Kenapa masih baca buku fisik?

View this post on Instagram

Siapa yang pernah ditanya, "Kenapa masih baca buku fisik?" Saya dibesarkan dari orang tua yang biasa aja. Ibu saya guru SMA, Bapak karyawan pabrik. Keduanya nggak bisa Bahasa Inggris. Di Slawi, tempat kami tinggal, juga nggak ada toko buku. Tapi Bapak suka bawa pulang majalah Newsweek bekas dari atasannya. Kalau Bapak dinas ke luar kota, selalu oleh-oleh buku dan komik2 RA Kosasih. Ibu sering pinjamkan buku baru dari perpustakaan SMA. Ibu juga yang mengenalkan saya ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Tegal, yang sampai sekarang masih sering saya kunjungi. (FYI, Perpustakaan Kabupaten Tegal jaaaauh lebih nyaman daripada Perpustakaan Bekasi. Padahal dapet dana hibah sangat besar dari Bank Indonesia corner. Hiks!) Dari situ saya selalu merasa punya "utang". Kalau ada rejeki lebih, beli buku fisik supaya bisa dipinjamkan. Supaya lebih banyak orang baca buku. Sebenarnya saya ada mimpi punya private library di rumah, tapi nafsu bongkar rak membuncah tiap ada yang ngajakin donasi buku. Jadilah koleksi buku ya segitu-gitu aja. Ebook juga baca sih, terutama untuk buku2 luar negeri yang nggak tersedia di Indonesia. Atau yang bahasanya njelimet. Kalau bagus, baru hunting jastip buku UK/US. Kamu masih baca buku fisik nggak? Kasih saran donk perpustakaan yang asik di Jakarta & Bekasi ada di mana? #bookstagramfeature #bookishgirl #bookphotography #bookstafeatures #bookish_indonesia #bookofthemonth #bookreviewer #bookishfeatures #BookstagramIndonesia #culturetripbooks #booknerdigans #igreads #bookstagram #booksaddict #prettybookplaces #ilovebooks #HumansofBookstagram #libraryofbookstagram #shelfjoy #becauseofreading #TheBookstagram #readingismagic #bookobsessed #riotgrams #bookwormfeatures #unitedbookstagram #bookbloggers #bbbbookclub #buibubacabuku

A post shared by The Wordy World of TikaWe (@tikawecom) on

Rearranging Book Shelf

5 Jenis Tandatangan yang Bikin Buku Mahal

Pandemi belum berakhir. Namun industri buku di seluruh dunia mulai bergeliat lagi. Bahkan tak sedikit yang berani meluncurkan buku baru bertandatangan.

Dari dalam negeri, ada Sapardi Djoko Damono yang meluncurkan buku antologi puisi “Mantra Orang Jawa”. Tanggal 30 Juni cerpenis sekaligus dalang opera Indonesia Kaya, Agus Noor, juga membukukan kegelisahannya dalam “Kisah-Kisah Kecil & Ganjil Malam 1001 Pandemi”.

Di hari yang sama di Inggris dan Amerika Kevin Kwan akan meluncurkan buku “Sex and Vanity”. Apa kesamaan ketiganya? Selain sama-sama diluncurkan di masa pandemi, ketiganya menjual edisi perdana bertandatangan.

Menariknya, buku bertandatangan Kevin Kwan ini sudah bertebaran di toko buku Amerika Serikat. Bahkan Periplus Indonesia pun ikut melelang salah satu buku tersebut besok, 30 Juni 2020 jam 8 pagi sampai 4 sore. Lelang dilakukan di tautan ini.

Sebelum kamu ikut lelang atau prapesan buku bertandatangan, ada baiknya kamu tahu jenis-jenis autographed book.

  1. Buku hand-signed masal
Agus Noor menandatangani buku “Kisah-Kisah Kecil & Ganjil”

Buku bertandatangan masal belakangan ini semakin populer di Indonesia. Bahkan aneh rasanya kalau ada toko buka membuka prapesan tanpa tandatangan penulis.

Teknis tandatangan yang paling lazim, penerbit menyodorkan buku-buku yang sudah siap edar untuk ditandatangani penulisnya. Ada juga penerbit yang hanya menyodorkan lembar sampul dalam untuk ditandatangani. Lembar ini kemudian baru dijilid bersama lembar lain di buku.

Bagi penulis, menandatangani ratusan bahkan ribuan buku pasti melelahkan. Wajar kalau harganya lebih mahal. Anehnya, sekaligus bikin saya gemas, buku bertandatangan di Indonesia harganya malah jauh lebih murah dibanding harga normal!

