Belajar Mencintai Indonesia

ymSaya tiba-tiba teringat (mungkin kangen juga) ๐Ÿ™‚ dengan seorang teman dari Bali. Saya pernah bertanya kenapa dia kuliah di Surabaya, tidak di Bali. Padahal ayahnya adalah dosen terkenal di Universitas Udayana, Bali. Jawabannya cukup simpel, tapi menarik. Katanya, kita bisa melihat rumah kita ini bagus atau tidak kalau melihat dari luar. Hm, betul juga.

Saya rasa alasan itu pun secara tidak sadar menjadi alasan mengapa saya sangat gandrung bahkan candu dengan dunia maya, khususnya chat. Sejak pertama kali kenal internet saya langsung jatuh cinta pada fitur instant messenger. Saat itu saya masih SMP, dan yang mengenalkan internet adalah adik kelas saya, Reni. Hehe, jadi malu. Masak kalah sama anak-anak. Hihihi… Waktu itu saya diajari cara membuat Y! Mail dan mIRC. Ternyata saya tidak cocok bergaul di mIRC.

Begitu banyak user yang menyebarkan link-link porno dan cam-girl. Selain itu saya agak kesulitan bergaul dengan orang asing di aplikasi ini. Karena itu saya beralih ke Y!M. Melalui Y!M, saya menjelajahi berbagai room. Dari Asia hingga Afrika, dari penghobi musik hingga homoseksual, dari kelompok pelajar hingga profesor. Mereka umumnya konsisten dengan room mereka. girl_chatting

Setiap berkenalan dengan orang baru, saya selalu menggiring pembicaraan mengenai negara masing-masing. Sebetulnya di Y!M juga banyak ‘lelaki kesepian’, tetapi ketika saya mengatakan tidak tertarik pada pornowicara, mereka mau menghargainya. Kalau mereka tidak cocok ya menghentikan perbincangan, kalau memang enjoy ya lanjut. Itulah mengapa saya lebih nyaman chat dengan orang asing daripada orang Indonesia sendiri. Orang Indonesia mah jago flirting, tapi kadang diajak ngomong isu internasional suka lola! Meski kurang nyaman dengan orang-orang Indonesia, saya justru merasa bangga sebagai orang Indonesia ketika bergabung dengan room asing. Dengan mengenal dunia luar, saya merasa semakin beruntung hidup di negara demokrasi ini.

India, misalnya. Negeri Taj Mahal ini mengalami perkembangan yang sangat pesat di bidang IT. Namun urusan penegakan hukum, payah puoll!! Seorang teman pernah bercerita, ia pernah diperkosa. Namun ia tidak berani melapor ke polisi. Kalau ia melapor ke polisi, masalah tidak akan selesai, korban malah semakin dipermalukan. Ia akan ditanyai apa warna branya, celana dalamnya, bagaimana ia diperkosa, bagian tubuh mana saja yang dijamah, bagaimana pelaku memperlakukan bagian tubuh tersebut, bahkan tak jarang polisi meminta reka ulang. It seems like..menyuruh si korban menjadi korban lagi. Hell!!

Di film Bollywood, seorang polisi memang nampak begitu berwibawa. Inspektur Vijay selalu datang tepat waktu. Hahaha… Tapi sebetulnya yang ada justru jauh dari kenyataan. Ketika Anda ditipu dan melapor ke kepolisian, kasus Anda bukannya diusut malah Anda dinilai bodoh. Mereka bahkan tak jarang menyalahkan Anda, kok yo gelem diapusi? Apalagi bila Anda seorang muslim. Muslim di India memang terpinggirkan, persis seperti yang digambarkan film Slumdog Millionaire.

Prostitusi, penipuan, dan aksi kekerasan menjadi ‘agenda harian’ di India. Menjadi wanita merdeka di sana juga tidak mudah, apalagi setelah Anda dilamar seorang saudagar kaya. Kasarnya, Anda tidak bisa menolak untuk mencium kaki suami Anda dan berbagi hati dengan wanita-wanita lain. Orang India sangat memuja bangsa barat. Masyarakat bisa memperlakukan Anda bak dewa bila wajah Anda kebarat-baratan apalagi dengan rambut blonde. Hm, tapi ada satu yang saya suka dari India, cara mereka mengucapkan ‘sampai jumpa’ pada rekan sesama muslim. Orang India dan Pakistan selalu mengatakan ‘Allah hafiz’ bila hendak berpisah. Ungkapan itu seperti God Bless You.

Dari India, beralih ke negeri Paman Sam. Banyak orang memandang negara ini nyaris sempurna. Rich, educated society, hi-lite, bebas, disiplin, betul-betul nyaris sempurna. Tapi Amerika tidak seindah yang orang bayangkan. LA malam hari tidak jauh berbeda dengan Jakarta, padat dan ‘liar’. Bedanya cuma kerlip lampu brand-brand setempat yang menggantikan bintang di langit. Kebebasan di Amerika juga tidak mutlak dimiliki oleh semua warganya, terutama warga kulit hitam atau negro. Mereka menyebutnya ‘Coloured’ atau orang kulit berwarna. Beberapa juga menyebut secara sarkatis sebagai ‘Black Man American’.

Black and White memang menjadi pembeda yang sangat ekstrim di negara liberal ini. Bahkan sekalipun Anda artis atau penyanyi dan kaya raya, selama Anda tergolong coloured, maka Anda tidak bisa memperoleh hak-hak tertentu. Anda tidak bisa duduk di kursi regular apalagi VIP di bioskop. Anda tidak boleh masuk teater melalui pintu yang sama dengan orang kulit putih. Seorang laki-laki kulit hitam yang terlihat ‘jalan’ dengan perempuan kulit putih, umurnya tidak akan panjang. Ia akan dijebloskan penjara oleh sherif dan mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan di sana.

Di wilayah pedesaan di Amerika, biasanya ada jalan-jalan tertentu yang didiami petani kulit putih. Kalau ada warga kulit berwarna melintasi jalanan tersebut, ia akan digantung dan dibakar hidup-hidup. Persis seperti film lawas The Great Debaters atau film terbaru Queen Latifa yang berjudul The Secret Life Of Bees. Masih banyak lagi negara-negara yang tidak senyaman Indonesia. Prancis dengan larangan berjilbabnya, Vietnam dengan tentara pengaman dan penjualan bayi, Swedia yang pelit senyum, dan sebagainya. Indonesia, my home sweet home.

Iklan

6 pemikiran pada “Belajar Mencintai Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s