Kaji Ulang Kemandirian Energi ITS!!

Posting ini bukan dalam rangka meluapkan kekecewaan atas ditundanya UAS saya. Bukan pula untuk memberikan sebuah pukulan untuk civitas akademi ITS. Saya hanya ingin mengajak mengkaji ulang kemandirian energi yang sering diteriakkan di ITS.

Sebelumnya, mari kita tengok berita tentang Dies Natalies ITS ke-48 lalu di http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=5100. Pada berita tersebut tertulis tentang tema Dies Natalies, yaitu Meningkatkan Daya Saing Bangsa melalui Kemandirian Energi. Tak hanya berupa tema, ide kemandirian energi juga telah tertuang dalam sebuah buku, dan buku tersebut (dalam berita tadi) akan diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam buku tersebut tertulis permasalahan-permasalahan energi dan pemecahannya.

koleksi ITS Online
sumber: koleksi ITS Online

Sayangnya, hingga tulisan ini dibuat, kemandirian energi di ITS masih menjadi suatu pemikiran, sekedar tema. Nyatanya, dalam hal energi ITS masih jaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuhhh dari mandiri.

Sejak tadi malam, ITS disergap kegelapan. Listrik padam. Hingga siang tadi, genset di jurusan Statistika masih meraung di tengah primitifnya Kampus Perjuangan tanpa listrik. Sayang, raungannya hanya untuk kesekretariatan jurusan dan beberapa kelas. Tanpa listrik, kelas jadi terasa panas (seperti layaknya udara Surabaya), cahaya lampu pun hanya basa-basi, bahkan laboratorium komputer lumpuh total. Betul-betul primitif. Apabila hal demikian terjadi pada saat hari libur, tentu tidak akan menjadi masalah besar. Tidak akan ada pemandangan mahasiswa dengan kipas di tangan kiri dan pena di tangan kanan mengerjakan soal UAS dengan mimik serius tapi kegerahan. Tidak akan ada antrian mahasiswa duduk bersila di lorong lantai 3 menunggu kejelasan pelaksanaan UAS di lab. Mungkin pun tidak akan ada cerita UAS Pemrograman Komputer ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

koleksi ITS Online
sumber: koleksi ITS Online

Sungguh sangat disayangkan, kemandirian energi di ITS ternyata baru sebatas pemikiran, mandheg di saraf sensorik, belum turun hingga saraf motorik. πŸ™‚

Hal semacam ini tidak semestinya terjadi di institut teknologi, apalagi penyandang akreditasi A. Betapa banyak awards yang diberikan ITS pada berbagai pihak, terutama civitas akademika, atas gerak mereka untuk ITS. Bahkan negara pun rela merogoh kocek APBN hingga 1,756 milyar rupiah supaya ide inovatif para dosen ITS terealisasi. Tapi ternyata ide dan solusi kemandirian energi ini belum nyata, statusnya masih sejajar dengan imajinasi ilmiah

Sekali lagi, tulisan ini tidak bertujuan memperburuk citra ITS. Tujuan penulisan posting ini..semoga muncul pemikiran baru supaya para pemikir bisa merealisasikan pemikiran kemandirian energi atau memikirkan kembali pemikiran tersebut. Tapi, kalau dipikir-pikir, koq kayaknya malah jadi kebanyakan mikir ya?

Salam,

Tika We

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s