Harga edisi perdana bertandatangan malah lebih murah

Mungkin saya sedikit bias karena secara buta mengagumi segala macam karya Agus Noor, tulisan maupun panggung teatrikal. Mengetahui Beliau menandatangani buku tanpa mesin atau alat bantu, tersinggungnya pun jadi berlipat.

Halaman sampul dalam bertandatangan Agus Noor, penulis “Kisah-Kisah Kecil & Ganjil”

Edisi perdana buku ini sepertinya ditandatangani dengan Drawing Pen Snowman hitam 1 mm. Bukan tipe pena yang lazim untuk tandatangan, namun tetap menarik. Terlihat gurat-gurat lelah si pulpen yang sudah memudar dan ujungnya (tip) terbelah. Tanda si pulpen sudah kerja keras.

Biasanya pena yang digunakan untuk hand-signed adalah fountain pen. Semakin bleber tintanya semakin greget. Namun sekarang semakin jarang orang pakai fountain pen. Sudah berganti ballpoint, gel pen, atau rollerball pen.

2. Hand-signed book bernomor

Jenis hand-signed bernomor ini biasaya khusus edisi terbatas. Misal boxset, atau deluxe set yang hanya dibuat dan ditandatangani secara terbatas.

Buku Decision Point tulisan mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, misalnya. Penerbitnya mengeluarkan 250 deluxe set dengan kotak berbahan kulit, ditandatangani spidol warna emas. Setiap set diberi nomor 1 – 250. Harganya sudah pasti melejit dari harga hardcover USD 22 (Rp 316 ribu) menjadi USD 1.000 (Rp 14 juta).

Deluxe Set The Bush Years nomor 1 dari 250

3. Personal hand-signed

Personal hand-signed tentu yang paling ditunggu kebanyakan kutu buku. Kesempatan bertemu, lalu minta tanda tangan dengan nama kita di situ.

Tandatangan Sapardi Djoko Damono untuk ibu saya, Ani saat ultahnya 2017 lalu

Bagaimana harganya di pasaran? Ini tergantung siapa pemiliknya. Biasanya kalau pemiliknya kolektor, pejabat, atau orang ternama pasti mahal. Meski demikian tren di Indonesia belum mengarah ke sana. Euforia bertemu penulis masih lebih besar dibanding koleksi edisi perdana bertandatangan bekas orang ternama.

4. Autopen signed book

Autopen adalah mesin yang dapat menirukan tandatangan dengan sangat presisi. Hasilnya pun lebih rapi dibanding hand-signed. Meski demikian, buku autograf jenis ini yang paling dihindari kolektor buku luar negeri.

Mesin autopen menghasilkan 1000 tandatangan dalam 1 jam

Tandatangan yang rapi adalah ciri autographed book dengan autopen yang paling kentara. Tidak ada bleber tinta pena itu pasti. Karena kemampuannya menghasilkan tandatangan 1000 kali dalam sejam, autographed book dengan autopen jauh lebih murah dari hand-signed book. Selisihnya hanya sekitar USD 3 di atas hardcover tanpa tandatangan.

Tidak ada toko buku yang secara gamblang mengatakan signed copy yang dijualnya menggunakan autopen. Tetapi tidak terlalu sulit untuk memeriksanya.

Tandatangan Mitch Albom di buku Finding Chika edisi US

Saya cukup yakin penerbit buku Finding Chika edisi Amerika Serikat ini menggunakan autopen dengan berbagai versi tandatangan. Goresannya terlalu rapi tanpa bleber untuk ukuran hand-signed.

Keengganan memiliki signed copy dengan autopen ini jadi ladang bisnis bagi toko buku seperti Premiere Collectibles. Ia menerbitkan sertifikat digital yang menyatakan bahwa buku tersebut ditandatangani dengan tangan alias hand-signed.

Hand-signed book Kristina Kuzmic untuk buku Hold On, But Hold Still yang dijual Premiere Collectibles

Dengan modal selembar sertifikat keaslian ini, Premiere Collectibles mampu menjual buku bertandatangan dengan harga jauh di atas toko buku biasa.

5. Tandatangan Digital

Saya baru tahu ada buku dengan tandatangan digital baru-baru ini. Itu pun tidak sengaja, karena saya beli (bukan prapesan) buku Mantra Orang Jawa cetakan perdana di sebuah toko buku online.

Tandatangan digital Sapardi Djoko Damono dalam cetakan pertama Mantra Orang Jawa

Entah kenapa Gramedia selaku penerbit membiarkan tandatangan digital ini dibiarkan penuh coretan. Tetapi saya suka coretan-coretan ini. Yang saya nggak sreg hanya format digitalnya. Entah mana yang lebih baik, buku bertandatangan digital atau tidak bertandatangan sama sekali.

