Andalan

10 Fakta Kresnayana Yahya dari Lingkaran Akademisnya

Kresnayana YahyaTanggal 1 September lalu, salah satu dosen senior sekaligus pendiri Jurusan Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kresnayana Yahya, akhirnya purnatugas sebagai pegawai negeri sipil. Sebagai bentuk terima kasih, Divisi Pers Himpunan Mahasiswa Statistika ITS bersama jurusan menerbitkan buku berjudul “Sosok dan Kiprah Kresnayana Yahya: Sang Pejuang Statistika di Mata Mereka”.

Lanjutkan membaca “10 Fakta Kresnayana Yahya dari Lingkaran Akademisnya”

Clench The Bench

Can you like a person, or maybe her/his personality, but dislike the works?

That’s what I feel about THE BENCH, Meghan, The Duchess of Sussex’s first children’s book.

The Bench by Meghan

In fact, I don’t think it is a children book. It’s more of an illustrated book, in my opinion. I can’t read it to my son. The story sounds like Meghan’s expectation of her husband or to any father in the world. Fathers should be like this and that, will be like this and that.

Don’t get me wrong, I do love her writings in NYT, The Losses We Share. I also disagree with the 1-star review given at Goodreads, which mostly talking about Meghan as an individual.

Maybe my expectation to Meghan is too high for a children book written by a feminist. I’m expecting children’s point of view as it is classified as a children book. Not a mother perspective with such a high expectation to the father. And the bench.

Photo by Creative Vix on Pexels.com

Speaking of the bench, if you go to the UK, you’ll see how unique every single bench in the country. Every bench has a name and a story. Usually it has a plate with a name and a short memory about them at the top-centre of the bench.

If only Meghan take this kind of bench as a setup, it might make The Bench feels more personal and unique like every bench in the UK. But I am failing to see the emotional touch children books usually have.

However, I like the way Meghan and Christian Robinson emphasize diversity in this book. I’m also spoiled by Christian Robinson illustration. The illustrations show different non-white colours. Press usually take the white father with blond hair and army look, which might illustrate Meghan’s husband. But it is just one page of other beautiful pages and not the best page. Although I know very little about art, I like the soft strokes and the earth tonality in this book.

To close this rant, allow me to share a picture of a bench with no expectations.

The Bench, by Bengkel Cuci Mobil Sayang Anak Sayang Bapak

Tembok Ngayal

Tembok Imajinasi

Para pakar parenting pasti gemes banget lihat tembok rumah kami ini. Coretan di mana-mana, bikin rumah terkesan kumuh. Jujur, tembok-tembok ini justru bagian rumah yang paling aku suka dari rumah ini.

Kalau lihat tembok ini, aku melihat bagaimana anakku tumbuh. Waktu dia masih belajar duduk, coret-coretnya sekedar garis-garis tajam ke kanan-kiri atau atas-bawah. Coretannya panjang dan tajam, seperti garis pelampiasan lengan yang sedang belajar mengontrol tangannya sendiri. Di usia ini dia belum tahu bedanya merah dan jingga. Yang penting cerah saja. Coretan ini yang banyak dilihat di paling bawah.

Usia 1-2 tahun setelah dia bisa berdiri, belajar pegang krayon, coretannya masih random. Masih tajam, namun tak seliar coretan di bawah. Dia sudah tahu perbedaan warna. Sudah tahu merah seperti apel, hijau seperti daun, dan sebagainya. Dia belum bisa meniru bentuk benda-benda yang ditangkap matanya. Tapi sudah bisa diajak mewarnai. Jadi biasanya saya cetak gambar hitam-putih, dia warnai sesukanya. Warnanya masih bleber-bleber melewati garis, tentunya..

Usia 2,5 – 3 tahun, dia mulai bisa diajak bicara dua arah. Cenderung ngecipris. Segala ditanya, segala di-probing.

Suatu hari ayahnya menggambar pesawat di dinding ruang tamu. Gambarnya membentang setengah meter dengan tiga warna: merah untuk moncong pesawat, badannya kuning, dan ekornya biru. Anakku suka bilang itu pesawat Indomaret.

Di usia ini, Corona mulai merebak di Indonesia. Praktis kami jarang piknik, nggak naik kendaraan umum lagi. Seringkali dia ngedrel minta naik pesawat. Dia mau terbang. Berhubung pandemi betah banget di mari ya Kak, kita ajak dia naik gambar pesawat aja. Dan dia happy sekali. Lihat dia happy naik gambar pesawat itu priceless!

Belakangan dia sudah mulai paham konsep bentuk. Imajinasinya mulai terbentuk dengan konsep yang lebih matang. Dari mana aku tahu? Dia suka gambar kendaraan sambil cerita.

Foto di atas adalah gambar situasi jalan-jalan versinya.

Aku lagi bikin perahu polisi. Sirenenya kayak firework. Booo! Booo! Ini Mommy di depan nyetir perahu polisi. Ini buat duduk aku sama Ayah di belakang, lalu kita terbang..

Tentu aku probing donk, kenapa perahu terbang..

Kan jalannya macet, lalu ada earthquake, lalu tsunami tinggiiii sekali, lalu kita terbang.

Ya wes lah, lanjut Bro!

Born Cold-Blooded

Do you remember your biology teachers said mammals, including human, are warm-blooded, which means we can maintain fairly stable body temperatures despite the environmental conditions around us.

But, do you know that 2% human population in this world are actually cold-blooded? These humans are in a never-ending struggle to stay warm. We call them INTJ.

Lanjutkan membaca “Born Cold-Blooded”

Tahun yang buruk?

Photo by Yaroslav Danylchenko on Pexels.com

Barangkali keenggananku menulis Resolusi 2020 di buku harian tahun lalu adalah sebuah pertanda. Pertanda bahwa resolusi 2020 yang tercapai hanya bertahan dan beradaptasi.

Bagi banyak orang, 2020 begitu buruk. Pertumbuhan ekonomi minus, pertumbuhan virus malah surplus.

Para analis memprediksi situasi Indonesia di 2021 tidak akan lebih baik. Virus tak keurus, kalah cepat dengan diketuknya palu Omnibus.

Mudah sekali menghitung kecacatan 2020. Diawali dengan banjir besar, lalu banjir kabar duka. Hampir setiap pekan setidaknya 4, 5 kabar duka melintas di lini masa. Tak peduli tua dan muda, miskin dan kaya, semua golongan terima jatah Corona.

Apakah tahun 2020 begitu buruk?

Lanjutkan membaca “Tahun yang buruk?”