersih. Katanya si Nenek (sorry, lupa namanya), penghasilan terbesar ia peroleh dari sumbangan pemakai kamar mandi, bukan keuntungan penjualan bensin. Wow!

O ya, sebagai daerah yang terkenal dengan tehnya, aku sarankan jangan tutup jendela mobil kamu di daerah ini. Biarkan aroma teh pabrik-pabrik di sepanjang jalan masuk ke dalam kendaraanmu. Kalau kamu melintasi Tegal tepat jam lima sore, ada aroma tambahan yang tercium, yaitu aroma melati. Tiap jam lima sore, truk-truk pengangkut melati berdatangan dari dalam dan luar kota. Nggak heran kalau di jam tersebut jalanan jadi semerbak bau melati.

Lebih dalam tentang Tegal, klik blogku aja.. Hehehe…

BREBES
Setelah Tegal, kota berikutnya adalah Brebes. Brebes dikenal dengan bawang merah dan telur asinnya. Aku sendiri nggak tau kenapa bawang merah Brebes begitu dikenal dalam berbagai kemasan. Emang sih, sawah di Brebes umumnya ditanami bawang merah. Tapi kenapa ya?? Telur asin Brebes juga terkenal. Emang sih, rasanya paling pas, gag terlalu asin. Dikemasnya juga dengan cara yang alami, dengan abu gosok dan tanah batu-bata.

Nah, setelah Brebes mpe Jakarta aku gag hafal banget. Bulik dan Pak Lik ku lebih menguasai daerah ini. Mereka lebih akrab dengan jalanan pantura menuju Jakarta. Maklum, aku sendiri jarang banget ke Jakarta.

O ya, kalau di Jawa Tengah kamu lapar dan pengen mencicipi hidangan nusantara, bwanyak rest area yang dijamin enak dan nyaman. Andalanku: Salsabil. Selain tempatnya luas, hidangannya beragam, enak pula, di Salsabil ada toko kaset dan toko buku. Kalau cuma numpang dengerin kaset di sini, gratis koq! Hehehe.. Ada juga Sendang Wungu. Hidangannya nggak kalah enak dengan Salsabil. Aku dan Bapak paling suka gudheg kendhil-nya Sendang Wungu. Manisnya pas! Selain dua rest area itu, masih banyak spot-spot menarik untuk parkir. Ada Luas Indah, Rumah Makan Tegal I dan II, RM Lombok Ijo, dan sebagainya.

Last but not least, tujuan aku posting ini adalah.. Aku kangen jelajah pantura!! Dan sekarang, aku nantangin kamyu-kamyu, keluar dari Zona Nyaman Surabaya, MARI JELAJAH PANTURA!!

Iklan

11 pemikiran pada “Catatan Tika We: Jelajah Pantura (Mikir Libur dulu Baru UAS)

  1. Akhirnya ada juga postingan baru setelah ke sekian kali berkunjung. Lagi sibuk banget ya Kak sampe gak sempat posting. Tapi postingannya bagus banget tuh, bisa jadi panduan travel.

    Wah asik travel-nya Kak, kalau kita anak Pramuka sukanya blusukan ke daerah-daerah yang dekat-dekat hutan. Atau bahkan malah masuk ke hutan juga. Memang menikmati perjalanan itu yang pas ya pakai kendaraan pribadi, soalnya kalau angkutan umum yah cuma lewat doank.

    Salam dari anak-anak Pramuka Gudep Prabaswara ujung timur Pulau Jawa.

    Bahtera Prabaswara

  2. Hehehe.. Jadi malu neh..
    Sebenernya niat posting udah lama, tapi tugas kuliah lagi menggila. Sepertinya semua dosen berlomba-lomba kasih tugas.

    Iya, aq juga suka blusukan, cuma belum ada kesempatan aja. salam juga wat temen-temen Pramuka Gudep Prabaswara..

    Thanks 4 d’attention (n comment, of course). Jangan kapok ya..
    ๐Ÿ˜€

  3. Terimakasih Mbak…atas Kunjungannya ke Pringsewu, kapan kapan kalau jalan-jalan lagi jangan lupa mampir ya mbak…. selain di Tegal di daerah pantura kami juga hadir di Eretan kulon-Kandang Haur Indramayu, Tegal Gubuk Cirebon, Pemalang (restoran Pringjajar), dan di Rita Mall (Mie Pasar Baru dan Pondok Makan Kabayan Tegal). Jangan lupa juga jika melewati Pantai selatan, Jogja dan Solo, kami juga hadir di sana.

    Salam Hangat dari kami, Keluarga Besar Pringsewu Restaurant Group.

    1. Weiks? Hahaha… Mampir lagi? Boleh deh.. Gratis ya? Asek aseeekk!! Mie ijo-nya Mie Pasar Baru juga boleh koq. Hehehehehe…
      (Berharap beud..)

  4. gw sering mampir ke spbu muri di tegal, sumpah pelayanannya ga da duanya pokoknya kalian2 semua kudu mampir di situ. Toiletnya ampun bersih banget bayar 10rb tuk mandi di situ pun gw mau. Pelayanannya TOP BGT….. Maju Terus SPBU MURI TEGAL……..

    1. Setuju!! Bahkan keuntungan dari toilet jaaaaaauh lebih besar dari jualan bensin lho..
      ๐Ÿ™‚

  5. waw asik banget baca ulasan kota2 yang dilewati blogger Tika ini, bikin saya makin g sabar pengen cepet2 lewat pantura lebaran nanti. Oh ya saya berencana ke bali lewat pantura, dan ngebet banget ingin menikmati keindahan kota2 pantura yang nantinya bakal saya lewati! Trims y, ulasan kota2 panturanya dan salam kenal..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s