Mungkin bagi saya lebih baik tidak bertandatangan sama sekali. Jadi semacam memberi ruang untuk berburu tandatangan langsung ke Eyang Sapardi lagi. Hehehe…

Itu tadi 5 jenis tandatangan dalam autographed book. Mana yang paling kamu suka?

EXPLAINED: Do Javanese people go barefooted often?

Javanese and most Indonesians go barefoot quite frequently, but that depends. The closer we are to the city, the less frequent we go barefoot.

In the house

What we all do similarly is most of us are barefoot in the house. Even when we live abroad where the floor is covered by carpet, we prefer to walk barefoot, or at least we change our shoes to in-house slippers.

Barefoot in a four-star hotel, despite they provide a pair of nice slippers

It is almost like Japanese. We have a shoe rack near the door, and leave everything from outside there. Be it shoes, umbrella, jacket, etc. whatever we wear outdoor it’d be better to leave it at the door.

If you ask me why, probably it’s because of the nature of Indonesia with its humidity, fertile soils, and dust. Cultural wise, being barefoot in the house means you leave bad things from outside right in front of the door. You don’t bring any dirt into the home.

By being barefoot, we are more sensitive to the cleanliness and the texture of the floor, or the soils we step on. That’s the reason why we mop the house every day. Even some people clean several times a day.

Outdoor barefoot

I think nowadays fewer people go barefoot out of the house. But still, we don’t wear shoes as frequently as Western. We like wearing sandals a lot. Most of us have a pair of shoes, but we have more than a couple of sandals.

We have sandals for going to the mosque, sandals for the loo, sandals for hanging out, sandals for lyfe!

Joger Bali Sandals for a casual hangout

It is essential to remember which sandal for a mosque, which one for the bathroom, cuz you can’t swap.

Typical personal sandals for going to a mosque. Usually they’re stolen in Fridays.

Sandals for loo should stay in the loo! If the loo doesn’t have sandals, always remember to wash your foot before leaving the loo. That’s why most of the Javanese bathroom is a typical wet bathroom, not the dry one.

Spiderman sandals for kids


Some people might go barefoot for morning/evening walk, especially elder Javanese. My parents still doing this for foot reflection. It increases our foot-palm sensitivity to nature, let alone the “massage” done by the stone we step on somehow make your life longer.

Barefoot at Foot Massage Park.

Javanese believes most of our body parts are controlled by the nerves in foot palm. Hence they like to walk on sharp pebbles to maintain the health. In Foot Massage Parks, the pebble sharpness usually well arranged from the easier (blunt, round, bigger) to the most difficult one. If you are healthy, they say, you can bear any kind of pebble without pain.

Some of us might also go barefoot in the rice field or in the garden. Actually, it depends on the weather. In the wet season, we might go barefoot. You don’t want your hundred dollars Nike Jordan get stuck and gone sucked by the mud, do you?

In the dry season, we wear sandals. Again, it should be the sandal for a garden, not the one from the loo.

Hari ke-38 Social Blah Blah Blah

The six-feet rule

Sebetulnya saya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi krisis ini sungguh nyata.

Wardiman, tukang ojek difabel langganan saya dulu, sekarang tiap malam kirim WhatsApp. Dia selalu tanya, besok saya mau makan apa.

Perhatian banget ya..

“Golek arem-arem ayu ning kene ki nandi yo?” jawab saya. Cari arem-arem cantik di sini tuh di mana ya?

Katanya, “Wis ora susah digoleki. Sampeyan sarapan jam piro, sesuk tak terne ngomah.”

Dan betul, keesokan paginya tepat jam 6 Wardiman sudah di depan rumah. Dia tidak hanya mengantar arem-arem, tetapi juga curhat tipis-tipis.

Topiknya tak jauh-jauh tentang pemerintah pusat dan pemerintah di rumahnya sendiri.

“Istriku tuh patuh banget sama pemerintah Mbak. Aku nggak boleh deket-deket dia sekarang. Malah pernah pulang ngojek aku disuruh tidur di luar rumah,” katanya.

“Lho kok sampai di luar rumah? Kan anjuran pemerintah cuma jaga jarak fisik dan bertahan di dalam rumah,” jawab saya.

“Lha iyo to. Kata istriku biar nggak ketularan Corona kita harus Long Distance.”

Sebentar, kayak ada yang keliru. Tapi apa ya?

Sepertinya pemerintah di rumahnya punya policy yang sedikit berbeda dengan pemerintah pusat..