Proud to be Wong Tegal

kabupaten_tegalTegal. Mendengar nama kota yang satu ini, kita akan teringat pada beberapa hal. Teh poci, warteg, tahu aci, soto talang, sate balibul (koq makanan semua ya?), jalur pantura, jepangnya Indonesia, Ki Enthus, semua itu telah melekat erat pada kota yang terletak antara Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang. Ada satu lagi yang tak pernah lepas dari Tegal, dialeknya yang ngapak-ngapak.

Logat dan dialek Tegal sering menjadi bahan tertawaan. Bahkan Cici Tegal yang bukan orang Tegal pun menjadikannya sebagai ‘lelucon komersial’. Dengan akting menggunakan logat Tegal, dia populer sebagai Cici Tegal. Padahal ia baru pertama kali menginjakkan kaki di Tegal saat syuting sinegal (sinetron tegal) berjudul Kembang Warung Tegal. Sayang film ini kurang laku di pasaran.

Saya memang tidak berada di Tegal sejak kecil. Baru kelas empat SD saya tinggal di Tegal, tepatnya di Pangkah. Namun saya begitu jatuh cinta pada Bahasa Tegal.

locator_kabupaten_tegalHidup di lingkungan pabrik gula (PTPN) mengharuskan keluarga kami berpindah-pindah. Saya terlahir di Brebes (PG Jatibarang), kemudian pindah ke Klaten (PG Ceper Baru) setelah usia satu tahun. Saat krisis moneter melanda negeri, pabrik tempat Bapak bekerja pun ditutup sehingga beliau dipindahkan di Tegal (PG Pangkah). Di rumah, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah bahasa krama. Ibu saya asli dari Brebes namun beliau melanjutkan sekolah menengah hingga diplomanya di sekolah kesenian tari di Solo, sehingga menggunakan bahasa krama bukan hal sulit baginya. Walau begitu, Ibu tetap menggunakan Bahasa Tegal bila berkomunikasi dengan keluarga besarnya. Dengan kakaknya yang lama tinggal di Jember dan Lombok, atau adiknya yang sudah lama jadi orang Jakarte, Bahasa Tegal tetap jadi bahasa utama. Tak heran bila saya pun jadi ikut mengenal Bahasa Tegal sejak kecil. Bahkan saya sering bermain tebak-tebakan dengan keponakan Bapak dengan bahasa tersebut. Kebetulan keluarga Bapak berasal dari Solo.

“Mbak, nek tiyang Tegal sanjang ‘belih lara’ artine nopo yo, Mbak?” tanya saya pada Mbak Evi.

“Belih lara? M.. Beli dua! Tuku loro!” tebak Mbak Evi.

Saya ingat betul dialog ini sejak kecil karena bermain tebak-tebakan Bahasa Tegal membuat saya bangga mengenal Bahasa Tegal. Bagi anak usia 5 tahun yang sok pintar seperti saya (saat itu), mendapat tebakan yang salah dari orang yang lebih tua tentu saja membanggakan.

“Salah, Mbak! belih niku artine mboten, lara niku artine sakit. Nah, ‘belih lara’ niku artine ‘mboten sakit’,” jawab saya penuh kemenangan.

Semakin hari saya semakin bangga dengan Bahasa Tegal, terutama setelah saya bersemedi beberapa waktu lalu. Dari hasil semedi, saya mendapat wangsit bahwa dialek Tegal adalah dialek yang paling sulit ditiru.

warungnikmatWalau tidak serius mendalami bahasa, saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan keragaman bahasa. Sejak SD hingga SMP beberapa piala lomba membaca geguritan (puisi dalam bahasa Jawa) sering saya bawa pulang, begitu pula lomba membaca puisi. Saat SD saya juga pernah mengikuti olimpiade Bahasa Indonesia, dan itu membuat saya semakin tertarik pada dunia bahasa. Memasuki SMA, saya tergabung dalam kelas kecil piloting Dinas P dan K Jawa Tengah. Kelas itu bernama kelas immersi, kelas dengan 24 siswa terpilih dan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Selain itu saya juga tergabung dengan tim English Debate di SMA dan sempat mengisi program KGRE selama hampir tiga tahun. KGRE atau Kang Guru Radio English merupakan program berbahasa Inggris di radio seluruh Indonesia yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan Australia.  Saat kelas satu SMA, saya pun mendapatkan pelajaran Bahasa Prancis. Dari sekian pengalaman saya mengenal bahasa asing, saya simpulkan bahwa menirukan dialek bahasa asing tidak terlalu sulit. Lihat saja para ABG yang menyanyikan lagu-lagu barat, mereka terdengar fasih menyanyikannya. Yah, dalam urusan dialek atau logat, tidak jauh beda dengan penyanyinya lah.. Atau Anda bisa lihat bule-bule yang fasih berbahasa krama di daerah Jogja.soto talang

