Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku

Begini buku tersebut dimula:

This story is about a lot of things, but mostly about idiots. So it needs saying from the outset that it’s always very easy to declare that other people are idiots, but only if you forget how idiotically difficult being human is.

“Ini cerita tentang banyak hal, tapi kebanyakan tentang orang-orang idiot. Jadi perlu dikatakan sejak awal bahwa sangat mudah untuk menyatakan bahwa orang lain adalah idiot, selalu, tetapi hanya jika kamu lupa betapa sulit dan idiotnya hidup menjadi manusia.”

Lanjutkan membaca “Hidup Bodohku Diselamatkan Satu Buku”

WFH Enggak?

PERCAKAPAN 2020

Aku : Gimana kantor?
Teman : WFH nih. Pusing kerja jadi 24/7.

PERCAKAPAN 2021

Aku : RT gue udah 15 orang positif. Ngantor aja apa?
Teman : Jangan, ntar kayak komplek gue. Udah 42 yang positif.

Photo by Polina Tankilevitch on Pexels.com

Tembok Ngayal

Tembok Imajinasi

Para pakar parenting pasti gemes banget lihat tembok rumah kami ini. Coretan di mana-mana, bikin rumah terkesan kumuh. Jujur, tembok-tembok ini justru bagian rumah yang paling aku suka dari rumah ini.

Kalau lihat tembok ini, aku melihat bagaimana anakku tumbuh. Waktu dia masih belajar duduk, coret-coretnya sekedar garis-garis tajam ke kanan-kiri atau atas-bawah. Coretannya panjang dan tajam, seperti garis pelampiasan lengan yang sedang belajar mengontrol tangannya sendiri. Di usia ini dia belum tahu bedanya merah dan jingga. Yang penting cerah saja. Coretan ini yang banyak dilihat di paling bawah.

Usia 1-2 tahun setelah dia bisa berdiri, belajar pegang krayon, coretannya masih random. Masih tajam, namun tak seliar coretan di bawah. Dia sudah tahu perbedaan warna. Sudah tahu merah seperti apel, hijau seperti daun, dan sebagainya. Dia belum bisa meniru bentuk benda-benda yang ditangkap matanya. Tapi sudah bisa diajak mewarnai. Jadi biasanya saya cetak gambar hitam-putih, dia warnai sesukanya. Warnanya masih bleber-bleber melewati garis, tentunya..

Usia 2,5 – 3 tahun, dia mulai bisa diajak bicara dua arah. Cenderung ngecipris. Segala ditanya, segala di-probing.

Suatu hari ayahnya menggambar pesawat di dinding ruang tamu. Gambarnya membentang setengah meter dengan tiga warna: merah untuk moncong pesawat, badannya kuning, dan ekornya biru. Anakku suka bilang itu pesawat Indomaret.

Di usia ini, Corona mulai merebak di Indonesia. Praktis kami jarang piknik, nggak naik kendaraan umum lagi. Seringkali dia ngedrel minta naik pesawat. Dia mau terbang. Berhubung pandemi betah banget di mari ya Kak, kita ajak dia naik gambar pesawat aja. Dan dia happy sekali. Lihat dia happy naik gambar pesawat itu priceless!

Belakangan dia sudah mulai paham konsep bentuk. Imajinasinya mulai terbentuk dengan konsep yang lebih matang. Dari mana aku tahu? Dia suka gambar kendaraan sambil cerita.

Foto di atas adalah gambar situasi jalan-jalan versinya.

Aku lagi bikin perahu polisi. Sirenenya kayak firework. Booo! Booo! Ini Mommy di depan nyetir perahu polisi. Ini buat duduk aku sama Ayah di belakang, lalu kita terbang..

Tentu aku probing donk, kenapa perahu terbang..

Kan jalannya macet, lalu ada earthquake, lalu tsunami tinggiiii sekali, lalu kita terbang.

Ya wes lah, lanjut Bro!

Born Cold-Blooded

Do you remember your biology teachers said mammals, including human, are warm-blooded, which means we can maintain fairly stable body temperatures despite the environmental conditions around us.

But, do you know that 2% human population in this world are actually cold-blooded? These humans are in a never-ending struggle to stay warm. We call them INTJ.

Lanjutkan membaca “Born Cold-Blooded”