tehpociBahasa daerah tak kalah menarik bagi saya. Ketika mendapat kesempatan melancong ke Bandung, beberapa hari sebelumnya saya belajar Bahasa Sunda. Saya pelajari artikel-artikel Sundanese di internet. Setelah sampai di Bandung, saya pelajari dialek mereka. Bagaimana mereka melafalkan suku kata ‘eu’ atau menambahkan aksen ‘h’ di akhir kata (misal, kata ‘ada’ menjadi ‘adah’). Dalam dua-tiga hari berbicara dengan Bahasa Indonesia (karena vocab Sunda belum lengkap) dengan logat Sunda menjadi sangat mudah. Bahkan logat Tegal menjadi tidak kentara. Begitu pula ketika saya berkesempatan mengunjungi Pulau Dewata. Menirukan logat Surabaya juga tidak sulit. Masa matrikulasi di ITS saya gunakan untuk mempelajari boso Suroboyoan. Awalnya memang terdengar terlalu halus bagi kawan-kawan saya karena saya sering lupa mengganti kata ‘ora’ menjadi ‘gak’. Namun dalam kurun waktu kurang dari sebulan, dialek Suroboyoan sudah masuk dalam gaya bicara saya. Padahal saya perlu waktu hampir enam tahun untuk mendapat pengakuan atas logat Tegal sebab hingga kelas tiga SMP bahasa Tegal saya sering dikritik teman-teman. Sekarang, belum ada dua tahun di Surabaya, banyak kenalan yang tidak menyangka saya orang Tegal.

21888448_fb5dfd4eda_oKemudahan menyembunyikan logat dan berganti logat lain semacam ini tidak dialami oleh saya saja. Mantan bedinde Ibu yang merantau di Jakarta, Arab, Malaysia, teman-teman yang berlayar ke Kalimantan, Jepang, Amerika, kakak sepupu yang kuliah di Bandung, Jogja, Malang, Semarang, logat Tegal mereka nyaris tidak kentara. Hal ini tidak berarti bahwa mereka malu dengan dialek Tegal, namun itulah adaptasi. Saya sering membayangkan wong Tegal seperti alien dalam film Men In Black II, terutama adegan di kantor pos. Ketika berbicara dengan manusia dan menggunakan bahasa manusia, maka si tokoh diperlakukan sebagai mana manusia pada umumnya. Namun ketika tokoh tersebut berbicara dalam bahasa alien, manusia-manusia di sekitarnya mendadak menunjukkan jati diri mereka sebagai alien, kemudian berbicara dengan bahasa alien dengan gayeng. Begitu pula orang Tegal. Bila Anda mengajak bicara orang Tegal (yang merantau) dengan bahasa Indonesia, maka ia dengan fasih menjawabnya dengan Bahasa Indonesia. Namun begitu Anda bertanya dalam Bahasa Tegal, wa…asline metu!

tahu aciTulisan ini saya post tidak untuk menjatuhkan bahasa lain, melainkan wujud bangga saya pada Tegal. Hal serupa semestinya Anda rasakan juga walaupun Anda bukan orang Tegal. Kalau Anda orang Sunda, jangan hilangkan dialek Sunda Anda. Kalau Anda orang Malang, jangan lupakan dialek Malang Anda (apalagi malah berubah menjadi dialek Bali di tengah kerumunan Bonek). Kalau Anda orang Batak, banggalah dengan Bahasa Batak Anda. Betapa lucu atau kasarnya bahasa daerah Anda, itulah warisan mahal yang harus Anda jaga.(taw)

Iklan

8 pemikiran pada “Proud to be Wong Tegal

  1. Mantab mba.. suwun kiye wis nggabung ning TCC.. ditunggu kontribusi luwihe nang kene… aku + kanca2 tegal lagi berusaha mengubah pandangan orang terhadap tegal.. eben ora ngileng seka bahasane tok sing nggo bahan ledekan (ejekan), ato tegal adalah warteg saja dlsb… sukses mbak we.. :joss:

    1. Hohoho.. Maturtengkyu.. aq neng TCC ya lagi belajaran ko. Wis bahasa Tegale aku rada aneh, durung mudeng ‘pola komunikasi’ne TCC. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s